TAZKIATUN-NAFS

Mengadakan hubungan ruhani dengan para maksumin as memacu ekstase spiritual dan menyucikan jiwa manusia sehingga mencapai “Nafsul-Muthmainnah” yang akan mendatangi Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi , demikian sosok-sosok pejuang perang  dengan hawa nafsu telah menunjukan kewibawaannya seperti yang diperankan oleh Al-Imam Khumaini  quddisa sirruhu zakiah.Sebaiknya Anda juga memperhatikan pentingnya perkara ini dalam peri kehidupan Anda!!.

Tujuan pembahasan :

Untuk mewujudkan kepribadian manusia yang berjaya berdasarkan pandangan wahyu Ilahi, sebagai yang termaktub dalam kitabullahil Aziz : yang berbunyi

 قَد أَفلَحَ مَن زَکّیهَا ، وَقَد خَابَ مَن دَسَّیهَا

“Telah berjaya orang yang membersihkan jiwanya dan menyesal/binasa orang yang mengotorinya”.( Qs Asyams ayat 9-10) Noktah penting :

Ayat-ayat suci Al-Quran mempunyai hubungan menjelaskan satu dengan yang lain dan tidak ada pertentangan kandungan makna didalamnya. Beberapa ayat lain yang sekarang kita kemukakan untuk mendapatkan kejelasan mengenai “Tazkiatun-Nafs”. Ayat-ayat berikut dalam surat Al-Mu’minun. menjelaskan kemenangan dan berjayanya orang yang beriman, yang mensucikan dirinya dengan menjalani amalan-amalan yang diperintahkan  dan meninggalkan  Amalan-amalan yang dilarang (yang mengotori jiwanya).

 قًد أفلًحً المُؤمِنُونَ(1) الَّذیِنَ هُم فِی صَلَاتِهِم خَاشِعُونَ(2) وَالّذِینَ هُم عَن اللَّغوِ مُعرِضُونَ(3) وَالَّذِینَ هُم لِلزَّکَاوةِ فَاعِلُونَ(4) وَالذینَ هُم لِفُرُوجِهِم حَافِظُونَ(5) إِلاّ عَلَی أَزواجِهِم …(6)فَمَنِ ابتَغَی وَرَآءَ ذَالِکَ فَأُلَاءکَ هُمُ العَادُونَ(7) وَ الَّذِینَ هُم لِأَمَانَاتِهِم وَعَعدِهِم رَاعُونَ(8) وَالَّذِینَ هُم عَلَی صَلَواتِهِم یُحَافِظُونَ(9) أُلَاءِکَ هُمُ الوَارِثُونَ(10) الّذِینَ یَرِثُونَ الفِردَوسَ هُم فِیهَا خَالِدُونَ (11). 

(1).Telah berjaya orang-orang yang beriman. (2).Iaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.(3). Mereka  yang menghindar dari amalan yang sia-sia/tak bermanfaat. (4).Mereka yang menunaikan zakat. (5).Mereka yang menjaga kemaluannya.(6).Kecuali atas istri/suami … .(7).Maka siapa yang mencari-cari dibelakang ini, maka ia itu orang yang melampaui batas. (8).Dan mereka yang menunaikan amanat dan janji mereka.(9).Dan mereka yang menjaga sholatnya.(10).Mereka itulah orang-orang yang mewarisi.(11)Mereka mewarisi surga firdaus yang akan kekal didalamnya”.

Bila kita perhatikan firman2 Allah ini maka kita akan dapat memahami bahwa : “Kejayaan manusia terletak dalam pensyucian diri/Tazkiatun-nafs”. Kenapa demikian?. Ini oleh karena, kecendrungan2/keinginan2 tinggi dan mulia manusia, telah ada  berbentuk potensial /isti’daad dalam fitrah penciptaannya”. Potensialitas kecenderungan/keinginan fitrah yang mulia dan tinggi itu, akan menjadi perkara nyata /fi’liat dengan menjalani Tazkiah atau penyucian jiwa dari berbagai noda-noda dan kehinaan, sehingga jiwa yang suci itu dapat mengalami perkembangan dan menjadi asas amalan-amalan baik dan sholeh, yang dengan itu ia mencapai kesempurnan dan mulia/qurb di sisi Allah swt yang membuahkan kejayaan baginya. Dan sebaliknya dengan giflat dan lalai terhadap tazkiatun-nafs akan mengantarkan manusia pada kecelakaan hidup dunia dan akhiratnya ( jauh dari Tuhan bahkan mendapat azab), kebinasaan dan penyesalan.

Definisi : “Tazkiatun-Nafs” suatu Istilah yang digunakan dalam ilmu2 ke-Islaman, diambil dari bahasa Arab, tersusun dari dua kata “Tazkiah” dan “nafs” : yang bersumber dari istilah Quran dari kata  /تَزَکَی Tazakka, yang berakar kata/ زَکَوَ و زَکاءَ  zakawa dan zakậ’a yang berarti / نُمُوtumbuh dan /زِیَادَةٌbertambah. Ketika kalimat ini bergandengan denga kata nafs/ jiwa manusia, maka ia bermakna : “Penyucian dan pembersihan”  dengan menunjukan makna “Penjagaan diri untuk senantiasa taat dengan perintah dan meninggalkan larangan Syariat dengan tujuan mencapai keridhoan/kedekatan diri kepada Allah SWT.

Kebalikan makna zakkậha adalah makna / دَسّیهاDassaha” dari akar kata  “دَسَّ” / dassa, yang berarti: “menyembunyikan dan memasukan sesuatu dengan tujuan meletakannya dalam ketertutupan”. Sebagai mana makna yang datang dalam ayat lain berkenaan dengan dikubur hidup-hidupnya anak-anak perempuan di kalangan Arab jahiliat : Allah berfirman:  ( atau dimasukannya ke dalam tanah

 أم یَدُسُّهُ فِی التِّرَابِ…).

Jadi tazkiah berarti pembersihan dan perkembangan sedang tadassa berarti pengotoran dan menutup-nutup.  

Adapun yang dimaksud dengan Nafs adalah sebagai kesatuan dari makna badan dan ruh insan dalam bahasa kita disebut “diri manusia”. 

Kepentingan membahas masalah “Tazkiatun-nafs” : Dengan memperhatikan pembahasan ayat-ayat di atas maka kita dapat menyimpulkan beberapa kepentingan membahas masalah tazkiatun-nafs, di antaranya Sbb: 

1.“Tazkiatun Nafs” : Sebagai salah satu tujuan utama pengadaan syariat Allah swt atau diutuskan-Nya para   Rasul dan washi-washi-Nya kepada ummat manusia dengan hidayah wahyu Ilahi sendiri yang telah termaktub dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist.

 وَ یُزَکّیهِم وَیُعَلّمُ هُمُ الکِتابَ وَ الحِکمَةَ

“Dan untuk mensucikan mereka dan mengajarkan Al-Kitab dan Alhikmah”.

 2.     Dengan tazkiatun-nafs manusia mencapai tujuan penciptaannya, sebagai tujuan Allah Swt.

وَمَا خَلَقتُ الجِّنَّ وَ الإنساَ إلاَ لِیَعبُدُونَ

Tiada aku cipta jin dan manusia kecuali, hanya untuk mereka melakukan peribadatan(menyembah –ku)”.

3.     Dengan Tazkiatun-nafs manusia akan mencapai makrifat dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt ( maqam qurb il-llah).

4.     Penyebab kemenangan hakiki bagi manusia. 

Oleh karenanya “Ajaran Agama banyak berkisar pada makrifat diri dan himbauan kepada umat manusia untuk menjaga diri dari segala dosa dan kesalahan sambil memperlengkapi atau menyempurnakannya dengan akhlak2 mulia Tuhan yang layak dimiliki oleh manusia2 sempurna”. “Banyak maksudnya disini ialah : “Paling utama”, Tuntunan Agama yang paling utama adalah “Mengenal diri, tugas dan akhir kehidupan bagi manusia melebihi tuntunan bagi manusia untuk mengetahui seluk beluk ciptaan Alam secara terperinci”, misalkan kita ingin meneliti penciptaan gunung, itu dari apa?, katakanlah kita sudah mendapatkan “Natijah bahwa gunung mempunyai fungsi untuk mengokohkan bumi, supaya manusia dapat tenang hidup di atas permukaan bumi ini menjalani peribadatan kepada Tuhannya dengan rasa aman dan menyadarkan diri manusia untuk bersyukur dan taat kepada Allah yang menciptakan gunung-gemunung ini”.

Kita tidak di tuntun untuk mengisi seluruh detik kesempatan hidup ini, dengan hanya meneliti seluk-beluk; dari apa dan bagaimana gunung itu diciptakan?, hingga usia kita habis hanya untuk menyibukan diri mengenai hal itu”, tampa memperhatikan perkara lain, berbeda dengan anjuran Agama tentang “Tazkiahtu-Nafs”, dimana manusia harus memperhatikannya, teliti, kritis dan hingga ia mati dalam seluruh detik kehidupannya, ia harus menumpukan perhatian dan ketelitian dan kemampunnya itu pada perkara ini, kenapa karena inilah yang akan menentukan akhir suratan takdir manusia di hadapan Tuhan-nya, “Bahagia atau sengsaranya, diridhoi atau diazab”.         

 SEBAB-SEBAB TAZKIATUN-NAFS :

Boleh jadi banyak hal yang menyababkan manusia menjalani tazkiatun-nafs, namun disini kami memilih sebab yang ditunjukkan oleh wahyu Allah sendiri :

 1.     Sambutan manusia terhadap ilham positif dari suara jiwanya sendiri:

  وَنَفسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَألهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقوَاهَ، قَد أفلَحََ مَن زَکَیهَا 

“Demi jiwa dan penciptaannya, maka telah diilhami baginya kefajiran(keburukan) dan ketakwaannya(kebaikannya), telah berjaya orang yang membersihkannya”.(Qs Asyams 7-9).

2.     Sambutan positif manusia kepada panggilan kebangkitan para Rasul Allah:

 هُوَ الّذِی بَعَثَ فِی الأمّیینَ رَسُولاً مِنهُم یَتلُو عَلَیهِم آیاتِهِ وَیُزَکِّیهِم وَیُعَلِّمُهُمُ الکِتَابَ وَ الحِکمَةَ

“Dia yang membangkitkan utusan dalam kalangan kaum yang buta huruf, yang membacakan atas mereka ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka dan mengajari mereka Al-kitab dan hikmah”.(Qs al-Jum’ah ayat 2) .

Maidan-Maidan/objek penyucian diri adalah :

1. Amalan.

2. Niat.

3.Pengantar atau wasilah (kita bahas khusus pada masa akan datang  insyaAllah).                 

 Amalan iaitu : Segala prilaku atau pergerakan dan perkataan yang dihasilkan oleh diri manusia.

Amalan terbagi kepada :

1.     Amalan2 Dzahir.

2.     Amalan2 Bathin. 

A.   Amalan Dzahir meliputi:

1.     Prilaku jawareh (anggotan dzahir badan). Sprt prilaku Mata : “melihat/menyaksikan” : “Menggunakan mata untuk melihat perkara2 yang diperintahkan dan memalingan pandangan dari sesuatu yang dilarang oleh syariat untuk melihatnya”….. demikian juga untuk anggota badan yang lain (Kaki,Tangan., Telinga, Mulut, Aurat, dst…).

2.     Ucapan dan perkataan : Meliputi : “Janji-janji, berita yang disampaikan, ajaran dll yang berkenaan dengan suara, yang di keluarkan oleh manusia. Itu semua harus di sesuaikan dengan apa yang di perintahkan dan menghindari dari ucapan dan perkataan yang dilarang oleh syariat.Sprt : “ Menepati janji, berkata jujur menyampaikan ajaran agama yang benar dll. Serta menghindari diri dari : Berbohong, menipu, Menggibah, menfitnah, mengadu-domba,  menghina, berteriak-teriak tampa alasan yang benar, menggunakan kata-kata tak senonoh,  mengucapkan kata-kata seperti Uuh/ufin kepada kedua orang tua, dll (yang masing-masingnya membutuhkan penjelasan, InsyaAllah pada kesempatan lain akan kita bahas ).

 وَلاَ تَقفُ  مَا لَیسَ لَکَ بِهِ عِلمٌ إنَّ السَّمعَ وَالبَصَرَ وَ الفُؤَادَ کُلُّ أُولئکَ کَانَ عَنهُ مَسئولاٌ

“Dan jangan berhenti  pada sesuatu yang kamu tak memiliki ilmu mengenainya, sesungguhnya pendengar, penglihatan dan hati akan dipersoalkan/dimintai pertanggungjawaban mengenai-nya”.

 B.    Amalan bathin: meliputi : 

1.Niat ;

Manusia yang berakal, ketika menjalani amalan-amalan dzahir dan bathin pasti beriringan dengan tujuan, tujuan itulah yang disebut dengan niat, niat adalah termasuk amalan atau ikhtiar bathini karena ia dijalani oleh batin/hati/ruh manusia. Mengingat banyaknya hal yang boleh menjadi niat dalam kita melakukan sesuatu perkara hatta yang pada dzahirnya adalah prilaku yang di perintahkan oleh Syariat : seperti melakukan sholat, menolong yang lemah, boleh jadi niat kita tidak berdasarkan perintah syariat : Seperti dalam Syariat, Allah menganjurkan supaya kita melakukan amal dengan niat “Mendekatkan diri kepada Allah swt/ Qurbatan ilal-llah”, murni hanya itu. Tetapi kita terkadang diliputi oleh niat lain spr: ingin mendapat pujian dr sesama manusia, ingin mendapat maqam dalam kehidupan bermasyarakat dll. Seperti Ria’(menampak-nampakan segala perbuatan baik supaya dipuji-puji baik), namun ketika tak ada manusia yang melihat, ia-pun tak segan2 melakukan maksiat kepada Allah swt dan mempunyai niat yang lain pula.

 2. Berfikir ;

Berfikir adalah pekerjaan yang di jalani oleh akal atau dzihin manusia dengan makna: “Pergerakan antara berbagai maklumat untuk menyelesaikan kejahilan dan kemusykilan dirinya di sebut berfikir”. Berfikir juga merupakan suatu Amalan yang terkadang boleh salah, menyimpang dan kotor sebagaimana iapun boleh benar, lurus dan bersih. Seperti khayalan yang berkepanjangan, tidak senonoh dan haram, merancang makar dan menipu sesama muslim khususnya dan manusia umumnya dll, sebagai amalan berfikir.  Dikarenakan berfikir sebagai pekerjaan Akal maka berposisi sangat penting bagi semua amalan dzahir dan batin manusia. Karena akalah yang mengendalikan seluruh amalan bathin dan dzahir manusia, oleh karenanya Ia akan menjadi asas bagi bersih dan kotornya jiwa manusia. Oleh karenanya ketika kita membahas sebab-sebab kebersihan dan kekotoran jiwa semuanya berkisar pada kebenaran dan kesalahan berfikir manusia. 

Sebab-sebab kekotoran jiwa : Sebagaimana sebab-sebab tazkiatun-Nafs itu beraneka maka sebab-sebab menyimpang dan kotornya jiwapun bermacam-macam, namun di sini kita mengemukakan pandangan wahyu : 

1.Rakus dunia, Allah berfirman :

  قَد أفلَحَ مَن تَزکَّی، وَذَکَرَ اسمَ رَبِّهِ فَصَلّی بَل تُؤثِرُونَ الحَیَاةَ الدُّنیَا

“Telah berjaya orang yang membersihkan diri, ia mengingat akan Tuhan-nya  lalu menunaikan sholat, Namu kamu memilih kehidupan dunia saja”. 

Padahal dalam ayat lan Allah berfirman :

 وَالآخِرَةُ خَیرٌ وَ أبقَی

“Sedang Akhirat lebih baik dan lebih kekal”(Qs Al-A’la/ 17).

Dengan manusia hanya memperhatikan kehidupan dunianya, maka lahan kekotoran jiwa, penyimpangan dan ghiflatnya dari mengingat kepada Allah dan kehidupan ahkirat akan semakin melebar yang berakhir dengan kebinasaan dan kesengsaraannya. 

2.     Bahkil  diri yang berbarengan dengan rakus dan tama’/ (شُحَّ نَفس) .

3.     Tazkiah dalam angan-angan saja/ Tazkiah negatif. 

Dalam ajaran Quran orang-orang beriman dicegah untuk menganggap diri suci,  yang kita sebut sekarang dengan istilah tazkiah negatif yaitu “Tidak menjalani amalan tazkiah nafs dengan makna yang sebenarnya, namun malah mengklaim diri sebagai yang memiliki jiwa yang suci, bahkan bagi yang menjalani tazkiatunafs secara benar-pun, tak layak menganggap diri telah mencapai kebersihan jiwa dengan mutlak semasih ia hidup di dunia, karena watak kehidupan dunia yang diliputi oleh suasana ujian. Allah Ta’ala berfirman :

فَلا تُزَکُّوا أنفُسَکُم

“Maka jangan mengaku-ngaku dirimu bersih”(QsAn-najm/ 32).

 Sebahagian manusia bukan hanya ia tidak menjalani tazkiatunafs, malah ujub dan sombong memuji-muji dirinya, yang hakekatnya ia menganggap diri memiliki jiwa yang suci. Sebagaimana yang lain lagi menganggap diri sebagai kalangan yang sudah dekat dengan Allah SWT. Allah membawa ucapan mereka dalam firman-Nya :

 نَحنُ أَبنَاءُ اللهِ و أحِبّاؤُهُ

Kami Anak-anak Tuhan dan pecinta-Nya”(Qs Al-Maidah/18).

 Atau dalam ayat lain:

 لَن تَمَسَّنَا النّارُ إلاَّ أَیَّاماً مَعدُودَةً

Kami tidak akan tersentuh oleh Api neraka kecuali beberapa hari saja”(Qs Al-Baqarah/80). 

AKIBAT TAZKIATUN-NAFS

Orang yang membersihkan jiwanya akan mencapai kesuksesan dalam beriman kepada Allah dan menjalani amalan2 sholeh, yang mengantarkan mereka pada kediaman surga abadi. Allah Ta’ala berfirman :

جَنَّاتٍ عَدنٍ تَجرِی مِن تَحتِهَا الأنهَارُ خَالِدِینَ فِیهَا وَ ذَالِکَ جَزَاءُ مَن تَزَکَّی

Taman-taman surga Aden yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dalam keadaan kekal didalamnya, dan demikian itu adalah balasan bagi orang yang membersihkan diri”.(Qs thoha/76). 

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: