MENYINGSINGNYA SANG MENTARI

Mahdi

Hadhrat Wali Asr – Salamullah alaih – satu-satunya anak dan sebutir mutiara Imam Hasan Askari – alaihimas salam -, berdasarkan kesepakatan para ulama besar syiah, beliau telah dilahirkan di kota Samira’ سامراء)), pada tarikh pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriah. Bunda yang mulia beliau – Salam Allah atasnya – bernama Narjis khatun نرجس خاتون)) ( sebahagian menulis nama beliau dengan Nargis khatun (نرگس خاتون ).Berkaitan dengan perihal kelahiran Hadhrat, banyak sekali matlab yang sudah ditulis secara terperinci dalam kitab-kitab sejarah. Diantara perihal yang patut diperhatikan adalah berita gembira berkenaan dengan diri Hadhrat, yang selalu disiasati oleh rezim kerajaan zalim bani Abbas, supaya secepat mungkin mereka dapat membunuh hadhrat seketika kelahirannya. Dengan sebab inilah pengandungan dan kelahiran hadhrat tersembunyi adanya. Marhum Abbas Qummi berkata : 

“Salah satu nama dari pada ibu hadhrat Al-hujjat – alahis salam – adalah Shaqilصقیل)  ) , nama ini diletakan oleh kerana diwaktu cahaya (wujud janinnya) hadhrat tertetapkan ada dalam rahim bunda yang mulia ini, cahaya kemilau memancar meliputi seluruh badannya, dari segi itulah ia dinamai Shaqil  yang bermaknakan “pemberi kecemerlangan”.

Nama-nama lain bunda hadhrat adalah : Raihanah ریحانة)) dan Susan  سوسن)). 

Kisah indah mengenai kelahiran hadhrat yang diceritakan dari lisan putri Imam Jawad –alaihi salam-  yaitu hadhrat Hakimah Khatun dapat anda baca secara terperinci dalam berbagai kitab. Disini kami secara ringkas membawakan perihal kedatangan Narjis Khatun dikehadiran Imam Hasan Askari –Alaihissalam– daripada lisan Marhum Muhaditsi Nuri –Semoga Allah Ta’ala meridhoinya-ada sedikit berbeda dengan yang tertulis dalam kitab “Najmu- tsaqib”.

 Penjelasan sampainya perkhidmatan Narjis Khatun dikehadiran Imam Hasan Askari – Alaihissalam –

Sheik Thusi meriwayatkan dengan sanad dari Basyar bin Sulaiman Nahas, yakni seorang hamba sahaya dari keturunan Abi Ayub Anshori dan dia itu adalah dari para pembantu Hadhrat Imam Ali An-naqi  (Ali bin Muhammad) dan Imam Hasan Askari – Alaihimassalam– dan sebagai tetangga mereka–as–ketika kota Samira’ , ia berkata :

Kafur Hambanya Imam Ali bin Muhammad – as – datang kepadaku dan berkata : (Imam memanggil anda untuk mendatangi beliau–as-), akupun datang dan duduk di kehadiran beliau – as – , Imam –as- berkata : ( Wahai Basyar, kamu adalah daripada anak-keturunannya Anshori, yang ia itu adalah penolong dan sahabat setia kami, kalian yang datang kemudian mewarisi pendahulu-pendahulu kalian …, kalian adalah kepercayaan dan sandaran yang meyakinkan bagi kami Ahlul-Bait dan saya merestui serta menghargai-mu karena kedahuluannya kamu atas pengikut kami dalam menjalankan sifat-sifat mulia, saya mengetahuimu baik secara tersembunyi atau terbuka, dan saya mengutusmu  untuk membelikan seorang kaniz (tawanan wanita )”. 

SURAT YANG BERCOP DAN DELEGASI BESAR

Setelah Imam menulis sepucuk surat dengan tulisan berbahasa Rumawi dan bercop serta mengeluarkan satu kantung berisikan dua ratus dua puluh mata uang Asyraf. Beliau berkata :

Ambillah ini, dua ratus dua puluh Asyraf, perhatikanlah ! dengan ini kamu menuju Bagdad dan hadirlah di jembatan laluan sungai Furat yang beberapa saat kemudian kamu akan mendapati perahu-perahu yang membawa para tawanan, disana kamu akan dapati tawanan-tawanan wanita dan kelompok pembeli dari kalangan wakil kerajaan Bani Abbas dan beberapa gelintir dari pemuda-pemuda Arab, dikala kamu menyaksikan yang demikian, perhatikanlah sepanjang hari dari jauh seorang yang bernama Amar bin Yazid Nahhas, hinggalah para pembeli diperlihatkan kepada tawanan wanita (kaniz) yang mempunyai sifat begini dan begitu…, dia mengenakan dua lapis baju dari kain sutra yang dijahit dengan kuat tertampal diatas dadanya sehingga menghalangi pandangan para pembeli yang diperkenankan kepadanya untuk melihat, dan menghalangi peletakan tangan keatasnya, serta ia tak mengizinkan siapapun dari para pembeli itu untuk menyentuhi dirinya, dengarkanlah keluhannya dengan bahasa Rumawi dibalik tabir halusnya dengan mengatakan sesuatu, maka ketahuilah  apa yang ia katakan itu adalah : ” Woi ! tabir ifat-ku (keterjagaan diri-ku) tercampakan!”. Dalam keadaan demikian ia tak mengizinkan pada siapa-pun untuk menyentuh dan merabanya. Salah seorang dari pembeli itu berkata : ” Kaniz ini untuk saya, seharga tiga ratus Asyraf saya bersedia membelinya, dikarenakan ifatnya telah menambah gelora keinginan saya “. Lalu ia berkata dengan bahasa Arab :” Jika Anda mempunyai keadaan seperti Sulaiman bin Daud-pun dengan kebesaran kerajaan-nya, sedikitpun tidak membuat aku berkeinginan dengan-mu, oleh karena itu takutlah terhadap keinginan-mu “. Sang penjual tawanan itu berkata :” Maka jalan keluarnya bagaimana ? Aku tiada jalan lain kecuali akan menjual kamu, aku adalah penjual yang mengharuskan aku menjual kamu “. Kaniz itu berkata :” Betapa tergesa-gesanya anda ? aku harus menunggu pembeli yang hati-ku berkenan kepadanya dan yakin terhadap janji dan agamanya “. Dikala itu kamu bergerak dan datanglah kehadapan Amar bin Yazid (sang penjual kaniz) dan katakanlah kepadanya :“Saya datang bersama sepucuk tulisan yang ditulis oleh seorang yang terhormat, yang didasari keramahan, berbahasa dan berhuruf Rumawi, didalamnya ia menjelaskan kemuliaan, kesetiaan, kebesaran dan kedermawanan dirinya, berikanlah surat ini kepada kaniz itu, supaya ia merenungkan akhlak dan pensifatan surat ini .Jika engkau mau dan merelainya, maka aku adalah wakil beliau dalam pembelian kaniz itu dari anda “.

Basyar bin Sulaiman berkata : “Setelah aku mencamkan perintah maula-ku Abul-Hasan-as- akupun berangkat menuju Bagdad dan menunaikan anjuran Imam –as- sehingga aku menyerahkan surat tersebut “. Setelah ia menelaah surat tersebut. Iapun menangis keatas surat itu dan berkata kepada Amar bin Yazid : “Juallah aku kepada pemilik surat ini,”. Sambil bersumpah dengan sumpah mengancam yang menggentarkan orang yang disumpahi yang jika ia menolak untuk menjualkan dirinya kepada pemilik tulisan tersebut maka dia akan membunuh diri. Basyar berkata : “Saya disusahkan dengan harga, sehinggalah sang penjual menerima harga sejumlah uang Imam–as-dua ratus dua puluh Asyraf, kaniz-pun tersenyum dan senang, sehingga aku mengantarkannya dengan sebuah sepanduk yang sudah aku siapkan semenjak berada di Bagdad, dan ketika ia berada dalam sepanduk dibukanya surat Imam-as- untuk kedua kalinya, lalu dicium dan diusapkan di kedua matanya.Aku bertanya : ” Engkau mencium surat itu ? sementara engkau tidak mengenal pemiliknya “. Ia-pun menyahut : “Eii! Sang lemah dan sedikit pengenalan, demi kebesaran anak-putra dan washi para Nabi, arahkanlah pendengaran telinga dan kosongkan hati-mu demi untuk mendengarkan perkataan-ku, sehingga aku menjelaskan keadaan diriku kepada-mu”. 

BIOGRAFI BUNDA IMAM ZAMAN –AS 

Beliau berkata :”Aku adalah ratu yang bernama Yasyu’ai (1) (یشوعای)anak-putri dari qaisar kerajaan Rumawi, ibuku adalah anak keturunan dari pada Syam’un bin Ashfa (شمعون بن الصفا ) yang dia itu adalah Washinya Hadhrat Isa Masih –as- … “. Kakekku, meminta kepada qaisar supaya menikahkan aku dengan anak saudaranya. Di waktu aku berusia 13 tahun, dia mengundang tiga ratus orang dari kalangan Hawariyun (penolong) Isa-as-, tujuh ratus orang dari kalangan pemilik derajat dan kedudukan, empat ribu orang dari kalangan pemimpin askar dan ketentaraan serta ketua para pembesar kabilah. Mereka menyiapkan sebuah takhta yang berhiaskan aneka permata dihari kebangsaannya, yang didirikan diatas empat puluh kaki, mereka menancapkan patung-patung dan salib-salib di atas tetinggian-tetinggian, serta mereka mengantar anak putra saudaranya diatas takhta.Ketika padri mereka mengambil injil dan membacanya, salib-salib itu roboh, kaki takhta patah sehingga jatuh keatas tanah, anak saudara raja-pun terjatuh dari takhta yang menyebabkan ia tak sadarkan diri.Warna (raut wajah) para padri berubah dan seluruh anggota badannya bergetar, sehingga pembesar mereka meminta supaya pekerjaan ini dibatalkan, dan dia berkata peristiwa-peristiwa nahas yang terjadi menunjukan atas kepunahan agama masihi.Kaniz berkata :” Kakek-ku menganggap peristiwa itu dengan peramalan buruk dan dia berkata : “perayaan ini akan diadakan di waktu lain, sehingga anak putri ini kembali kita mengikatkan akad dengan anak saudara ini.Pada kali kedua terjadi hal yang sama, sehingga dimaklumi ada keburukan dalam tindakan ini”.

 PENJELASAN : SATU MIMPI YANG BENAR 

Masyarakat bercerai–berai, kakekku-pun pulang kembali ketempatnya dengan memasang tabir malu. Aku menyaksikan dalam tidurku bahwa hadhrat Al-masih disertai hawariyun telah berkumpul dan menyediakan sebuah meja dari cahaya … Hadhrat Al-Masih–as- didasari perkhidmatan keagungan, beliau menyambut kedatangan Khatamul-Ambia’ dengan meletakan tangan dibahu Hadhrat saww, lalu hadhrat Rasul berkata : “Ya Ruhullah, Aku datang untuk meminang anak putri washi-mu Syam’un bin Ashafa yang diperuntukan kepada putraku ini”, dengan menunjuk isyarat kepada Imam Hasan Askari –as-… . Syam’un-pun menerima lalu semua menuju kesuatu mimbar dan Rasul membaca khotbah pernikahan, beliau bersabda : “Akad telah diikat”, akupun terbangun dari tidur, mimpi ini aku tidak menceritakannya kepada seorang-pun, karena takut aku akan dibunuh…,akan tetapi cinta akan surya falak Imamat berkobar menyala dalam dadaku, membuat aku mengharamkan makan dan minum selama keterpisahan dari beliau, sehingga dari hari kehari keadaanku semakin kurus-sengsara, yang memaksakan aku untuk memeriksakan diri ketabib-tabib, sehingga tak seorang tabib-pun tertinggal melainkan aku telah mendatanginya, tetapi semua telah putus asa dalam mengobati aku, kakek berkata kepada-ku : “Wahai cahaya mata, apakah kamu mempunyai keinginan yang harus aku lakukan ( aku tunaikan sehingga menggembirakanmu)”.Aku berkata :” pintu-pintu kegembiraan telah tertutup didepan-ku, berhentilah untuk menyiksa dan menganiaya para tawanan muslimin, lepaskanlah para tahanan, bahkan Tuhannya Al-masih dan bundanya saja,Yang Maha Tinggi memaafkan-kita “.Setelah berlaku hal demikian, akupun menampakan kesehatanku dan mulai menginginkan menjamah makanan”.

 MELIHAT PENGHULU WANITA DUA ALAM DALAM MIMPI DAN MASUK ISLAMNYA NARJIS KHATUN-AS-

 Setelah menyaksikan wanita terbaik hadhrat Az-Zahra-as- di alam tidur selama empat malam yang datang untuk melihat-ku bersama hadhrat Mariam-as- yang disertai seribu kaniz dari bidadari surga, hadhrat Mariam berkata :” Wanita ini adalah ibu dari pada suami engkau”.  Lalu aku berlutut dihadapan pangkuannya sambil menangis dan mengeluhkan bahwa Imam Hasan Askari –as- mengabaikan aku, dan menghindari untuk melihat kepada-ku. Hadhrat itupun berkata :” Bagaimana ia akan mendatangi-mu sedang kamu masih dalam kemusyrikan… jika kamu suka Tuhan Yang Maha Tinggi, hadhrat Masih dan Mariam meridhoi-mu dan Imam Hasan –as- datang melihat-mu, mari ucapkanlah dua syahadat!, akupun mengucapkan dua kalimat Thayibah itu, lalu hadhrat mendekapkan aku kedadanya… dan berkata :” Tunggulah kedatangan putra-ku “.Pada malam berikutnya dalam tidur, mentari indah kemilau itu muncul. Aku berkata :” Wahai kekasih-ku setelah anda menawan jiwaku dengan cinta kepada-mu, kenapa engkau menjauh dan mengabaikan aku ?”. Beliau berkata :” Sebabnya hanya karena kemusyrikan-mu, sekarang kamu telah masuk Islam, aku akan datang setiap malam… “.Basyar brtanya , apa gerangan yang menyebabkan anda terjatuh di tengah para tawanan ?. Dia (kaniz) berkata :” Imam Askari telah mengkhabarkan kepada-ku dengan menunjuk suatu hari bahwa kakek-ku akan mengirim pasukan kearah kaum muslimin… (dikala itu beliau menganjurkan) aku hendaknya menggabungkan diri ketengah-tengah para kaniz dan para pelayannya, dengan cara mereka tak dapat mengenali-mu dan menyelinap…”. Setelah berhadapan dengan kaum muslimin aku ditawan dan akhirnya seperti yang engkau lihat 2) 

Di pangkuan ayah 

Imam Zaman –as- selama lima tahun hidup disamping ayahandanya yang mulia Imam Hasan Askari-as- menyaksikan kebenaran kegigihan dan usaha Imam Askari –as- serta kedzaliman-kedzaliman Bani Abbas dan rezim diktatornya.Yang jelas diketika masa kecil, Allah Ta’ala telah membuka pintu-pintu hikmat untuknya, beliau sepeninggal ayahandanya yang mulia, menanggung tampuk keimamahan (kepemimpinan) ummat, beliaulah yang mengimamkan shalat jenazah ayahandanya, para hadhirin menyaksikan wajah penuh cahaya dan cemerlangnya. Allah Ta’ala telah menetapkan masa keimamahan beliau akan berlaku dalam dua masa yang genting.

 PERMULAAN DUA MASA KEGAIBAN 

Imam Zaman –as- mempunyai dua kegaiban, satu kegaiban shugra (masa yang pendek) dan kedua kegaiban kubro (masa yang panjang). Kegaiban yang pertama dimulai dari sejak kelahiran hingga berakhirnya masa hidup keempat wakil khusus beliau. Dan kegaiban kedua dimulai dari waktu berakhirnya kegaiban yang pertama, memanjang  hingga  masa kebangkitan dan kemunculan beliau kembali. Sekalipun prihal kegaiban telah banyak matlab yang berguna dan bermanfaat telah dibicarakan, namun seorangpun tak dapat menerangkan semua rahasianya. Sebagian mengatakan kegaiban adalah satu sunahtullah, sebagai ujian bagi para hamba sehingga jelaslah para hamba yang sabar dan patuh kepada perintah hadhrat yang hak. Imam Musa bin Ja’far –as- bersabda :”  Waspadailah agama-mu diketika kegaiban putra-ku yang kelima, jangan sampai seseorang dapat mengeluarkan kamu dari agama-mu” .3) Sebagian mengatakan kegaiban adalah untuk menjaga jiwa Imam yang keduabelas, karena Bani Abbas semenjak mendengarkan bahwa Allah Ta’ala akan menganugrahkan seorang putra kepada Imam Hasan Askari sebagai penegak keluarga Nabi Muhammad saww dan sebagai pengambil  balas dari para pendzalim hak-hak Al-quran dan itrah, mereka bertekat akan membunuh hadhrat. Yakni jika hadhrat secara jelas nampak di tengah-tengah mereka, maka jiwa beliau terancam bahaya, tentunya jika beliau telah disyahidkan maka beliau tak dapat menunaikan apa yang menjadi tugas beliau. Zurarah salah seorang penolong Imam Shodiq- as- mengatakan :” Imam Shodiq bersabda : ( Bagi Imam Zaman –as- sebelum kebangkitannya akan mengalami kegaiban, untuk beberapa masa beliau akan gaib dari pandangan mata), aku – pun bertanya : Kenapa ? Imam menjawab dengan menunjuk ke arah perutnya ; yakni karena menghawatirkan keselamatan jiwanya.(4) Kelompok lain  juga mengatakan, sebab dari pada kegaiban adalah supaya hadhrat dapat terbebas  dari berbaiat dengan para thagut ( orang yang dzalim )di zaman-nya.Sebagaimana hal ini banyak riwayat telah mengisyaratkanya. Yakni kehidupan Imam Zaman –as- mempunyai satu ciri utama dan kekhususan yang Allah Ta’ala tidak menghendaki Imam yang keduabelas ini, sekalipun dalam bentuk takiah untuk berbaiat dengan rezim diktator, sebagaimana yang sudah berlaku ( bagi Imam yang lain ) atau beliau berada dibawah pemerintahan mereka.Setelah kegaiban ini hadhrat akan bangkit dengan mengenakan baju pengamalan agama yang benar secara sempurna tampa ada pengaruh kompromi apa-pun. Hisyam bin Salim menaqalkan dari Imam Shodiq –as- yang bersabda :” Al-Qa’im –as- dikala kebangkitannya tidak ada mempunyai tanggungan janji, aqad dan baiat pada siapapun ” (5). Dari matlab-matlab yang sudah tersebut di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwasannya keseluruhan sebab-sebab yang masuk dalam perkara ini sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, mungkin dapat dikatakan sebagai hikmah yang diungkapkan oleh para Maashumin untuk para pengikut mereka-as-. Tentunya kita hanya dapat berkata :” ilmuhu indallah”( pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah ).

  MASA KEGAIBAHAN PENDEK (GAIB SHUGRO ) DAN KEEMPAT NAIB ( WAKIL IMAM ZAMAN –AS-) 

Gaib syugro dimulai dari tahun 260 Hijriah ( tahun syahadatnya Imam yang kesebelas –as- ). Sekalipun sekelompok para pembesar meyakini bahwa kegaiban beliau sejak masa kelahiran, yakni tahun 255 Hijriah. Mereka yang berkeyakinan demikian berdasarkan bahwa hadhrat dalam masa lima tahun kehidupannya bersama ayahandanya yang mulia-pun, tidak mengadakan percampuran pergaulan dan berdialog dengan mesyarakat. Bagaimanapun juga masa kegaiban syugra berdasarkan pandangan yang pertama selama 69 tahun  dan berdasar pandangan yang kedua selama 74 tahun, perlu disebutkan bahwa pandangan yang kedua telah disebut oleh Syeikh Mufid – quddisa sirruhuz-zakiah – dalam kitab AL-Irsyad. Dalam masa gaib syugro terdapat empat orang dari syiah murni yang menjadi ketetapan Imam –as- sebagai pintu dan penghubung serta  menjadi duta antara Imam dengan masyarakat dan syiah. Di sini Kami sebagai mengambil tabaruk hanya mencukupkan dengan menulis nama-nama keempat naib khusus Imam-as-,karena kami bertujuan meringkas bahasan. ( Nama-nama naib khusus Imam zaman –as- ) sebagai berikut :

1.     Abu  Amar, Utsman bin Said Amiri.

2.     Abu Ja’far, Muhammad bin Utsman bin Said Amiri

.3.     Abul-Qasim, Husain bin Ruh Nubakhti.

4.     Abul-Hasan, Ali bin Muhammad Samuri. 

Kedua duta yang pertama adalah ayah dan anak, dan keempat – empatnya dari para pembesar syiah, yang dilihat dari ketakwaan dan keadilan, ilmu dan maarifat telah mendapat perhatian dan penghormatan serta daripada para penolong setia Imam Askari dan Imam Zaman –as-. Dari keagungan mereka cukuplah menjadi bukti bahwa mereka telah menjadi  naib-naib khas hadhrat Wali Ashr – Salamullah alaih .

TUGAS-TUGAS PARA NAIB HADHRAT SEPANJANG GAIB SYUGRO

 1. Menjaga ketersembunyian nama dan tempat kehidupan hadhrat. Tidak hanya para naib khash, bahkan setiap orang yang pernah hadir dihadapan hadhrat mempunyai tugas menjaga ketersembunyian nama dan tempat kehidupan hadhrat.

 2. Membentuk wakil-wakil daerah bagi hadhrat. Kejelasannya demikian bahwa sejak zaman Imam Jawad-as-, secara pribadi Hadhrat Imam telah mengutus para wakil ke daerah-daerah yang berbeda-beda untuk membentuk dan menangani kegiatan syiah. Dan sejak kegaiban syugro hubungan mereka (para wakil daerah ) dengan Imam Zaman menjadi putus, oleh karena itu para naib khas Imam mempunyai tugas menangani perkara-perkara syiah melalui para wakil-wakil yang menetap di daerah – daerah.

3.     Mengumpulkan dana-dana syar’i dan harta yang berkaitan dengan Imam –as- serta membagikannya secara adil kepada masyarakat dan mereka yang berhak. 

4.     Dari yang penting sekali tugas para naib khas hadhrat adalah sebagai juru bicara dalam menjawab soalan-soalan fiqih dan mencegah syubhat dalam aqidah para syiah. Para naib khas hendaknya dihadapan serangan-serangan kelompok Mugaridhin atau kadang-kadang mereka berdiri dihadapan keluarga diktator khalifah Abbasi yang menyebarkan tablig seperti : Imam Zaman belum dilahirkan kedunia. Para duta Hadhrat terkadang  mengadakan duduk dialog dengan para penentang dan menundukan mereka.

5.     Para naib khas mengadakan perlawanan terhadap para penda’wahan bohong sebagai niabat yang secara terperinci telah dicatat dalam tarikh kehidupan Imam Zaman –as- dimana sekelompok di zaman kegaiban telah menda’wakan diri sebagai niabat, namun bagaimanapun mereka telah tergilas oleh masyarakat Islam sendiri (syiah dan sunni ).

KEGAIBAN BESAR (gaib kubro) 

Dengan wafatnya naib khas Hadhrat yang keempat, mulailah masa kegaiban ini. Dalam hakekatnya masa niabat khas telah berakhir, dan dengan kegaiban besar dimulailah masa niabat ammah ( naib umum ). Dalam masa niabat ammah, tidak ada penunjukan jari langsung kepada seorang pribadi tertentu sebagai mengatakan bahwa engkaulah naib, akan tetapi qaidah tertentu telah di tetapkan oleh para Maashumin –as- jika satu pribadi telah sesuai dengan standar qaidah dan syarat-syarat tersebut ( yang sudah ditetapkan oleh maashumin –as- ) maka dia akan dikenalkan sebagai naib ( wakil Imam Zaman –as- ). Topik ini telah banyak diutarakan dalam berbagai riwayat dimana pada zaman gaib kubro tempat rujukan dan kembalinya para syiah adalah kepada orang-orang yang memiliki syarat – syarat menyeluruh yaitu : Berilmu (alim), bertakwa, adil, bijak berbudi luhur (syahamat ) dan berani (syujaat)… . Kami menganggap penting menyebutkan poin ini dimana masalah wilayatul-faqih yang memiliki syarat menyeluruh yang sedang di utarakan diera (zaman) sekarang adalah banyak terdapat dalam riwayat. Yang jelas hendaknya menjadi perhatian juga adalah dunia Islam berhadapan dengan masalah ini tidak hanya di zaman kedua Imam Askari dan Hadhrat Hujjad –alaihimassalam- , akan tetapi matlab ini sejak zaman Hadhrat Ar-Rasul saww telah diutarakan. Di zaman Hadhrat Amirul muminin-as- juga telah ada, pengutusan pribadi-pribadi mulia dan kuat ke daerah-daerah oleh Rasulullah saww, pengiriman Malik Asytar- ra- ke Meshir oleh Amirulmuminin –as- dan sebelum Malik Asytar-pun telah di utus Muhammad bin Abu Bakar dan puluhan contoh lain sebagai kategori masalah ini. Dan Imam Shodiq –as- berkata kepada sebagian dari para periwayat hadist  bahwasannya : “Aku lebih suka seumpama anda duduk dalam mesjid  sambil berfatwa “. Oleh karena itu apabila dimasa berdirinya pemerintahan Islam sekelompok orang bertablig bahwasannya wilayatul-faqih tidak pernah diutarakan dalam sumber-sumber Islam, adalah suatu tablig yang tidak berasas dan ini sebagai menentang jalan para maashumin alaimussalam. 6)  

1.        Dalam kitab-kitab sumber seperti ( کما ل الدین) tertulis یشوعا Hadhrat Ar-Rasul saww, washi dan menantunya Ali bin Abi Thalib disertai oleh para Imam dan anak keturunan mulia beliau, menjadikan istana semarak dengan cahaya kehadiran indah mereka .

2.        Kitab ”  نجم الثاقب” muka surat 23 -175.

3.        Riwayat ini dalam kitab ” غیبت نعمانی ” ,silakan mencek4.       

4.Kitab Al-kafi, j 1, h 337

5.        Kitab  غیبت نعمانی ,h 250

6.     Bagi yang inginkan merujuk pada kitab-kitab tersebut, silakan merujuk  pada kitab seperti : وسائل الشیعة , j 18 bab 11, ابواب صفات قاضی. . Kitab Usulul-kafi j 1, h 67. D an kitab-kitab yang lain, bihamdilillah  berkat berdirinya Republik Islam Iran telah banyak diedarkan , bahkan jumlahnya tidaklah sedikit. 

2 Komentar »

  1. muhibbin said

    Yang pasti Imam Mahdi akan zuhur ketika para pengikut dan pendokong-pendokongnya telah bersedia dan menjalankan hukum-hukum islam di atas muka bumi ini. Revolusi islam yang digerakkan oleh Ayatoallah Khomeini(moga allah merahmati rohnya) merupakan langkah awal dalam mempercepatkan kezuhuran al-Mahdi. Maka perhatikanlah apakah kita sudah menjalankan PERGERAKAN AL-MAHDIYAH dalam usaha mempercepatkan kezuhuranya.

    ILLAHI ILLAHI
    HINGGA ZAHIRNYA MAHDI
    LINDUNGLAH KOMENEI

    SOLAWAT

  2. umfat said

    Allahhumma soli Ala Muhammad wa Aali Muhammad wa a’jjil farajahu!
    Allahumma Ajjil liwaliyyikal-Faraj!.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: