MODEL GERAKAN KEMANUSIAAN (1)

Model dan corak suatu gerakan kemanusiaan dibangun oleh nilai-nilai yang dimuat olehnya, nilai-nilai itu selain menjadi motivasi sekaligus ia akan menjadi pembentuk piramida pergerakan, karena nilai-nilai memiliki derajat persis seperti derajat perwujudan yang dibahas berupa satu topik dalam filsafat  yaitu:“Fį-Annal-Wujûda-haqįqatun-wâhidatun-musyakkikatun” (sesunggunya keberadaan itu berhakekat satu dalam derajat yang beraneka). Demikian juga nilai-nilai berhakekat satu dalam keanekaan derajatnya kalau kita simbulkan nilai-nilai itu dalam bentuk bilangan maka akan kita dapati ada nilai satu, dua tiga dst, kalau kita cermat menyimak tingkatan bilangan-bilangan itu maka ternyata keanekaan bilangan itu hanya karena adanya hakekat satu, kalau tidak ada satu maka pasti tidak terwujud bilangan dua, tiga dst.  Karena gerakan dibentuk oleh nilai-nilai, walaupun ia mempunyai satu hakekat yaitu gerak itu sendiri (yang mempunyai makna yang berlawanan dengan makna diam) maka keanekaan model dan corak gerakan kemanusiaan seiring dengan tingkatan nilai yang  membentuknya, dari itu kita menyaksikan berbagai model dan bentuk pergerakan. Dari gerakan yang bersekup lokal dan spektakuler hingga gerakan semerata alam (globalisasi gerakan).  Berbagai macam gerakan dapat kita saksikan di lembaran kehidupan umat manusia di muka bumi ini sepanjang sejarah hingga hari ini baik bersifat revolusioner atau bersifat evolusioner seperti gerakan mempertahankan hidup, gerakan menaikan martabat pri-kemanusiaan dan peradaban, gerakan reformasi, pembebasan, gerakan peralihan seperti gerakan renaisance, gerakan penuntutan hak seperti  gerakan feminisme, persamaan gender, gerakan membendung krisis moral dan norma susila, gerakan menuntut keadilan, gerakan para buruh, unjuk rasa dan demokratisasi, gerakan pegawai negara, gerakan mahasiswa dan pemuda, gerakan wanita Indonesia,… dst sampai gerakan yang bersifat Arogan gerakan menguasai orang lain, perbudakan, penindasan, kudeta, gerakan eksploitasi, ekspansi, westernisasi, kristianisasi,…hingga gerakan terorisme dan pembinasaan. menyadari nilai mempunyai derajat yang serupa dengan dua garis piramid yang saling bertolak-belakang yaitu dalam kategore baik dan buruk atau memiliki dua jenis sifat sakral dan kotor, yang kedua sifat ini akan membias mengikuti frekwensi kuat dan lemahnya muatan kesakralan dan kekotorannya yang termuai dalam setiap tingkat piramida nilai tsb. Maka pergerakanpun akan bernuansa demikian. 

Nilai-nilai selain ia memotivasi dan memodeli pergerakan ia juga akan menjadi pengantar kepada tujuan pergerakan. Maka kalau gerakan itu dibentuk oleh nilai-nilai sakral maka gerakan itu akan berbentuk dan bertujuan sakral,  sebaliknya kalau gerakan itu dibentuk oleh nilai kotor, hina dan durjana maka gerakan itu akan berbentuk dan bertujuan kotor, hina dan durjana Keterpautan nilai bagi suatu gerakan terjadi dalam tiga hal pokok berikut : 

1.Landasan/Aggaran Dasar Gerakan atau Pandangan Dunia pergerakan.     

2.Anggaran Rumah-tangga gerakanatau Metodologi Pergerakan

3.Tujuan pergerakan. 

Ketiga hal ini, bisa jadi sakral seiring dengan kesakralan nilai-nilai yang membentuknya atau bisa jadi hanya berkisar dalam nilai itu sendiri atau corak gerak itulah yang menjadi tujuannya tampa dapat membidikan nilai-nilai sakral tsb kepada pencapaian satu titik yang menjadi muara seluruh nilai sakral yaitu Allah SWT, dengan demikian gerakan itu hanya berputar dalam dimensi kemanusiaan dengan nilai materil bahkan kebinatangan sebagai ujung pemisah dari nilai-nilai mulia ketuhanan, karena ia termuai dalam nilai kotor dan kedurjanaan bagi manusia. Kedua nya dapat kita ajukan contoh: 

Contoh pertama: Keimanan kepada Allah yang Esa atau ringkasnya beriman kepada usul agama sebagai pandangan dunia suatu gerakan dan aplikasi ahkam yang sesuai dengan pandangan dunia tadi sebagai ideologi gerakan menjadi metodologi suatu pergerakan dalam mencapai tujuannya (anggaran dasar, anggaran RT dan Tujuan semuanya sakral). 

Contoh kedua: Para penganut pandangan dunia material, landasan gerakan mereka adalah siapa yang kuat (terutama ekonomi, militer dan sistim pengaturan maka dialah yang berkuasa, persis yang terjadi dalam kehidupan satwa liar dalam hutan rimba, metodologi yang dipakai adalah kekuatan fisik, propoganda dan pendanaan. (Anggaran Dasar, Anggaran RT dan Tujuan gerakan semuanya kotor, menipu, bengis dan biadab dan dalam dunia kini kebanyakan corak gerakan kotor yang sedang menjadi hakim akibat pengaruh propoganda yang meluas dari cukong-cukong zeonisme dan kapitalisme (pengemban utama nilai kotor dan durjana dalam dunia moderen sekarang ini), anehnya kaum musliminpun kebanyakan tergiring oleh gerakan mereka seakan Islam nihil dari menyuguhkan alternatif gerakan yang baik dan suci). 

PERBEDAAN NILAI GERAKAN 

Garis besar perbedaan nilai gerakan kemanusiaan dapat kita bentangkan sebagai dua corak gerakan manusia pada umumnya, ditinjau dari asas pergerakannya, satu Islami dan yang lain non Islami. Sudah pasti gerakan non Islami, mengacu dari dan pada berbagai kepentingan material, baik secara pribadi atau kelompok bahkan dalam kehidupan bernegara.  

Dari itu sejak Tuhan mengorbitkan Islam sebagai satu-satunya Agama yang diterima di sisi-Nya, Maka acuan gerak hidup manusia menjadi semakin jelas memiliki dua kubu pergerakan; satu dilandasi oleh ajaran Islam, satu lagi dilandasi oleh non Islam, atau dengan istilah lain “Hak” dan “Batil”, “Hak pasti berasumsi satu saja sedang “batil” beragam adanya, persis gambaran garis lurus sebagai simbolik dari “Al-Hak” yang hanya mempunyai satu alur. 

Ungkapan Titian Mustaqim sebagai titian Islam yang kita umat Islam senantiasa berdoa supaya Allah Ta’ala senantiasa menghidayati kita untuk tetap berada di alur titian Mustaqim ini, dalam ungkapan “Ihdina-Sirothal-Mustaqim!”, ungkapan itu termaktub jelas dan masyhur  dalam  literatur Islam, mengacu pada pengertian untuk kita tetap berada dalam gerakan kehidupan yang berasas Islam, dan Islam identek dengan Al-Hak/kebenaran, “Hak” bersifat suci serta kekal adanya sedangkan batil identik dengan selain Islam, bersifat kotor, hina dan akan sirna. 

Kita dapat bayangkan gambaran “Hak” dan “Batil” sama seperti satu garis lurus yang di setiap ruasnya ditarik goresan bengkok kearah kanan dan kiri-nya, sehingga kita menyaksikan jumlah garis bengkok yang berbilang yang menunjukan bahwa kebatilan itu banyak adanya,  demikian yang telah diiyaratkan oleh Nabi besar Islam saww sendiri dalam menggambarkan kebenaran Islam dan kebatilan selainnya, ketika bersama para sahabat, beliau menggores satu garis lurus dan memperkenalkannya kepada mereka bahwa Islam bak garis lurus yang hanya mempunyai satu alur saja dengan memiliki ruas yang majemuk yang membentuk keutuhan dan kesempurnaan sebuah agama akhiru-zaman (ruas garis lurus itu simbolik dari aspek kehidupan manusia yang majemuk), lalu beliau saww menarik goresan-goresan bengkok dari setiap ruas garis lurus tadi kearah kanan dan kiri dengan jumlah yang banyak dan bersabda: “Demikianlah kebatilan akan keluar dari setiap ruas alur lurus Islam membentuk alur penyimpangan yang beraneka”. Tetapi sepeninggal Nabi Besar Muhammad saww Umat Islam dalam dilema untuk mendeteksi kebenaran Islam, sejumlah besar dari mereka telah tergilas oleh kebatilan yang beragam, buktinya mereka masing-masing mengklaim diri benar tetapi dalam asas yang berbeda, sedang Nabi saww telah mengajarkan bahwa kebenaran hanya ada satu, ia tidak akan berbilang, kalau ia berbilang ketahuilah ia dalam dilema ketakjelasan atas satu kebenaran, kalau dibiarkan kondisi dilema itu berada dalam diri umat, itu berarti umat sedang terpekur dalam kebatilan.

Oleh karena itu menjadi aneh kalau semua aliran dalam tubuh umat Islam mengkalaim diri sebagai kebenaran sedang mereka memiliki asas yang berbeda-beda, bukankan kebenaran hanya ada satu, kenapa sepeningal Nabi Besar Islam saww kebenaran Islam bisa menjadi banyak, hal ini semestinya memunculkan rasa curiga kepada setiap muslim untuk mencurigai sejarah Islam sepeninggal Nabi Besar Muhammad saww. Mungkin ada pemanipulasian kebenaran Islam yang terjadi sepanjang sejarah selepas kepergian Ar-Rasul saww?.  

Dan umat Islam perlu menilik dan mencermati dengan teliti dan seksama untuk mendapatkan nilai murni Islam, apatah lagi dilema umat Islam sepeninggal Ar-Rasul saww selain telah terjadi pemanipulasian hak dari hari pertama mangkatnya Sang Rasul saww hingga berkelanjutan abad demi abad, ditambah lagi oleh dilema masa kini yang muncul dalam bentuk gerakan-gerakan yang disengajakan untuk mengkelabui kebenaran Islam yang dicetuskan oleh kelompok-kelompok anti Islam seperti faham-faham yang digelindingkan oleh aliran materialisme, sekularisme,  kapitalisme, leberalisme, feminisme, sosialisme, dan isme-isme seterusnya yang mengusung nilai-nilai ifrath (melampaui batas-batas hukum kemanusiaan) dan Tafrith (terperosok dalam jurang keterpurukan nilai kemanusian). 

Tetapi gerakan yang mengemban nilai-nilai Islam selain memperhitungkan aset materialnya, namun yg menjadi tiang penegaknya adalah aset spritualnya, walau terkadang aset materil dapat disiapkan menjadi tumbal nilai spritual, yang diyakini atau diperkirakan menjadi tujuan yang akan dicapai dengan menjaga stamina berimbang dalam segala aspek gerakannya. 

Asas ini nampak jelas dalam gerakan Insan-insan mulia Islam. Paling mudah untuk kita mengambil contoh karena masih hangat dalam catatan sejarah abad kedua puluh adalah “gerakan revolusioner Al-Imam khumaini quddisa sirruhu zakiah sehingga pendirian Republik Islam Iran” yang masih kita saksikan pendiriannya sampai detik ini, walaupun dikepung oleh srigala-srigala buas cukong-cukong zeonesme dan kapitalisme dunia dan kebodohan wahabisme.  

Gerakan beliau berakar dari agama suci Islam yang bermuara langsung dari rumah kenabian Ilahi, mengemban nilai-nilai suci Tuhan  sebagai pengejewantahan gerakan insan-insan mulia sebelumnya, lebih khusus sebagai estafet gerakan para manusia suci Tuhan dari Ahlul-Bait Nabi Besar Islam sendiri, kekokohan gerakan ini patut untuk dikaji kembali demi memperjelas dua kategore gerakan kemanusiaan yang pernah ada, supaya pribadi-pribadi muslim yang lain, yang meletakkan dirinya sebagai penggerak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mampu memastikan langkah perjuangannya kearah mana ia hendak bergerak.  Pada pembahasan selanjutnya kita akan mengkaji pola perjuangan Islami dan perbandingannya dengan pola gerakan yang berasas bukan Islam. InsyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: