Apa Arti menunggu Imam Mahdi afs?

Demikian Imam Khumeini telah mencontohkan cara penantian yang positif bagi kemunculan Imam Zaman afs dengan mendirikan negara republik Islam Iran sebagai langkah memperbaiki tatanan kehidupan manusia didunia untuk menyongsong kemunculan Al-Imam Mahdi afs

PENANTIAN YANG POSITIV DAN BERSIFAT ASYURO’(1) 

Mereka yang berada di barisan Al-Qur’an, Itrah dan para ulama Ilahi mengatakan : Bahwa intidzâr (penantian) itu seharusnya disertai dengan penunaian amalan-amalan dan perintah-perintah yang diinginkan oleh Allah – Ta’ala. Muntadzir (penanti) yang sebenarnya adalah seorang yang memiliki perhatian atas tugas-tugas (wadzâ’if) syariat dan agama serta tidak melupakan keutamaan-keutamaan akhlak.

Intidzâr dengan pandangan positiv yakni : Bahwasanya ahkam Islam dan agama tidak akan mengalami percutian (ta’thįl) dan si penanti mempunyai kesiapan mengalami kehadiran Baqiatullahil-a’dzam dalam setiap waktu, dimana beliau (afs)(2) di setiap waktu adalah sebagai penegak kebenaran dalam semesta alam.Yang semestinya mengherankan adalah terhadap mereka yang mengatakan : “Bahwa  hukum-hukum Allah akan pasti menjadi  terabai dalam masa intidzâr”, jikalau pangkuan seseorang berlumuran dosa sekalipun, maka ia akan ditolong dengan tibanya  faraj ( kemunculan Imamul- Mahdi as).

Sekarang, persoalan ada di sini, yaitu : Jika seseorang telah melakukan suatu dosa dan hukum had (hukuman bagi penjahat/penjenayah) sudah semestinya dijalankan keatasnya dengan sebab dosa yang telah dilakukannya itu, apakah bukan Nabi saww dan para Imam as sebagai orang yang pertama sekali menjalankan perintah Ilahi? Apakah Imam zaman as akan meridhoi (wal’iadzubillah) ketika hudud Ilahi tidak dijalankan?. Walau bagaimanapun para pembesar dari kalangan ulama dalam masalah tugas-tugas umat di zaman kegaiban Al-Imam afs telah menulis kitab-kitab dan berkata: “Adapun dari tugas utama para penanti adalah bersungguh-sungguh menuntut pengenalan-pengenalan (ma’ârif) Ilahi dan juga mengikatnya dalam pengamalan”.

Dalam sebuah riwayat, Imam Shodiq as bersabda : “Wara’, ifat berlaku baik/layak… dan menanti faraj dengan sabar itu adalah dari agama para Imam” .(3)Intidzârul-faraj disebutkan beriring dengan pengajaran-pengajaran seperti wara’, ifat/menjaga kesucian dan kehormatan diri  serta kelayakan dan berfikir baik.Dan dalam riwayat yang lain, Imam Shodiq as menyatakan mengenai kedudukan penanti Imam zaman, demikian bersabda:

“Orang yang menanti Imam zaman adalah seperti seseorang yang sedang menyingsingkan pedang di samping Rasulullah saww di medan perang, ia berperang sambil melakukan pembelaan terhadap diri Rasulullah saww”.

Keutamaan-keutamaan ini diperuntukan kepada muntadzir yang manakah?, adakah untuk muntadzir (Al-iadzubillah) yang rela  terhadap percutian ahkam Islam?, adakah bagi ia yang mempunyai keyakinan terhadap kerusakan dan keberluasannya? (i’ăzdunallah / Allah melindungi kita dari kejahatan dan was-was syaithan).

Dari riwayat yang mulia ini dan puluhan riwayat-riwayat yang lain dapat digunakan bahwa para muntadzir dalam masa kegaiban akan mengamalkan tanggunjawab-tanggungjawab penting yang ditanggung olehnya, disebutkan berkedudukan sebagai sang pembela Rasulullah saww. Jika tidak bermaknakan demikian, maka seorang yang tidak mengamalkan ahkam agamanya sendiri dan tidak menganjurkan amar ma’rûf kepada yang lain bahkan rela terhadap kemungkaran dan perluasan tampa batas dan tampa ikatan hukum, apakah ada keserupaannya dengan mereka yang menjaga jiwa Rasulullah saww?, dimana Rasulullah saww dengan segala keagungannya adalah sebagai penyebar ahkam agama Islam. 

Sebagai memperingatkan dan perhatian bagi semua penanti, kami menyebutkan bagian bahasan dari paling pentingnya taklif-taklif di masa kegaiban dengan menyebutkan matlab-matlab ini yang tidak mengecualikan sebarang kelompok manapun untuk menunaikan tanggungjawab-tanggungjawab berikut :

1.     Berusaha mencapai ilmu dan ma’rifat 

Yang pertama sekali tugas para hamba Allah di masa kegaiban adalah berusaha mencapai ilmu dan makrifat (pengenalan) berkenaan dengan Hadhrat (Imamu-zaman afs), yaitu orang yang Allah-Ta’ala telah mewajibkan untuk dita’ati, beliaulah sang pengantara antara para hamba dan Allah-Ta’ala. Sifat dan kekhususan-kekhususan beliau hendaknya harus dikenal. Telah ada dalam berbagai riwayat bahwasanya : Jika seseorang mengenal Imam-nya sendiri (yaitu mengenal kedudukan keimamahan beliau afs) sama seperti orang yang sedang berada menanti dalam kemah Al- Imam as). Hendaknya diperhatikan bahwasannya wujud pribadi Al-Imam as adalah serupa dengan mįzăn (timbangan), jika manusia telah mendapatkan pengenalan terhadap beliau afs maka ini menyebabkan terselamatkannya dia dari syubhat-syubhat (kesamaran) dan kesesatan jalan.

Dari yang paling penting sekali diantara seluruh pengenalan adalah pengenalan terhadap kekhususan-kekhususan dan sifat-sifat unggul Al-Imam afs, disamping pengenalan terhadap nama, nasab (silsilah keturunan) ayah dan para datuk beliau as. Dan dari keunggulan-keunggulan khusus beliau as adalah ;  berilmu, ishmat ( maksum/terjaga dari segala dosa dan kesalahan), wara’, syuja’at (berani), įtsăr (mendahulukan kepentingan yang lain dari kepentingan diri) dan puluhan sifat-sifat utama yang lain. Dalam riwayat disebutkan bahwa : Paling sedikitnya pengenalan terhadap Al-Imam as adalah mengenal beliau sebagai pewaris Rasulullah saww dan berlaku ta’at kepada Al-Imam adalah ta’at kepada Allah dan Rasulullah saww.

 2.     Menjaga adab terhadap ingatan dan sebutan nama Imam zaman as 

Salah satu dari potret adab Islam dan Ilahiat adalah hendaknya manusia tidak menyebut Imam zaman kecuali dengan sebutan laqab-laqab mulia yang penuh barakah-nya seperti : Al-Hujjah, Shohibu-zaman, Baqiatullahil-a’dzam, MahdįYang  penting untuk diingat dalam bahasan nama yang penuh barakah ini, adalah adanya perbedaan pendapat antara ulama yang mulia -semoga Allah menambah kemuliaan  atas mereka – yaitu dalam penyebutan secara tashrįh ( jelas )dengan nama asli beliau yang mulia.

Satu kelompok dari para ulama menganggap boleh hanya ketika bertaqiah, seperti Al-marhum Hur Âmilį pemilik kitab Wasâ’ilu-syįah.(4) Dan sebagian lain seperti Syaikh Mufįd dan Al-marhum Thabarsį adalah melarang penyebutan secara tashrįh terhadap nama yang penuh barakah itu(5). Untuk kita menjaga adab dan mendapatkan yang lebih hati-hatinya adalah disini kita akan menyebutkan Hadhrat dengan laqab-laqab mulia beliau sebagai sirah (cara) yang sudah dijalankan oleh para ulama yang agung dan juga sebagai berlaku hormat dan pengagungan. 

3.     Mencintai kepada Hadhrat secara khusus

Mengingat ni’mat-ni’mat Ilahi menyebabkan cinta dan suka terhadap Allah Ta’ala. Dan pengantara semua ni’mat Ilahi yang ada diatas para makhluk ini adalah wujudnya Hujjat kebenaran yaitu Imam zaman afs. Harus diperhatikan bahwa semua keberkatan dan kebaikan Ilahi ini diperantarai oleh Hadhrat Hujjat afs. Maka aqal memberikan hukum untuk mencintai Hadhrat afs itu. Dan dilain riwayat, banyak disebutkan bahwa Rasulullah saww dan para Imam as telah memberikan perintah berkenaan dengan cinta kepada Imam zaman afs, seperti yang ada dalam sebuah riwayat berikut, bahwa Rasulullah saww ketika dimalam Mi’raj, bersabda: “Allah Ta’ala berfirman kepada-ku : ( Wahai Muhammad cintailah Dia ( Imam zaman afs), karena aku cinta kepada-nya dan kepada orang-orang yang mencintai-nya )“. Titik perkara yang harus diperhatikan secara mendalam adalah bahwasannya agama akan dimenangkan secara sempurna berkah tangan dan pemerintahan hak beliau afs dan Hadhrat akan memikul kerja keras yang memenatkan demi memenangkan agama Allah serta kemenangan hak di atas kebatilan. Dan ini menuntut akan kecintaan kita kepada beliau afs secara khusus. Kita semua mengetahui bahwa mencintai para Imam pemberi hidayah as terlebih cinta kepada Imam zaman afs secara khusus pada dasarnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala.

4.     Mengumumkan cinta kepada hadhrat di tengah kelompok masyarakat

Yakni manusia hendaknya menyampaikan kata-kata indah/sabda dan riwayat kehidupan para Imam as dengan bahasa masyarakat sendiri dan kelompok-kelompoknya yang bermacam-macam. Dan menggalakan kecintaan mayarakat kepada para Imam pemberi hidayat as lebih khusus cinta kepada Imam zaman afs.

5.     Menanti pemerintahan hak dan kemunculan keluarga Muhammad saww

Dalam Al-Qur’an yang mulia Allah Ta’ala berfirman :” …maka nantikanlan!, aku dan kamu dari yang sedang menanti “(6). Dalam riwayat-riwayat, banyak yang menyebutkan pahala dan kedudukan yang tinggi diperuntukan kepada para penanti seperti ; dalam do’a Arafah, Imam Sajjad as menghaturkan kata selamat sejahtera kepada para penanti. Dalam sebuah riwayat, Imam Shodiq as bersabda : ” Seorang penanti yang meninggal dunia dalam keadaan intidzâr seperti seseorang yang sedang berada dalam kemah Al-Qâ’im (Imam zaman afs)”. Dari keseluruhan riwayat yang datang dalam bab ini bahwasannya intidzâr kepada pemerintahan hak bermaknakan demikian; bahwasannya manusia hendaknya ingin sekali berada disamping Hadhrat afs, ikut menolong-nya dan siap berkorban demi apa saja yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dan Imam jaman afs, bukan berusaha mencapai  apa yang dikehendaki oleh keinginan diri – sendiri yang rendah. Intidzâr pemerintahan yang hak berbeda dengan seluru intidzâr yang lain karena muntadzar ( orang yang dinanti ) dalam intidzâr ini adalah sang pemimpin kita( umat manusia) yaitu Imam zaman afs yang dialah Hujjat kebenaran dan pengantar feidh (anugrah ni’mat) dan pemberi petunjuk umat manusia. Tidak diragukan lagi intidzâr ini adalah paling beratnya penantian diantara penantian-penantian, hanya mereka yang ikhlas yang dapat melakukannya, yang tidak mungkin dilakukan tampa diiring dengan ketakwaan dan beramal dengan peraturan undang-undang agama. Dalam riwayat-riwayat yang banyak yang sebagian darinya mengisyaratkan faham bahwasannya intidzâr faraj adalah sebagai ibadat. Dengan dasar berfikir demikian, banyak dari kalangan ulama besar kita mengemukakan bahasan mengenai adanya atau tidak adanya qashd qurbat ( niat mendekatkan diri kepada Allah sebagai syarat sahnya peribadatan) dalam intidzâr. Karena  tulisan ini kami berniat meringkas saja, maka dengan ukuran sedemikian kami cukupkan, dan sebagai kesimpulan matlabnya; bahwasannya di setiap subuh dan malam hendaknya menanti faraj dan bersiap-siap untuk menolong pemerintah yang hak. Persiapan ini hendaknya senantiasa kekal. Boleh jadi inilah salah satu dari hikmah disembunyikannya zaman kemunculan Imam afs. Di mana kaum beriman dalam sepanjang waktu berada dalam keadaan bersiap sedia, dan mereka menjaga kesiapan diri mereka.

 6.     Menerangkan kesukaan dan kerinduan untuk menjumpai Hadhrat afs

Salah satu dari tanda-tanda suka dan cinta kepada yang lain adalah menerangkan rasa suka untuk menjumpai-nya. Imam zaman adalah kecintaan seluruh aulia’ dan para Nabi as yang di berbagai tempat juga telah memperlihatkan penjelasan kesukaan mereka untuk menjumpai Hadhrat afs, seperti Amįrul-mu’minįn as setelah menyifatkan Walį ashr afs, menjelaskan rasa ingin beliau untuk berjumpa dengan Hadhrat (ada riwayatnya). Para pecinta dan penanti hendaknya menerangkan kerinduan mereka dengan amal dan prilaku diri untuk berjumpa dengan Hadhrat afs.

7.     Menyebut keutamaan-keutamaan dan manâqib (do’a, zdikir dan ziarah ) Hadhrat dan hadir dalam majilis-majilis peringatan beliau

Mengingat keutamaan-keutamaan dan manâqib Ahlul-Bait as terlebih Hadhrat Walį ashr afs adalah sebagai mishdaq (wujud nyata) mengingat Allah Ta’ala. Ini adalah wadzifah semua orang beriman dan para penanti di ketika dalam majilis dan perayaan, mereka duduk membicarakan keutamaan Rasulullah dan keluarga beliau saww. Mengingat keutamaan-keutamaan Ahlul-Bait as pada hakekatnya sebagai mengagungkan syi’ar-syi’ar Ilahi dan menjalankan amar ma’rûf. Dan yang pasti perlakuan ini akan menjadi siksaan berat bagi syaithan.

8.     Merasa sedih karena berpisah dan jauh dari Hadhrat afs 

Dalam banyak riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda pribadi syi’ah adalah kesedihan dia dalam kesedihan para Imam as. Tidak diragukan lagi bahwa kegaiban Hadhrat afs serta apa yang menjadi kesedihan dan kedukaan beliau dan para pengikut beliau adalah dari yang paling utama sekali yang menyebabkan kesedihan para Imam as. Dalam berbagai riwayat yang banyak, memiliki keadaan sedih dan berduka karena berpisah dari Hadhrat afs sangat dipuji sekali. 

9. Membaca qashidah, sajak dan puisi berkenaan dengan keutamaan-  keutamaan Hadhrat afs 

Telah datang dalam sebuah riwayat : ” Siapa yang membacakan sebait syair tentang kami maka Allah Ta’ala akan membangunkan sebuah rumah baginya ke dalam syurga”. 

Dalam riwayat yang lain menyebutkan bahwa pahala-pahala yang agung dengan perbedaan timbangan diperuntukan kepada para penyair dan pemuja, dan perbedaan timbangan pahala ini boleh jadi disesuaikan dengan perbedaan derajat makrifat atau pengaruh syair dan qashidah mereka. Kedudukan yang dimiliki oleh para penyair seperti Kamiat asadi, Seyyed Hamiri, Da’bal khazai karena sebab makrifat dan ilmu pengetahuan yang benar mereka berkenaan dengan para Imam as dan penyebaran keutamaan-keutamaan mereka as dengan perantara seni sejati Islam.

10. Berdiri ketika mendengar sebutan nama dan laqab-laqab mulia Hadhrat afs sambil meletakan tangan keatas kepala sebagai tanda penghormatan

 Terdapat dalam sebuah hadis : Disuatu majilis yang di hadiri oleh Imam Shodiq as, diingatkan tentang Imam jaman afs, Imam Shodiq as bangun berdiri karena menghormati nama beliau afs. Ini adalah tatacara yang sudah berjalan di kalangan para Imam as dan para ulama besar syi’ah, juga dalam buku-buku yang berkaitan dengan perkara ini menganggap mustahab (sunah) melakukannya dikala sendirian. Bahkan sebagian dari para ulama mengatakan ; diketika dalam suatu mesjid, disebut lah nama Al-Imam zaman afs, maka sebagian dari para hadirin melakukan bangun berdiri, dan sebagian dari mereka tidak melakukannya tampa ada udzur, maka ini termasuk prilaku penghinaan dan mengoyak kehormatan, maka prilaku demikian akan menjadi haram.

 11.           Menangis dan menyebabkan orang lain menangis karena berpisah dengan Imam jaman afs 

Keutamaan menangis ini dikarenakan bahwa si penangis telah meneteskan air mata atas kesulitan-kesulitan yang menimpa Hadhrat dan qalbunya terbakar oleh karena berpisah dari Yusuf-nya Fathimah as, tangisan yang di sebabkan oleh penglihatan yang bertahun-tahun dilewatkan dengan kegaiban Imam yang menyebabkan suatu kelompok melontarkan kata-kata yang tidak senonoh berkenaan dengan beliau seperti ; telah mati, telah dibunuh, telah binasa. Syi’ah dan orang beriman yang mempunyai ilmu dan kesadaran serta memiliki makrifat terhadap maqam keimamahan, setelah menyaksikan dan mendengarkan ucapan-ucapan yang tidak senonoh itu maka air mata keterpisahan mengalir dari pelupuk matanya.  

Hati bak kayu terbakar oleh rindu melihat-mu

Mata deras alirkan air, bak sungai  karena  berpisah dari-mu  

Tenggelam dalam banjir air mata dan jiwa dipanggang

Orang tenggelam kobaran, bila akan dilihat

 Api cinta pada-mu terjatuh dalam kepala

Gemerlap dari hati, tidur dari mata-ku, dirampas.

12.      Memohon dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala supaya mengenal dan mengetahui Imam jaman afs

 Pengenalan terhadap cahaya-cahaya suci keberadaan para Imam pemberi petunjuk as tampa inâyah dan petunjuk Ilahi tidaklah mungkin. Allah Ta’ala–lah yang  meletakan hidayah ini kedalam hati manusia, Imam Shodiq as bersabda : ” Hikmah kebijakan yang Allah Ta’ala berikan kepada para hamba itu adalah keta’atan pada Allah dan makrifat terhadap Imam as “.(7) 

Dalam riwayat yang banyak telah menyebutkan bahwa perkara yang paling utama dam wajib setelah mengenal Allah dan Rasulullah saww adalah mengenal Imam zaman afs dan pemimpin urusan kaum muslimin (walį amri ). Tidak mengenal Imam as yakni terdampar dalam putaran deras kebodohan dan kedunguan (kebingungan) seperti kaum jahiliat sebelum Islam. Hendaklah diperhatikan bahwa pengenalan dan pengetahuan adalah perbikinan Allah Ta’ala, demikian juga Dia telah menyiapkan segala sebab-musababnya. Salah satu dari sebab-sebab itu adalah ketelitian terhadap perjalanan hidup para Imam as dan perkara-perkara luar biasa mereka (mu’jizât) serta pencermatan terhadap akhlak dan ucapan-ucapan mereka. Tetapi dengan usaha yang demikian hendaknya juga memohon taufiq pengenalan yang benar dari Allah Ta’ala. Namun yang pasti adalah Allah Ta’ala akan memberikan hasil jerih payah serta berita gembira pertolongan dan petunjuk seperti dalam firma-Nya : ” dan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha dalam mencapai kami maka kami akan memberikan petunjuk jalan kami kepada mereka “.(8) Marhum Kulainį dan syekh Thusį dan pemilik kitab “Al-Gaibah “ Nu’manį dengan mengambil periwayatan dari Zurârah, telah menaqalkan sebuah do’a dari Imam Shodiq as yang bersabda : ‘” Akan terjadi bagi pemuda itu ( Imam zaman afs ) kegaiban sebelum kebangkitannya …maka wahai Zurârah jika kamu mengalami zaman itu maka bacalah doa berikut :

  اَللَّهُمُّ عَرِّفَنِی نَفسَکَ فَاِنَّکَ اِن لَم تُعَرِّفَنِی نَفسَکَ لَم اَعرِف نَبِیَّکَ , اَللَّهُمَّ عَرِّفنِی رَسُولَکَ 

     فَاِنَّکَ اِن لَم تُعَرِّفنِی رَسُولَکَ لَم اَعرِف حُجَّتَکَ, اَللَّهُمَّ عَرِّفنِی حُجَّتَکَ فَاِنَّکَ اِن لَم تُعَرِّفنِی حُجَّتَکَ ضَلَلتُ عَن دِینِی

” Ya Allah! kenalkan padaku diri-Mu jika Engkau tak mengenalkan diri-Mu pada-ku maka aku tak akan dapat mengenal Nabi-Mu, ya Allah! kenalkan pada-ku Rasul-Mu maka jika Engkau tak mengenalkan Rasul-Mu pada-ku maka aku tak akan dapat mengenal Hujjah-Mu, ya Allah! kenalkan pada-ku Hujjah-Mu maka jika Engkau tak mengenalkan Hujjah-Mu pada-ku maka sesatlah aku dari agama-ku”. 

Berkenaan dengan pembahasan do’a di zaman kegaiban Imam telah termaktub dalam kitab-kitab yang bermacam-macam, bagi mereka yang suka akan – nya silakan merujuk kepada kitab-kitab itu.

13.      Mengenal tanda-tanda kemunculan Hadhrat afs

Termasuk dari tugas orang beriman dan para penanti adalah mengenal tanda-tanda kemunculan Hadhrat afs. Tak tertinggal untuk dikata bahwa tanda-tanda kemunculan telah dibagi kepada beberapa macam istilah yang berbeda-beda seperti : Hatmiah ( tanda yang pasti), Gairu hatmiah ( tanda yang tidak pasti ), Qaribah ( tanda dekat ), dan Ba’įdah ( tanda jauh). Mengenal tanda-tanda ini dikarenakan supaya manusia ketika nampak tanda-tanda yang pasti dan yang sudah dijanjikan maka mereka akan menghadap kearah Hadhrat afs. Tanda-tanda ini telah diterangkan oleh para Imam suci as supaya dapat membedakan percakapan yang benar dari para pembohong, supaya orang-orang yang beriman mengenal tanda-tanda ini dari jalan Itrah as saja, sehingga mereka tidak akan mengikuti kelompok pengaku-ngaku imamat yang hanya menipu manusia tampa ada isi dalam sarung bekalnya. Perhatikanlah dua riwayat di bawah ini : 

 1.Telah dinaqalkan dari Muhammad bin Shomit yang berkata : “Saya menghaturkan percakapan kepada Imam Shodiq as : Apakah tidak ada tanda-tanda sebelum kemunculan (dzuhûr) ? Imam bersabda : ada, saya melanjutkan : Apakah itu ?, Imam bersabda : yaitu terbinasanya Abbâsį, terkeluarnya safiyânį, terbunuhnya jiwa yang suci, terperosoknya dataran di Baidâ’ ( tanah dataran antara Makkah dan Madinah) dan terdengar suara dari langit . Saya berkata : Saya berkorban untuk Anda, saya khawatir perkara ini akan mengalami masa yang panjang, Imam bersabda : Tidak, namun yang pasti adalah itu seumpama biji-biji tashbih yang beratur rapi, berurutan.”(9)

2. Dinaqalkan dari Hamrân bin A’yan dari Imam Baqir as berkenaan dengan tafsir ayat :

 ( فَقَضَي أجَلاً و أجَلٌ مُسَمَي عِندَه )

 bersabda : ” yang pasti ada dua ajal (ketetapan), satu ajal hatmį yang pasti berlaku dan yang kedua ajal mauqûf yang bergantung pada perkara yang lain, Hamrân berkata : Saya berharap ketetapan yang berlaku atas Safiyanį adalah dari ketetapan yang mauqûf. Imam Baqir as bersabda : Tidak, demi Tuhan itu dari bagian ketetapan yang hatmį. (10&11) 

14.      Menyerah pada urusan Allah Ta’ala, tidak tergesa-gesa dan tidak mengada-ngada menentukan waktu kemunculan

Terdapat dalam riwayat yang banyak menyatakan : ” Kamu sekalian menyerahlah pada perkara Allah dan jangan tergesah-gesah karena dalam ketergesahan boleh jadi akan membinasakan kamu”. Dalam riwayat yang lain yang dimaksud dengan perkara Allah tersebut adalah kegaiban Hadhrat afs yang memiliki batas akhir, dan pasti akan mencapai batas akhir itu. Dalam sebuah hadist dari Imam Shodiq as yang bersabda:” Mahâdhįr telah binasa”, perawi berkata : Saya bertanya apakah yang dimaksud dengan mahâdhįr ? ,beliau berkata : Mereka yang tergesah-gesah, lalu Imam Bersabda: Telah dekat bagi para penghisab diri untuk mencapai kejayaan dan benteng kesabaran tetap berada di atas kaki – kaki teguh mereka”(12). Sebab dicelanya ketergesah-gesahan adalah oleh karena si pelaku ketergesahan mungkin dia akan melepaskan rasa sabar dan tanggungjawab sehingga ia akan mengikuti orang-orang yang sesat yang mengaku-ngaku memiliki maqam keimamahan, atau ketergesahan ini akan menyebabkan  keputus-asaan dari kejadian perkara kemunculan Imam yang agung. Keputusasaan ini bermakna membohongkan para Imam pemberi petunjuk as dan Rasulullah saww. Seseorang yang tergesah-gesah mungkin dari pengaruh keraguan dirinya, ia juga akan mengajak orang lain untuk ikut ragu, atau ia akan meninggalkan amalan-amalan dan tugas-tugas di masa kegaiban seperti ; meninggalkan do’a supaya dicepatkan kemunculan Hadhrat atau meninggalkan sedekah untuk keselamatan diri Imam zaman afs, Dan juga ia akan meninggalkan perbuatan-perbuatan penting lainnya. 

15.      Bersedekah dengan tujuan sebagai mewakili kehadiran hadhrat dan keselamatan beliau afs

 Dalam peraturan hukum Agama Islam membenarkan orang beriman saling mewakili dalam melakukan amalan-amalan kebaikan seperti : Mendirikan sholat, melakukan ziarah, memberi sedekah, ini menunjukan adanya rasa saling cinta antara satu sama lain. Imam zaman afs adalah pemimpin orang-orang beriman serta memiliki maqam keimamahan bagi ummat dan sebagai hujjah Ilahi maka jika suatu amal dilakukan dengan mewakilkan diri untuk beliau maka tentu memiliki nilai yang lebih tinggi. Telah dinaqalkan dari Imam Musa bin Ja’far as, bahwa beliau as dalam menjawab seseorang yang bertanya : ” Apakah aku dapat melakukan haji, mendirikan sholat dan memberi sedekah sebagai menggantikan mereka yang masih hidup dan telah meninggal dunia dari kalangan keluarga dan teman-temanku ?, Imam bersabda :” Ya boleh, kamu bersedekah sebagai mewakilkan dirinya, dirikanlah sholat, dan dengan sebab silaturahim dan perhubungan-mu dengannya, engkau mendapatkan pahala yang lain”.(13)

Sekalipun pada kebiasaanya manusia memanglah akan saling berhubungan antara keluarga dan orang-orang dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, tetapi dalam riwayat ini menjelaskan persoalan melakukan amalan-amalan dengan mewakilkan diri untuk keluarga serta teman-teman yang beriman yang hidup dan telah meninggal dunia. Dan Imam as dalam menjawab soalan tersebut, juga memberikan dorongan untuk melakukannya.Poin penting yang diperhatikan disini adalah bahwasannya tiada hubungan yang lebih kokoh dari hubungan antara Imam dan orang-orang yang beriman, karena Imam as adalah pengalir anugrah Ilahi dan pengantara antara Bumi dan Langit.

 اَينَ السَبَبُ المُتَصِلُ بَينَ الارضِ وَ السَمَاء))

Amalan-amalan lain yang telah dianjurkan adalah memberikan sedekah dengan niat untuk keselamatan Imam zaman afs. Siapakah musafir yang paling mulia lebih dari Hadhrat Walį ashr afs yang baginda Rasulullah saww telah bersabda :” Seorang hamba belum beriman sehinggalah dia mencintai-ku melebihi dari dirinya sendiri, dan mencintai keluarga-ku melebihi dari keluarga dirinya sendiri, serta mencintai anak-keturunan-ku melebihi dari anak-keturunannya sendiri, dan sari-pati (dzât) aku disisinya lebih ia cintai dari pada sari pati dirinya “.(14) 

Selain dari memberikan sedekah, dengan melakukan haji, ziarat ketempat-tempat yang suci dan orang-orang yang telah mati syahid dengan perantaraan orang lain atau mengambil wakil untuk melakukan amalan-amalan tersebut sebagai menggantikan Hadhrat afs juga termasuk perbuatan yang telah dianjurkan, dan mustahab dilakukan di masa kegaiban. Yang perlu diperhatikan adalah setiap amalan yang kita lakukan sebagai menggantikan diri Hadhrat afs dan keluarga mulia Rasulullah saww, selain menunjukan atas kecintaan dan kesetiaan terhadap keluarga mulia ini, paling besar faedahnya – Insyaallah rahmat dan keberkatan Ilahi – akan meliputi keadaan diri kita. Karena akhlaknya keluarga ini berdasarkan :

 ( عَادَ تُكُم الاِحسَانُ وَ سَجَيٌَتُكُم الكِرَم)

– yaitu kebiasan kalian adalah berlaku baik dan budipekerti kalian mulia -. Mereka adalah para penafsir Al-Qur’an dan merekalah pengamal-pengamal undang-undang Ilahi dan Al-Qur’an, dan merekalah tempat penampakan lutfi Ilahi serta berakhlak belas kasih sebagaimana dalam Al-qura’an disebutkan :

مَن جَاءَ بِالحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرَ اَمثَالِهَا “.

Jika manusia beranjak satu langkah kearah Tuhan maka taufiq sepuluh langka yang lain akan dianugrahkan kepadanya. Karena itu misalkan bersedekah senilai seratus Rp demi keselamatan Imam zaman afs, maka akan sebanding dengan seribu Rp, keberkatan dan perhatian Hadhrat pun akan mengikutinya. Apakan ada kebahagiaan yang melebihi dari pada manusia mendapatkan taufiq dalam melakukan amalan-amalan ini.

 اللهمٌ ارزقنا توفيق الطاعة

16.   Berusaha dalam perkhidmatan dan menolong Hadhrat

Para Imam pemberi petunjuk as mempunyai kedudukan khusus dan utama. Di antara para Imam, bahkan menurut pandangan Imam yang lain as, Imam zaman mempunyai kekhususan tersendiri, sehinggalah dinaqalkan dari Imam Shodiq as bersabda :” Dan seandainya saya mendapatkan masa ia, maka seluruh kehidupanku akan ku-khidmatkan kepada-nya “.

Sabda beliau ini hendaknya tak diambil dengan remeh dan mudah-mudah saja. Suatu perkataan besar dari Imam Shodiq as ini sebagai ungkapan puncak penghormatan dan pengagungan beliau as terhadap wujud mulia Hadhrat Walį ashr afs. Imam Shodiq as disepanjang masa usianya telah melakukan perkhidmatan penuh dan menyebar-luaskan ma’ârif  Ilahi, namun kata-kata demikian beliau mengatakannya. Yang benar adalah kita-pun hendaknya memilki i’itiqôd ( keyakinan ) seperti itu, karena keluarga ( para Imam suci ahlul-Bait as) yang dibanggakan oleh para malaikat di langit, itupun telah melakukan perkhidmatan kepada-nya ( Imam zaman afs), dan memang pasti mereka memiliki maqom dan keagungan ini. Dan bila kita bangga terhadap perkhidmatan kepadanya maka jadilah kita bertabiat malaikat.Taklif-taklif yang lain di masa kegaiban adalah hendaknya kita menolong Hadhrat afs. Al-Qur’an yang mulia menaqalkan perkataan Hadhrat Îsa as yang berkata :

  من انصاري الي الله قال الحواريٌون نحن انصار الله

menolong para wali Allah Ta’ala dan nabi-nabi mulia adalah sebagai menolong Allah Ta’ala sendiri dan menolong agama-Nya. Terdapat dalam Al-Qur’an juga, Allah  berfirman :  

  اِن تَنصُرُوا الله ينصركم”

Hendaknya diperhatikan bahwasannya Allah Ta’ala pemilik dzat suci dan maha berkemampuan tidak butuh kepada pertolongan kita para makhluk, dan kita jugalah yang jikalau dicabut inayah-Nya satu skon saja dari kita, maka kita akan tiada dan menjadi binasa. Jadi menolong Allah bermaknakan menolong para wali Ilahi dan menolong agama Allah serta Rasul mulia dan para Imam as. Menolong Rasul mulia dan para Imam pemberi petunjuk as yakni mengamalkan peraturan-peraturan mereka, dan ini disetiap jaman memiliki perbedaan, terkadang dengan cara kemiliteran seperti jihad dan perlawanan. Terkadang juga dengan do’a dan sedeqah, atau dengan menubuhkan majilis-majilis, peringatan dan mengadakan pembendungan budaya dan lain-lain cara. Hendaknya semua berazam/bertekad untuk membantu Hadhrat disegala keadaan, dan kita hendaknya mengetahui niat dan tujuan menolong Hadhrat adalah sangat penting sekali. Terdapat dalam riwayat berbunyi :

 نٍِيٌةُ المُؤمِن خَيرٌ مِن عَمَلِهِ 

( niatnya orang beriman itu lebih baik dari pada amalnya ).

 Dalam sebuah sarahan lain Imam Shodiq as bersabda :” Saya sendiri tidak keluar dari para syuhada Karbala, dan perhitungan pahala-ku tidaklah lebih sedikit dari pahala mereka, karena dalam niat, saya menolong agama yang hak dan membantu Imam Husein as…”(15)

17.      Memperbahrui bai’at dengan Hadhrat di setiap hari selepas sholat fardu dan di setiap Jumaat 

Dalam khotbah Al-Gadįr, Rasulullah saww menyerukan kepada para hadirin dan kepada mereka yang tidak hadir untuk melakukan bai’at dengan para Imam, orang-orang beriman hendaknya perikatan janji dan bai’at ini diperbarukan lagi bersama Imam di setiap zaman. Bai’at dengan wakil kebenaran bermaknakan berbai’at dengan Allah Ta’ala,

( انٌَ الَذ ين يبايعونك انٌما يبايعون الله ).

Asli hukum bai’at adalah wajib dan diperlukan dan perbaharuannya menjadi perkara yang sangat ditekankan. Mengenai hal ini banyak riwayat yang menyebutkan, dan juga telah dihaturkan do’a-do’a untuk waktu yang berbeda-beda. Dari sekian do’a-do’a yang menjadi perhatian adalah do’a Âhd , yang telah dinaqalkan dari Imam Shodiq as, do’a ini mencakupi pembelajaran makrifat dan pengenalan terhadap Imam, do’a ini mengandungi makna yang banyak dan mestilah kita boleh mengatakan do’a ini adalah ibu dari segala do’a. Dalam kitab-kitab sumber telah diriwayatkan bahwasannya para malaikat Ilahi di setiap hari Jumat di Baitul-Ma’mûr mereka berkumpul untuk memperbaharui bai’at kewilayahan para Imam yang suci as. Dengan memperhatikan matlab di atas yang banyak mengkhususkan hari Jumat untuk Hadhrat afs, maka selayaknya di hari Jumat dapat mengadakan bai’at dengan Imam jaman dan sebisa-bisanya diusahakan untuk memperbaharuinya. 

18.      Mengadakan silatur-rahim dengan harta benda terhadap Hadhrat afs atau terhadap para syiah dan pecinta 

Termasuk perkara yang dimustahabkan dan menjadi hal yang ditekankan di masa kegaiban Imam zaman afs adalah mengkhususkan sebahagian dari harta-benda yang ada untuk Hadhrat. Terdapat dalam riwayat menyatakan :” Tiada perkara yang paling dicintai disisi Allah melebihi perkara mengkhususkan uang/harta-benda untuk Imam afs, sungguh Allah Ta’ala akan menetapkan bagi yang menunaikan satu dirham sama dengan satu gunung Uhud di syurga.  Silatur-rahim dengan cara demikian hendaknya disertai pikiran bahwasannya Imam afs tidak butuh terhadap harta yang ada di tangan manusia, namun manusialah yang membutuhkan supaya Imam afs dapat mengabulkan hartanya untuk mensucikan diri manusia sendiri. Dalam sebagian dari kitab-kitab sumber hadist meriwayatkan :

” Jika kamu tidak dapat bersilatur-rahim dengan berziarah kepada kami maka lakukanlah silatur-rahim dengan para pecinta kami dan ziarahilah salah seorang dari mereka yang sholeh “.(16)

19.      Mengirim salam dan sholawât atas beliau afs dan menghadiahkan sholat untuknya.

Mengirim shalawât kepada Rasulullah dan keluaraga-nya saww sudah menjadi perkara yang banyak diperhatikan dan ditekankan dalam ayat-ayat dan riwayat. Matlab ini demikian lebih diperhatikan dalam riwayat, sehingga sangat sedikit yang dapat dijumpai topik bahasan yang sebanding dengannya dalam pemberhatian dan sensitifnya perkara tersebut. Diantaranya mengirim salam dan sholawat atas Hadhrat Walį ashr afs dalam banyak do’a yang datang dari para Imam pemberi petunjuk as. Dan yang pasti dalam kitab-kitab do’a sholawat atas para Imam pemberi petunjuk as telah disebutkan secara terpisah dan khusus diperuntukan bagi setiap satu-persatu dari mereka. Dari sekian do’a salam dan sholawat  keatas Hadhrat Walį asr yang termuat adalah do’a yang dinaqalkan oleh marhum sayyid Ibnu Thowus, doa tersebut di mulai dengan kalimat : 

 صَل علي وَلِيٌك و ابن اولياءك الذ ين فرضت طاعتهم… الٌلهُمٌ  .(17)

Dalam kitab tersebut ada sebuah bahasan yang dikhususkan kepada topik: ” hadiah sholat untuk para Imam as”. Dan dalam sumber keterangan yang lain telah disebutkan bahwasannya mustahab bagi manusia untuk melakukan sholat dengan niat menghadiahkannya kepada Walį ashr afs dengan penjelasan sebagai berikut : Mulailah dari hari Jumat dengan melakukan delapan rakaat dengan niat 4 rakaat untuk dihadiahkan kepada Hadhrat Rasulullah saww, dan 4 rakaat lagi untuk Hadhrat Az-Zahra as, Di hari Sabtu hingga hari kamis demikian juga di setiap harinya melakukan delapan rakaat sholat, setiap 4 rakaatnya dihadiahkan kepada setiap seorang dari para Imam as sehinggalah 4 rakaat terakhir yang dilakukan pada hari khamis itu dihadiahkan kepada Imam zaman afs, perlu diperhatikan disetiap lepas dari dua rakaat sholat-sholat tersebut hendaknya membaca (اللهُمٌَ أنتَ السَلام… ) dan di tempat perkataan (فلان بن فلان  ) hendaknya menyebutkan nama seorang Imam yang diniatkan untuk dihadiahkan sholat itu kepadanya.

 1.  Penantian yang memiliki Nilai-nilai suci seperti yang diperjuangkan dalam peristiwa kebangkitan Islam Al-Imam Husein as di Karbala yang bertepatan dengan tarikh 10 Muharam 61 h yang terkenal dengan peristiwa Asyuro’.(penterjemah)

2.  Kepanjangan dari “Ajjalallahu Farajahu Syarįf”/ semoga Allah mempercepatkan kemunculannya”.

3.     . مِن دِینِ الائمة الورع و العفّة و الصلاح … و انتظار الفرج بالصبر  ( Mįzănul-hikmah  j1, h 182).

4.   Kitab Washa’ilul Syi’ah j11, kitab Al-jihad dan Al-amru bil ma’ruf  h487 bab 33 .

5.   Para pembaca yang ingin melihat kembali riwayat tersebut sila merujuk kepada kitab seperti Mikyalul-makarim h172 – 199.

 6.  Surat Al-an’âm ayat 71.

7.  Kitab Usulul-Kâfį  j1, h185, bab Ma’rifat Imam as.

8. Qur’an surah Al-ankabut   ayat 69   .

9. Kitab ” Al-Gaibah ” Nu’mani h139, Tanda-tanda Dhzuhu

10. & Kitab itu juga dan halaman yang sama , سفياني من المَحتوم11.           Kitab itu juga dan halaman yang sama

12.       Para pembaca yang ingin merujuk kembali sila melihat kepada  buku seperti ” مهدي موعوى” kitab berbahasa farsi sebagai terjemahan dari ” Al-bihar” jilid ke-13.

13.  Kitam Wasa’ilul-Syi’ah j5, h367.

14. Kitab majâlis Shadûq halaman 201.

15.Kitab Raudhatul-kâfį  j8, h8.

16. Kitab kâmiluz-zirât halaman 319 bab 105.

17. Kitab jamâlul-usbu’ halaman 493.

 Penterjemah :  Umfat 

Cuplikan dari kitab Nesyonehoi-az-Qô’im-Âli-Muhammad saww-Milik ; Sayyid Yahya Ma’ruf Fadhil Hamedani. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: