ANALISA SATU KATA DALAM SATU KISAH

Bunda para maksumin as adalah pemilik akidah suci kepada Tuhan Yang Maha Esa1.  On Mei 14, 2007 at 8:32 am Kian Santang Said: Assalamu ‘alaiku m wr. wb.
Alhamdulillah akhirnya artikel yang saya cari ada di sini.
Neng, punten seja tumaros.
Kalau tidak salah ada hadis yang mengatakan ruh para Nabi dan para a’immah selalu tersimpan di sulbi-sulbi pria yang suci dan rahim para wanita suci, sehingga mustahil kedua orang tua Nabi musyrik. Sejauh mana konsep kesucian tersebut berlaku
untuk Imam Ali bin Husain a.s yang ibunya adalah putri Persia (Majusi ?) dan Imam al-Mahdi a.j yang ibunya -menurut riwayat di atas- pernah mengalami periode kemusyrikan ?
‘Ala Nabi wa aalihi shalawat.

2.     Muslimah:

Tarimakasih sebelumnya atas segala perhatiannya.Secara ringkas tentang masalah orang-tua para nabi/rasul dan para imam suci. Selain adanya beberapa teks hadis, jika ditilik dari ayat yang berbunyi: “(wa taqollubaka fi sajidiin) Dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud” (QS as-Syu’ara: 219) maka dapat diambil kesimpulan bahwa ayah dan ibu seorang nabi/rasul haruslah seorang yang monoteis (ahli tauhid) taat, minim mereka adalah orang-orang yang telah sampai pada derajat waliyullah (kekasih Allah) ketika embrio calon bayi yang akan menjadi nabi/rasul itu muncul. Dan berdasarkan hadis “al-Manzilah” maka kaedah inipun juga dapat ditetapkan dan berlaku pula untuk imam suci Ahlul Bayt as. Sebagaimana secara kedokteran juga telah dtetapkan bahwa seorang anak (embrio bayi) banyak dipengaruhi oleh ayah ketimbang ibunya. Walau ibu -pada kadar tertentu- juga memiliki pengaruh pada bayinya. Atas asar itu pula maka dalam Islam seorang anak lebih dinisbahkan kepada sang ayah ketimbang sang ibu, dari sisi pertalian silsilah genetikanya. Dan atas dasar itu pula maka dalam kasus syarat keutamaan ayah seorang nabi/rasul dan imam lebih dititikberatkan kepada sang ayah ketimbang sang ibu, minimal derajat spiritualnya sama antara keduanya (seperti kasus antara pasangan Fathimah-Ali as), kalau tidak seorang ayah lebih tinggi dari ibunya dari tingkat kedekatan kepada Allah swt (pada kasus para nabi/rasul dan para imam Ahlul Bayt lainnya). Ini maksud dari kafa’ah (persesuaian) dalam masalah tingkat spiritual dalam pernikahan. Dari penjelasan singkat di atas maka tidak disyaratkan bagi ibu seorang nabi, rasul ataupun imam harus muslimah (memeluk agama Islam) dari semula. Namun para ibu itu bisa saja dahulunya beragama lain namun setelah menikah dengan sang suami ia bukan hanya telah menjadi Islam (muslimah) namun telah sampai pada derajat makrifat yang begitu tinggi sehingga rahimnya siap untuk ditempati oleh janin-janin suci, calon kekasih Ilahi. Tidak benar jika dinyatakan bahwa ibu Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as yang terkenal dengan sebutan Syahr Banu (Puteri Alam) masih beragama Majusi sewaktu menikah dengan Imam Husein bin Ali as, bahkan ketika mengandung Imam Ali Z.A as. Karena selain hal itu meniscayakan bahwa pernikahan antara lelaki muslim dengan wanita kafir – dan sebaliknya- itu (dalam pandangan fikih ajaran Ahlul Bayt Nabi) merupakan pernikahan yang tidak sah, juga ibu yang kafir akan sedikit banyak dapat mempengaruhi jiwa anak yang dikandungnya. Lantas bagaimana mungkin wanita semacam itu akan menghasilkan anak yang suci, apalagi dari pernikahan yang tidak suci pula? Apakah mungkin lelaki suci (ayah nabi,rasul dan imam) itu menikahi perempuan dengan cara yang tidak sah? Ini jawaban singkatnya.
Kurang lebihnya minta maaf.
 

 3. Salam  dari Umfat :  

Menurut apa yang saya ketahui juga bahwa Ibu-bapak para nabi dan Aimah Ahlul-Bait Nabi Besar Muhammad saww semuanya sebagai para pemeluk agama yang percaya kepada Allah yang esa (Monoteis) dan sama sekali tidak pernah menyekutukannya dengan apa-pun dan tidak pernah pula mengingkari keberadaan-Nya disepanjang hidup mereka, hal ini sebagai sebuah akidah yang benar yang dipercayai oleh bathin mereka as. Pandangan ini berdasarkan riwayat yang termaktub dalam kitab-kitab Hadist(1) dan dalam alur cerita dari sejarah kehidupan mereka yang menggambarkan kegigihan mereka dalam memegang aqidah yang benar di kalangan keluarga dan masyarakat yang memiliki aqidah bertentangan dan tercemari oleh faham kemusyrikan dan pengingkaran, tak ubahnya seperti kondisi iman yang dimiliki oleh hadhrat Asiah as sebagai seorang mu’minah pengikut agama Nabi Allah Musa as dan menyembunyikan aqidahnya dari pengetahuan Firaun dan kaum musyrikin di zamannya, demikian Al-Quran mengisahkannya (2).

Berkenaan dengan Bunda Imam zaman inipun demikian adanya, karena sebelum kedatangan Islam, Allah Swt telah mengirim Agama yang memuat ajaran yang benar yang datang dari-Nya yang dibawah oleh Para nabi suci-pilihan-Nya sendiri seperti Nabi Allah Musa as dengan agama Yahudi berkitab suci Taurat dan  nabi Allah Isa as dengan agama  Nasrani yang berkitab suci Injil (3).  Jadi penisbatan musyrik kepada Hadhrat Nargis as sebagai yang di kisahkan dari ungkapan Hadhrat Az-Zahra as yang dinukil dalam kisah ini, membuka jalan bagi kita untuk mengadakan pengkajian selanjutnya demi mengungkapkan jawaban yang tepat dari pertanyaan berikut; “Betulkah ulasan makna kata “Musyrik” dalam mimpi Hadhrat Nargis itu akan dipahami demikian adanya?”. 

Ataukah ungkapan musyrik dari Hadhrat Az-Zahra as dan hadhrat Imam Hasan Askari as kepada hadhrat Nargis itu mengisyaratkan bahwa keberadaan Hadhrat Nargis as yang masih menganut Agama suci Tuhan sebagai yang dipegang teguh oleh kaum hawariyuun (yaitu para pengikut setia Nabi Allah Isa as sebagaimana yang disinyalir oleh Allah sendiri dalam Al-Quran(4) yang di akui keimanan mereka yang kokoh dan menolong Nabi-Nya di zaman berlakunya Agama Nabi Isa as, dan salah satu keturunan hawariyuun ini adalah Bundanya Hadhrat Mahdi afs), sedang agama itu dengan kehendak Allah swt sudah dimansukhkan/sudah ditetapkan oleh Allah sendiri agama nabi Isa as  tidak berlaku lagi sejak kedatangan agama Islam yang dibawa oleh nabi Ahkiru-zaman Muhammadil-Musthofa saww ?. 

Kisah diatas kalau dicermati betul akan membiaskan pengertian demikian berdasarkan dalil-dalil berikut :1. Sejak awal Hadhrat Nargis as mengetahui dirinya dari keturunan mana beliau berasal dan mempunyai Iman kepada ajaran Nabi Allah Isa as sebagai agama yang benar yang mengajarkan tentang penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hal ini di tandai oleh ungkapan hadhrat Zahra as yang mengatakan kepadanya : “Jika kamu suka Tuhan yang Maha Tinggi dan Nabi Isa as meridhoi-mu, maka ucapkanlah dua Syahadat”, (acuan kata suka membiaskan arti pengenalan didalamnya / tak kenal maka tak sayang/suka) ini membuktikan bahwa Hadhrat Nargis telah mengenal Tuhan Yang Maha Tinggi dan mengenal pula Nabi Isa sebagai utusan yang membawa ajaran agama yang benar dari Tuhan yang Maha Esa.

2. Dengan menganalisa ungkapan hadhrat Nargis sendiri pada waktu menceritakan kisah perjodohannya yang dilakukan oleh keluarga kerajaannya : “(Ketika padri mereka mengambil injil dan membacanya, salib-salib itu roboh, kaki takhta patah sehingga jatuh keatas tanah, anak saudara raja-pun terjatuh dari takhta yang menyebabkan ia tak sadarkan diri. Warna raut wajah para padri berubah dan seluruh anggota badannya bergetar, sehingga pembesar mereka meminta supaya pekerjaan ini dibatalkan) dan dia berkata peristiwa-peristiwa nahas yang terjadi menunjukan atas kepunahan agama masihi”. 

Ini semua menandakan hadhrat Nargis mempunyai aqidah muwahid dan suci dari makna memiliki aqidah musyrik hanya saja pengantar beliau untuk menggabungkan diri dengan kaum muslimin belum mengalami sebab-sebab yang cukup karena terhalang oleh pola kehidupan sebagai keluarga kerajaan yang tidak mudah untuk mengadakan interaksi dengan orang lain secara bebas, sehingga menjadi halangan baginya untuk mengungkapkan dua kalimat syahadat Islami, sehingga beliau dengan izin Allah swt menjumpakannya dengan Hadhrat Fathimah Az-Zahro sang putri nabi Islam dan menghaturkan kesaksiannya terhadap kebenaran agama Islam yang menggantikan agama nabi Isa as. 

Menjadi muslim ditandai oleh pengakuan syahadah Islami sebagai syarat melepaskan diri dari agama selainnya dan masuk kedalam wilayah Agama Islam, baik seorang itu sebelumnya telah memiliki aqidah yang suci sebagai ajaran monoteisme para nabi terdahulu, selama ia belum mengiqrarkan secara lisan dhahir kedua kalimat syahadat Islami maka secara bahasa ia tidak keluar dari dua kondisi ketidak Islaman yaitu dikategorikan musyrik atau kafir, kategori kafir tidak dapat diatributkan kepada Hadhrat Nargis karena kejelasan Iman yang dimilikinya kepada Tuhan Yang Maha Tinggi berdasarkan Agama Nabi Allah Isa as, demikian juga atribut musyrik secara Istilah Islami yang mengacu pada makna “menduakan atau lebihkan Tuhan yang disembah” seperti penganut ajaran trinitas dalam kristen, menurut ajaran Islam, ini adalah kepercayaan syirik yang ditolak oleh Islam bahkan ditolak oleh agama-agama samawi sebelum Islam dengan mengkategorikan sebagai anutan sesat dan berakibat diazab dineraka jahannam.  

Hadhrat Nargis khotun sama sekali tidak mempunyai akidah seperti ini, beliau memahami ajaran nabi Allah Isa as secara hak yang diturunkan oleh Allah Swt sebagai agama untuk manusia pra Islam, jadi satu-satunya hasil analisa yang dapat kita tarik dari kisah diatas kata musyrik yang diucapkan oleh Hadhrat Zahra dan Imam Hasan Askari yang dinisbatkan kepada hadhrat Nargis itu sama sekali tidak bermaknakan musyrik secara Istilah yang dikenal oleh umat Islam sebagai sebuah akidah menyekutukan Tuhan tetapi hanya memuat makna leterleks bahasa yang mengacu pada ke-masih-an berimannya hadhrat Nargis kepada ajaran Nabi Allah Isa as yang sudah memasuki priode kadaluarsanya dengan datangnya Islam sebagai agama pemungkasnya yang mengharuskan kepada seluruh pemeluk agama samawi yang lain untuk memutar haluan menuju kepelukan agama Islam kalau tidak, urgensi akidah mereka akan tertolak karena Allah Ta’ala telah menjelaskan agama yang akan diterima disisi Allah setelah masa pengiriman Islam, hanya agama Islam, Allah Ta’ala berfirman dalam kitab suci terakhirnya yaitu “Al-Quran berbunyi: “Inna-Diina-Indallahil-Islam”(5)– sesungguhnya hanya agama Islam yang diridhoi disisi Allah”. 

Menisbatkan beliau sebagai seorang muslimah-pun, malah akan memunculkan berbagai persoalan kapan dan dimana ia telah mengenal Islam? dan bagaimana latar belakang sebelumnya?.

Jadi satu-satunya asumsi yang beralasan tepat, ialah di istilahkannya kondisi beliau sebelum mengetahui syahadat Islami adalah sebagai berkedudukan dalam kemusyrikan yang bermakna simbolik yang sama sekali tidak akan membiaskan makna kedzoliman bagi-nya, karena ia tidak dimaksudkan sebagai bermakna hakekat zati diri beliau, karena ini tidak terjadi bagi mereka dengan adanya dalil-dalil kuat yang mengatakan bapak-ibunya makshumin adalah orang-orang suci dan mulia artinya suci dari segala akidah sesat. Dan pengakuan beliau terhadap kebohongan para padri-padri Nasrani serta mengakui kemusnahan agama Nasrani memberikan asumsi adanya kefahaman beliau tentang aqidah yang benar (kebenaran Islam), sebagai tolak ukur baginya untuk menyatakan pembohongan para padri-padri Nasrani, kalau beliau tak memiliki aqidah yang benar maka beliau tidak akan memiliki tolak ukur yang benar untuk menilai suatu ajaran itu benar dan bohong/salah. 

Jadi Ungkapan musyrik dari kedua Hadhrat yang mulia dalam kisah Hadhrat Nargis, tidak dapat difahami sebagai ungkapan yang memuat makna “Menyekutukan Tuhan”, sebagai pertanda bahwa bunda Imam zaman pernah menganut faham musyrik dalam hidupnya, kondisi ini amat jauh untuk dapat menjadi nyata dalam pri kehidupan para wanita calon bunda manusia suci ahlul-bait as    ( karena ini bertentangan dengan falsafah kemaksuman mereka)(6) 

Berkedudukan sebagai kanis atau pembantu di zaman-nya seperti hadhrat Hajar (bunda dari pada Nabi Allah Ismail as) boleh saja terjadi bagi para bunda manusia suci, dan bukan suatu aib karena kedudukan ini secara zati tidak membiaskan kedzaliman bagi manusia, tetapi kedudukan sebagai musyrik (penyekutu Tuhan) walau sekejap mata-pun akan membiaskan kedzaliman secara zati bagi manusia, bukankan kemusyrikan adalah misdak yang paling jelas dari arti kedzaliman, terlebih bagi seorang ibu bagi manusia suci sangatlah mustahil bagi mereka untuk memiliki lembaran hidup masa lalu yeng berwarna kedzaliman, terlebih kedzoliman itu berbentuk kesyirikan terhadap Tuhan Yang Maha Esa(7). 

Yang jelas sepanjang sejarah manusia, Allah telah mengirim agama murni dari nya dan sudah pasti juga ada pemeluk agama murni itu, termasuklah mereka yang memegang teguh ajaran murni agama-agama samawi sebelum Islam Itu, adalah Para Bunda manusia-manusia suci Tuhan (Anbia’ dan Aimmah Ahlul Bait as dan orang-orang besar yang lain seperti kedua orang-tua Nabi sendiri, kakek dan nenek beliau hingga keatas, Hadhrat Abu Thalib as Ayah dari pada Al-Imam Ali as hingga kedatangan Islam, merekapun menyambut Islam dengan kepercayaan sempurna karena mereka mengetahui dari berita yang dibawah oleh para nabi sebelumnya tentang kedatangan nabi pemungkas dan agama paripurna (Islam) sebagai Agama kelanjutan dari Agama murni Allah sebelum-nya ). 

Walaupun sebagian besar dari manusia karena berbagai hal telah mendapati agama-agama sebelum Islam itu telah tidak murni lagi.

Dan yang harus juga dicamkan bahwasannya setelah kedatangan Agama Islam maka semua agama sebelumnya telah mencapai masa kadaluarsa artinya secara murnipun pemelukan terhadap agama-agama samawi itu tidak di-izinkan lagi(8), oleh karenanya siapa yang memeluknya akan dipandang oleh Islam sebagai musyrik. Musyrik yang dimaksudkan adalah memberlakukan Agama murni yang datang sebelum Islam sebagai sebuah agama yang masih berlaku setelah kedatangan agama Islam. Hal ini mungkin terjadi karena Informasih yang belum sampai kepada mereka, atau karena dihalangi oleh kondisi lingkungan kehidupan mereka, boleh jadi karena pola kehidupan keluarga ninggrat yang serba unik. 

Was-salam wa-llahu-a’lam-bishawaab.

2 Komentar »

  1. Salaam alaikum

    Bagus sekali ulasan ukhti mengenai hadhrat Nargis sa. Mungkin ada baiknya kita selalu ingat bahwa dalam banyak hal suatu istilah itu mempunyai 2 arti, yaitu menurut pengertian bahasa sehari-hari, dan menurut pengertian syar’i. Contoh, istilah mukim (dimana shalat kita harus full, nggak di-qashar) itu kan kita semua mafhum ada yang menurut pengertian bahasa, dan ada yang menurut syar’i. Demikian pula, ini boleh diaplikasikan pada sebutan “musyrik” bagi hadhrat ibunda al-Mahdi af sebelum beliau resmi mengucapkan syahadat Muhammadi. Secara bahasa gaul🙂, beliau waktu itu musyrik, tapi secara syar’i sebetulnya akidah beliau sudah benar sejak semula karena mengikuti akidahnya Nabi Isa as.

    Sukses selalu buat ukhti, dan terimakasih telah memuat blog saya dalam blogrollnya.

    Wassalam

  2. umfat said

    Wa alaikumussalam.

    Terimakasih, memang demikianlah kenyataannya, setiap masalah ada standar hukum dan argumennya, semoga masyarakat kita dapat menempatkan berbagai hal pada porsinya masing-masing, dengan demikian kita dapat berharap keadilan menjadi pilar strategi berfikir kita. Insya Allah.

    Blog yang pernah “Anak Bangsa” layari dimuat dalam blogroll ini, supaya mudah dijangkaui ceritanya, terimaksih kembali atas respon positifnya.

    Semoga juga kesuksesan senantiasa bersama usaha-usaha baik Antum.

    Umfat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: