kebangkitan husain 1

TUJUAN KEBANGKITAN IMAM HUSEIN AS DI SEPANJANG TRAGEDI KARBALA’

Ada beberapa perkara yang menjadi perhatian sungguh-sungguh beliau as, yaitu : Menghidupkan nilai-nilai dan standar asli Islam, meniadakan dan menghapus bid’ah-bid’ah, memusnahkan dekadensi dan kerusakan budaya masyarakat, menegakan kalimat tauhid, memisahkan khurofat dari wajah asli Islam, membentuk masyarakat beragama dalam berbagai lapangan dan spekulasi pemikiran dan kerja.

Imam as dalam rangka mencapai tujuan-tujuan perbaikan ini menggunakan cara yang tepat yang mengantarkan pada kebahagiaan seperti yang dijalani oleh Rasulullah salalllahu alai wa aalihi wa salam dan seperti yang dijalani oleh Al-Imam Ali as.

Dengan penjelasan lain; Garis dan perjalanan Imam Husein as dalam perkara ini sedemikian sama dengan garis dan perjalanan Rasul Allah saww dan Ayah beliau Hadhrat Ali bin Abi Thalib as yang agung.

Garis penuntutan perbaikan sebagai kelanjutan dari garis penuntutan perbaikan yang ada dalam seruan Rasul Allah saww dan Imam Ali as. Imam as dengan terus-terang menerangkan tujuan beliau dalam kebangkitannya ini dengan berkata

“Kebangkitan ini dikarenakan untuk menerangkan ciri-ciri agama-Mu kepada khalayak,supaya perbaikan-Mu untuk tanah-air Islam dapat aku terapkan sehingga hamba-hamba-Mu yang teraniaya dalam cenkaraman pendzalim dapat merasakan keamanan, serta kewajiban, hukum-hukum dan sunnah-Mu yang sudah diabaikan dapat dihidupkan kembali”.

Pada tempat lain, Imam as bersabda:

“Aku tidak keluar (dari Madinnah) atas keangkuhan, dan tidak untuk bersenang-senang, dan tidak pula untuk kerusakan dan kedzaliman, tetapi aku keluar untuk menuntut perbaikan dalam ummat kakek-ku salallahu alai wa aalihi, aku hendak menjalani pengajakan kepada perkara yang layak dan pencegahan dari kemungkaran, dan menjalani perjalanan kakek dan ayah-ku Ali bin Abi Thalib”.

Dalam bagian lain, sebagai isi surat beliau untuk penduduk Bashrah demikian tertulis

“Aku telah mengutus utusan-ku kepada kalian bersama dengan surat ini, aku mengajak kalian untuk kembali kepada kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, karena sunnah Nabi telah dimatikan dan bid’ah telah dihidupkan, dan jika kalian mendengarkan perkataan-ku dan mentaati perintah-ku aku akan menunjukan jalan yang lurus menuju kebahagiaan kepada kalian”.


Ringkasnya : Perkara-perkara yang diketahui secara jelas oleh Imam Husein as adalah :

1. Pemerintah masyarakat Islam telah terang-terangan menunjukan kefasikan dan kebejatan moral mereka.

2. Nilai-nilai spritual Islam telah dilupakan.

3. Para tokoh politik dan pemikir tidak mengindahkan lagi arti budi pekerti.

4. Ukuran kedisiplinan bagi para aparat pemerintah telah hilang sama sekali, penganiayaan dan pilih kasih telah mencapai puncaknya.

5. Berbagai bid’ah telah merasuki agama, agama hanya digunakan sebagai alat untuk membekuk rakyat dan menyiapkan selera penguasa dan orang-orang bejat.

6. Agamawan dan materialis telah melupakan hari qiamat.

7. Propaganda tipu daya kemilau kehidupan duniawi bagaikan wabah penyakit yang melepuhkan lisan para pemeluk agama yang memaksa mereka menyerah pada kejadian yang berlaku dipelupuk matanya yang meluluh lantakan kebijaksanaan dan kejentelmenan para pribadi suci. Keadaan dan Cara pemerintahan Amawiyin yang demikian ini telah merajalela dan menyusup pesat kedalam lubuk masyarakat, sehingga masyarakat yang telah dibina oleh Rasulullah saww itu terpupuskan bersama sunnah dan nilai-nilai agama yang terrenggut dari ingatan mereka. Imam Husein as dengan seksama mengetahui semua kekejian dan kesesatan yang menguasai kehidupan individual masyarakat pada masa itu. Namun siapa gerangan yang akan menghadang penyimpangan ini dan untuk kali berikutnya memberikan hidayat kembali kepada mereka kejalan yang lurus?, Imam mengetahui persis orang yang paling berkelayakan untuk menjalankan perkara ini adalah dirinya sendiri.

Dalam satu pidatonya Imam as berkata:

“Wahai manusia sunggu Rasulullah telah bersabda: “Siapa yang melihat penguasa dzalim, menghalalkan bagi apa yang telah diharamkan Allah, menyalahi janji dengan Allah, menentang sunnah rasul Allah, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan perlakuan dosa dan permusuhan, sedang dia tidak mengadakan himbauan baik dengan suatu tindakan atau perkataan, maka berhak bagi Allah untuk memasukannya dalam cengkraman penguasa dzalim itu dalam keadaan hina dan sengsara, ketahuilah!, para penguasa dzalim akan memaksa mereka untuk mengikuti setan, meninggalkan ketaatan kepada Sang Maha Pengasih, kebejatan dianjurkan secara terang-terangan, batas-batas hukum Allah tidak ditegakan, harta rakyat (baitulmal) dikorupsi, keharaman-keharaman Allah dihalalkan dan sebaliknya, dan aku adalah paling layaknya orang yang akan mengadakan penentangan dan tegak berdiri menghadang didepan mereka”.

TUJUAN PERPOLITIKAN

KEBANGKITAN IMAM HUSEIN AS

A. Mengikis bid’ah dan memupuk pemikiran keimamahan:

Sesuai dengan pandangan Al-Quran bahwa kepemimpinan umat berdasarkan ketetapan Tuhan, artinya Allah swt telah menetapkan pemimpin bagi umat Islam dengan memerintahkan kepada sang Rasul saww untuk menyampaikannya dihadapanan umat yang datang dari berbagai penjuru kota kependudukan muslimin yang baru menyelesaikan penyelenggaraan ibadah Haji pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun ke-10 hijriah di suatu tempat yang disebut Ghadir-Khum:

َ

“Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan jika tidak engkau lakukan maka tiadalah engkau telah menyampaikan risalah-Nya dan Allah yang menjaga-mu dari manusia, sungguh Allah tidak akan menunjuki kaum yang kafir” -Qs.Al-Maidah/67-

Dengan penyampaian masalah keimamahan ini tersempurnakanlah agama Allah yang terakhir ini, demikian pernyataan ayat berikutnya:

“Di hari ini aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan aku telah cukupkan ni’matku atas kalian dan aku meridhoi Islam sebagai agama untuk kalian”

-Qs. Al-Maidah/3-

Pandangan Al-Quran ini diseketika wafat Rasulullah saww, sekelompok kaum muslimin berkumpul di satu tempat yang disebut “Saqifah bani Sa’adah” sebagai langkah awal gerakan penyimpangan mereka, karena perkumpulan yang mereka lakukan ini adalah untuk mengadakan pemilihan kepemimpinan setelah Rasulullah saww yang masalahnya sudah ditetapkan oleh Allah swt dalam undang-undang Al-Quran sebagai masalah paten agama, namun mereka telah merubahnya menjadi masalah sektarian yang dibentuk melalui pemilihan anggota kelompok sebagai satu cara dalam tatanan hidup bermasyarakat, tampa mengindahkan pandangan Al-Quran.

Imam Ali as demi menjaga kestabilan kondisi umat Islam sebagai pohon yang baru disemaikan berbuah supaya tidak kering dari akar sehingga masyarakat Islam tidak lemah berhadapan dengan musuh luar dan umat tidak terkeping-keping dalam kancah perpecahan, pada waktu itu beliau tidak bereaksi untuk mengadakan penentangan langsung diseketika kejadian, namun kondisi penyimpangan ini beliau tahan dengan menanggung kepedihan sakit bagai disebabkan sekatan debu tertaburi dikornia matanya dan kepingan tulang terhambat melintang ditengah tenggorokan. Penyimpangan ini berjalan hingga tiga priode pertama kekhalifahan; Abu Bakar, Umar dan Utsman, yang hari demi harinya memangku penyimpangan yang semakin meraja-lela sehinggalah terjadi desakan umat meluap-luap memohon kepada Imam Ali as untuk memegang tampuk kepemimpinan yang kemudian diterima oleh beliau as.

Imam Ali as sepanjang kepemimpinannya menghendaki pengembalian kondisi umat yang sudah dilanda kerusakan ini kepada kondisi awal pembentukannya dan rute-rute penyimpangan dihapus sehingga masyarakat akan ditunjukan kembali kejalan yang lurus, namun sangat disayangkan beliau tak dapat melakukannya karena sepanjang priode kepemimpinan beliau as dilandai oleh mushibat perang berkali-kali yang diakhiri oleh kesyahidannya as. Setelah Imam Ali as pun, peperangan sengit terjadi antara Imam Hasan as dan Muawiah yang diakhiri oleh gencatan senjata berdamai yang terpaksa dilakukan oleh Imam Hasan as.

Dalam piagam perdamaian yang dibubuhi tanda-tangan Imam Hasan as dan Muawiah memuat beberapa masalah diantaranya dalam butiran kedua berbunyi:

“Tampuk kepemimpinan setelah Muawiah adalah diserahkan kepada Hasan, dan jika terjadi masalah yang menghalanginya untuk memegang tampuk kepemimpinan maka diserahkan kepada Husein, dan Muawiah tidak berhak menentukan orang lain sebagai pengganti kedudukannya”.

Muawiah pada titer akhir piagam tersebut membubuhi kalimat bersumpah dengan Allah bahwa perjanjian ini akan dijalankannya.

Muawiah sebelum kematiannya dengan tampa mengindahkan sama sekali butiran-butiran piagam perjanjiannya itu, bid’ah dan penyimpangan kedua dalam dunia Islam digemburi olehnya, yang semestinya ia harus menerapkan stetmen piagam perdamaian dan undang-undang Allah swt dimana ia semestinya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Imam Husein as, namun nyatanya ia mengalihkan sistim kenegaraan dalam Islam dalam bentuk sistim keraja-an yang terpekur dalam putaran anak-pinak waris-mewarisi, dan Yazid anaknya secara resmi diperkenalkannya kepada rakyat menjadi putra mahkota kerajaan yang memegang tampuk kekhalifahan kaum muslimin setelah kematiannya.

Dengan demikian politik kenegaraan telah merengkang jauh dari sistim keimamahan dan Muawiah telah meninggalkan bid’ah yang tidak mempunyai tandingan sebelumnya dalam dunia Islam.

Salah satu tujuan Imam Husein as dalam gerakan kebangkitan Asyura’nya yang agung adalah mengikis bid’ah yang digemburkan oleh Muawiah; yakni mengadakan penentangan terhadap ketidak pedulian Muawiah terhadap keimamahan Imam Husein as dan peresmiannya terhadap sistim keraja-an anak-pinak waris-mewarisi sebagai sistim kenegaraan bagi umat Islam.

Muawiah telah memberi kekuasaan untuk menentukan nasib umat kepada orang yang sama sekali tidak punya kelayakan untuk mengembani tugas ini.

Dr.Syahid Muthahari berkaitan dengan masalah ini telah menulis demikian :

“Ada Dua kerusakan berbaiat dengan Yazid yang tidak berlaku sekalipun berkenaan dengan Muawiah jika Imam Husein as melakukannya; Satu berbaiat dengan Yazid berarti beliau menyokong keraja-an anak-pinak waris mewarisi yakni, masalah kelayakan kepemimpinan secara perorangan tidak diutarakan lagi namun sistim pewarisan anak-pinak keraja-an yang akan diakui.

Kerusakan kedua berkaitan dengan kepribadian Yazid sendiri yang menyebabkan suasana dan kondisi masa itu terbedakan dengan masa-masa yang lain, dia tidak hanya secara pribadi rusak-bejat, bahkan dia telah terang-terangan dengan kefasikan dan kebejatannya yang sama sekali tidak mempunyai kelayakan positif”.

Imam Khumaini (ra) juga menyebutkan ; mengikis bid’ah sebagai salah satu tujuan dari kebangkitan Imam Husein as, Hamid Inayat seorang penulis berdasarkan kitab wilayatul-faqih Imam Khumaini ra demikian menulis :

“Kebangkitan Imam Husein as bertujuan mencegah dari pengasasan sistim kesultanan dan pengalihan kekuasaan secara anak-pinak waris-mewarisi yang kemudian berakhir dengan kesyahidannya as, karena para anbia’ alaihimusaalam- pun telah mencegah berkaitan dengan keberlanjutan pengganti anak-pinak waris-mewarisi sebagaimana yang berlaku pada Yazid dengan pengakuan kesultanannya, demikian Imam Husein telah mengadakan penghimbauan dan menyerukan kepada seluruh kaum muslimin untuk bergerak menentangnya”.

Imam Khumaini ra pada tempat lain berkata :

“Penghulu para syahid, dengan segala pengorbanan yang dilakukannya ditambah lagi kekalahan yang berlaku keatas mereka, dan tidak lama setelah itu rakyat menjadi sadar terhadap mushibat besar telah ditimpakan, yang dari mushibat itulah menyebabkan kocar-kacirnya keadaan bani Umayah dan merapuhnya asas-asas bid’ah”.

Dengan menyimak apa yang sudah dibahas, dapatlah diketahui pencetus kedua bid’ah dalam Islam adalah Muawiah, disini timbul pertanyaan, Siapa gerangan yang harus mengikis bid’ah ini?, dan mempunyai kelayakan untuk mengeringkan akar-akarnya sembari menghidupkan sunnah Rasulullah saww untuk menjadi hakim pada kali berikutnya kembali?. Imam Husein as mengetahui, dirinyalah yang mempunyai kelayakan untuk melakukan hal ini, oleh karena itu beliau as mengambil azam untuk menghapus fenomena buruk ini dari lembaran peradaban jaman, walau ia akan membayarnya dengan harga yang besar untuk mencapai tujuan ini atau sekalipun jiwanya akan direnggut syahid; sebagaimana sabda beliau yang sudah disebutkan diatas.

“Aku telah mengutus utusan-ku kepada kalian bersama dengan surat ini, aku mengajak kalian untuk kembali kepada kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, karena sunnah Nabi telah dimatikan dan bid’ah telah dihidupkan, dan jika kalian mendengarkan perkataan-ku dan mentaati perintah-ku aku akan menunjukan jalan yang lurus menuju kebahagiaan kepada kalian”.

Demikian dari penjelasan Imam Husein as dapat dipahami Mengikis Bid’ah adalah tujuan jangka pendek beliau as artinya dalam rentangan waktu berjalannya kebangkitan Asyuro’ diharapkannya dapat segera dicapai, namun Imam menganggap perjuangannya belum lagi berakhir dengan tercapainya tujuan mencabut akar-akar bid’ah itu, bahkan beliau menganggap perjuangannya masih berlanjut sehingga berdirinya negara Islam.

B. Pembentukan Negara:

Salah satu tujuan Perpolitikan Imam Husein as adalah membentuk negara Islam, beliau dengan terus-terang bersabda :

“Keluarga Abu Sofian tidak mempunyai kelayakan untuk memegang kendali pucuk kepemipinan negara Islam, aku telah mendengar Rasulullah saww telah bersabda:

“Khilafat diharamkan atas keturunan abu Sofian, jika suatu hari kalian melihat Muawiah menaiki mimbarku, maka tariklah ia turun, tetapi rakyat Madinah telah melihat Muawiah menaiki mimbar Rasulullah saww namun mereka tidak menariknya untuk turun, maka Allah menimpakan keatas mereka Yazid yang fasik”.

Imam Husein as sebanding dengan keteguhannya mengklaim ketidak layakan keluarga Abu Sofian untuk memegang tampuk kekhilafahan, beliau juga menekankan klaim kelayakan dirinya untuk perkara kepemimpinan dan khilafah, sekalipun perkara ini akan hanya menjadi ajang persiapan dan pemberi ilham untuk pembentukan sebuah negara bagi generasi-generasi kaum muslimin selanjutnya.

Dengan menyimak sejarah kebangkitan besar ini, menjadi jelas bahwa Imam Husein as dalam berbagai tempat yang dilihatnya sesui untuk mengumumkannya kepada kaum muslimin terhadap kelayakan dirinya untuk membentuk pemerintahan, dan mengajak rakyat untuk menerima kepemimpinan negara yang adil.

Demikian disini dapat ditunjukan sebagian sabda-sabda beliau yang berkenaan dengan kesukaan beliau untuk mempentuk sebuah negara.

1. Imam as dalam sebuah pernyataan kelayakan dirinya memegang tampuk khilafat yang diutarakannya kepada gubernur Madinah berkata:

“Yang mana diantara kita yang lebih layak memegang khilafah dan menerima baiat?”

2. Imam ketika berada di rumah Syaraf menyampaikan sebuah pidatonya demikian berkata:

ِ

“Kami adalah ahlul-bait Muhammad lebih utama bertanggung jawab atas urusan ini dari pada mereka yang mengaku-ngaku itu (Bani Umayah) yang secara tidak berhak mengaku menduduki kedudukan ini dengan senantiasanya mereka menempuh jalan kedzaliman, kesesatan dan bermusuhan dengan Allah”.

3. Imam as dalam mengutarakan doanya untuk penduduk Kufah yang sama-sama berazam menolong Imam supaya harapan mereka mendirikan negara dapat tercapai demikian berbunyi:

“Telah sampai kepadaku berita tentang pengakuan kalian untuk berkumpul dan kebersamaan kalian untuk menolong kami dan penuntutan kalian bagi hak kami, melalui surat Muslim Bin Aqil, aku meminta kepada Allah supaya masa depan kita semua disampaikannya dengan baik dan berkenaan dengan kebersatuan dan kesepakatan kalian supaya diberinya pahala yang besar”.

TUJUAN KEBANGKITAN IMAM HUSEIN AS DI SEPANJANG TRAGEDI KARBALA’

Sambungan pembahasan TUJUAN PERPOLITIKAN KEBANGKITAN IMAM HUSEIN AS

B. Pembentukan Negara :

Imam Husein as dalam sepucuk suratnya untuk penduduk Bashrah demikian menulis:

“Kami mengetahui yang paling berkelayakan mengemban masalah kenegaraan dan kepemimpinan adalah kami”

“Dan kami adalah ahlinya, para walinya, dan para pewarisnya yang paling berhak terhadap kedudukannya ditengah manusia”.

Demikian dalam kumpulan ucapan-ucapan Imam Husein as berkenaan dengan urusan perpolitikan dalam kebangkitannya dapat disimpulkan bahwa Imam Husein as mengetahui persis bahwa dirinyalah yang paling berkelayakan dan memiliki syarat menyeluruh sebagai seorang pemimpin ummat dan kesiapan dirinya untuk membentuk negara demikian telah diumumkannya. Selain itu dapat kita camkan salah satu tujuan kebangkitan Imam Husein adalah mendirikan negara Islam, juga menjadi kesimpulan pendapat dari kebanyakan para penelaah sejarah kebangkitan Al-Imam as, seperti;

Hadhrat Imam Khumaini ra demikian berkata:

“Mereka mengira bahwa Penghulu para Syuhada as tidak datang untuk menegakan negara, padahal tidak!, Imam Husein as datang untuk menegakan negara Islam, kepemimpinan negara selayaknya harus diemban oleh orang seperti sang penghulu para pemuda surga ini, atau semestinya diemban oleh para pengikut setia beliau, Imam as telah mengutus Muslim Bin Aqil untuk mengajak rakyat berbaiat mendirikan negara Islam dan meruntuhkan pemerintahan negara yang bobrok itu”.

Hadhrat Imam Khumaini dalam ucapannya yang lain berkata:

“Imam Husein as telah datang dengan kehendak untuk mengambil alih kepemimpinan negara”.

Tetapi perlu diingat dan dicamkan betul-betul bahwa menurut pandangan Imam Husein as tujuan mengambil alih kepemimpinan negara bukan sebagai tujuan akhir kebangkitannya. Akan tetapi hanya sebagai tujuan partikuler jangka panjang yang bersifat alat untuk menuju tujuan akhir.

Demikian juga telah dikatakan bahwa tujuan Imam Husein as untuk membentuk negara, bukan berarti Imam as dalam kebangkitannya akan berhasil mencapai tujuannya itu, akan tetapi yang dimaksudkannya adalah, baik pembentukan negara Islam di keadaan masa kehadirannya atau kalau tidak dapat dilakukannya maka beliau mencanangkan kesiapan lahan pembentukan negara untuk priode panjang masa depan Islam dan kaum muslimin dalam masa berikutnya, demikian Hadhrat Imam Khumaini berkata:

“Al-Imam Husein as karena memikirkan masa depan Islam dan kaum muslimin beliau menempuh perjuangan suci dan pengorbanan yang agung dikalangan umat manusia yang pada akhirnya mengantarkan sistim perpolitikan dan sosialnya menjadi sistim yang berpengaruh dalam masyarakat kita yaitu penentangan pada kedzaliman dan berkorban untuk perbaikan”.

TUJUAN MENGGAPAI KERIDOAN

TUHAN

Salah satu tujuan penting lain Imam Husein as adalah keridoan Allah swt; Imam Husein dengan tidak melihat tujuan-tujuan lain yang seiring dengan perhatiannya pada penyimpangan yang melanda para aparat pemerintah berkenaan dengan hukum dan undang-undang Islam, sehingga masyarakat Islam terseret dari jalan yang benar dan lurus menuju jalan sesat.

Imam Husein as mengetahui pasti bahwa Allah swt meridoinya dalam menjalankan kebangkitan mati-matiannya mengahadang arus kesesatan mereka itu. Imam as mengetahui persis tugas dan kewajibanya berkenaan dengan tindakan yang memuat keridoan Allah swt untuk dijalankannya dalam kondisi dan suasana seperti yang sedang berlaku dijaman kehidupannya, berkenaan dengan hal ini Imam as bersabda:

ِ

“Tidak pernah terhitung dari suatu ketentuan takdir yang didalamnya tertulis keridoan Allah kecuali didapati juga disana ada keridoan kami Ahlul”

Apa yang jelas sebagai yang tidak dapat disangkal dalam kebangkitan Al-Imam as sejak dari awal gerakan hingga akhirnya yang secara sempurna dapat dinalarkan dan dirasakan oleh kita yang terdapat dalam diri satu-demi satu dari persembahan pengorbanan yang dilakukan oleh para pahlawan Asyuro’ terlebih bagi pribadi Al-Imam as sendiri, yaitu keridoan Tuhan mengejewantah dalam putaran tindakan-tindakan mereka as.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: