HIJAB DALAM PANDANGAN IRFAN

Adanya peraturan wajib Hijab dalam Syariat Islam bagi wanita Muslimah di hadapan bukan muhrimnya adalah menandakan Agama Islam memberi peluang kepada kaum wanita untuk berkiprah dalam berbagai aktivitas sosial yang diperlukan hal ini disebutkan sebagai falsafah Hijab bagi wanita dalam pandangan Islam.  Hijab salah satu masalah yang tidak asing bagi kehidupan manusia, ia termasuk masalah pokok yang menuntut manusia untuk memenuhi keberadaannya, tidak ubahnya seperti penting dan pokoknya dua perkara lain, yaitu dengan istilah sebagai kebutuhan-kebutuhan primer manusia yang termasuk dalam Sandang, Pangan dan papan, karena sejak manusia pertama diciptakan oleh Allah SWT yaitu baginda Adam dan bunda Hawa -Alaa Nabina wa alaihima ssalaam-, di saat tersempurnanya bentuk penciptaan keduanya(1), Allah SWT menetapkan badan atau raga keduanya dalam keadaan berhijab atau dalam keadaan mengenakan pakaian penutup aurat mereka-as-, jadi ungkapan kesempurnaan penciptaan baginda Adam dan bunda Hawa adalah berbarengan dengan kondisi mereka yang berpakaian/berhijab,  atau dengan kata lain hijab/pakaian sebagai ni’mat Allah untuk bangsa manusia dan sebaliknya ketelanjangan (di depan gair mahrom) adalah sebagai konsekwensi azab Ilahi akibat dari mengikuti tipu daya Saitan.

      Mengenang kisah berhijabnya manusia pertama atau orang tua pertama bangsa manusia dan sejarah pentasyri’ian Hijab sepanjang sejarah umat manusia, khususnya bagi kaum muslimin akan mengantarkan kita pada salah satu poin penting untuk dikaji dan direnungkan lebih mendalam, sehingga kita dapat meraih hikmah dan mauidhoh/nasehat atau lebih tegasnya hukum fikih Syariat Ilahi yang tersimpan kemas dalam berbagai ungkapan firman Allah SWT, baik yang termaktub dalam Al-Quran(2), maupun yang tersirat dalam As-Sunnah para Maksumin as, sebagai dua titik poros khazanah Agama Islam, tentunya berkenaan dengan topik: “HIJAB DALAM PANDANGAN IRFAN” yang menjadi tumpuan kajian kita sekarang, guna menjadi titian hidup kita sebagai manusia pengabdi Tuhan yang Maha Esa, Sang Pencipta dan Pemilik mutlak manusia beserta seru sekalian alam dan tempat kembali yang abadi bagi manusia bahkan semua makhluk(3). Tentunya hidup sebagai manusia yang mengimani yang demikian haruslah mawas diri seraya berharap-harap cemas terhadap akibat akhir perjalanan kehidupan dirinya. Oleh itu sikap mengkritisi kembali segala sepak terjang diri selama masa-masa yang berlalu dan kini (baik yang berhubungan dengan perkara pangan, papan dan sandang maupun yang berhubungan dengan mu’amalât dan mu’asyirât) sembari memperbandingkannya dengan perintah dan larangan yang menjadi keridoan-Nya, akan berguna untuk membimbing seseorang berprilaku tepat dengan apa yang diridhoi oleh Allah SWT pada masa datang, dengan demikianlah sedikit banyak kita akan dapat menekan rasa kekahawatiran dan sekaligus dapat memiliki harapan sebagai orang yang digolongkan muflihun/orang-orang yang berjaya dan menang dikehidupannya(4), kalau tidak demikian, maka kondisi merugi akan senantiasa merongrong nasib seseorang.(5)   Sebutan Irfan sudah menjadi satu cabang keilmuan dalam dunia Islam dengan memiliki sejarah panjang yang pada kenyataannya ajaran yang termuat di dalamnya  seiring dengan perjalanan tarbiah Islami yang dilakukan oleh baginda Rasul sendiri ketika membimbing umat Islam dari sejak kemunculannya untuk menuju Tuhan-nya yang tentunya akan tetap bersamanya selama tarbiah Islam akan menggelinding terus bersama roda zaman, jadi berbicara tentang Hijab menurut pandangan Irfan pada hakekatnya adalah membincangkan Hijab menurut pandangan Islam, karena pada kenyataannya tarbiah Islam tampa Irfan akan kehilangan esensinya namun irfan tampa istidlal akli dan amaliat dzahir syariat akan kehilangan kendali dan meniscayakannya akan terpelesong dari memuat esensi hakiki Islam. Namun menurut rekaan sejarah istilah Irfan dan Tasawuf mulai muncul pada akhir abad ke-dua Hijriah dan pada abad ke-tiga Hijriah Irfan dan Tasawuf mulai memiliki dan menampakan wajah barunya… (6). Namun di sini kita tidak ingin membahas seluruh kronologi teoritis dan rekaan sejarah tentang pristiwa kemunculannya sehingga tercetuslah Irfan sebagai satu cabang tersendiri dari rangkaian keilmuan-keilmuan Islami, sehingga terbagi kepada irfan teoritis (irfan nadzari) dan irfan praktis (irfan amali). Cukup bagi kita sekarang mengenali segi irfani sebuah dastur syariat Islam yaitu berkenaan dengan Hijab dengan sekelumit bahasan pengantar sebagai perkenalan dengan ilmu Irfan.Pada kesempatan ini penulis berusaha meraci pembahasan dalam kemasan yang instan dan siap mengantar pada tujuannya, dan hal ini menuntut sebelumnya kesiapan memori para pembaca budiman dengan beberapa bahasan sebagai mata rantai dari topik yang menjadi bahasan sekarang ini, seperti :

1.     Apa itu Hijab?.

2.     Sejarah pentasyri’ian Hijab untuk umat Khatamul-Anbia’ saww.

3.     Dan Bagaimanakah Hijab yang dianjurkan oleh Allah SWT sebagai taklif Syar’i Islami yang wajib ditaati dan dipenuhi oleh para pemeluk Agama suci Ilahi ini?.

Minimal ketiga rangkaian pengetahuan tersebut, harus sudah dimiliki secara benar dan jelas oleh para pembaca sebagai bekal yang tersimpan rapi dalam khazanah akal seorang Islam, sebagai anak-anak tangga yang didaki untuk menuju topik kajian berikut ini. Harus penulis ingatkan yang demikian, karena tulisan ini tidak memuat lagi ketiga pembahasan tersebut sedang ianya diperlukan sekali sebagai landasan utama topik “Hijab dalam pandangan Irfan”. Sehingga kita akan langsung memasuki pembahasan; “Hubungan atau keterkaitan Hijab dengan Irfan”, yang tentunya segi keirfanian Hijab akan mendominasi kajian ini, sebagai intisari topik tsb.  

KAJIAN PENGANTAR PERTAMA

           Menyadari belum membudayanya atau paling tidak, kurang mendalam dan meratanya pemahaman keirfanan bagi sebagian besar umat Islam dalam berbagai perihal ajaran agamanya, membiaskan kondisi umat menjadi kehilangan ruh, contohnya; Ajaran tentang Sholat saja, banyak orang Islam melakukan gerakan dzahir perkara Sholat, tetapi muatan maknawinya tidak banyak menjadi perhatian mereka(7), akhirnya prilaku ini menjadi sejajar dengan kelakuan unggas yang sedang mematuk biji-bijian yang berserakan di atas kain sajadah, hampa bahkan melelahkan sehingga tidak jarang anak-anak orang Islam berusaha meninggalkan Sholat bahkan ada yang lari tunggang-langgang menjauhi Islam, dan masuk dalam telanan agama selundupan yang nota bone akan menggiringnya kearah jurang yang semakin curam menyesatkannya atau bahkan dia akan menaggalkan sekaligus apa yang diemban oleh segala agama, kondisi ini mencenderungkan berfikirnya untuk hidup bebas ala binatang liar, semau gharizah dan dorongan nafsu birahinya untuk menerjang mangsa dimana dan kapan saja desakan hewaniahnya itu akan mendapat kepuasannya yang sudah pasti bersifat temporal itu(8). Yang demikian baru satu perkara Islam, yang karena tidak ditunaikan secara semestinya yang diinginkan oleh Tuhan, maka umat Islam tidak dapat meraih ni’mat-ni’mat besar/mahal yang mengendap dalam tambang Sholat tsb, yang demikian itu tidak hanya mengakibatkan terhalangnya seseorang untuk meraih natijah yang menyenangkan itu, yang lebih tragis lagi menyengaja meninggalkan Sholat berarti menyiapkan diri menjadi bahan bakar api neraka jahanam yang apinya bukan hanya menyala dikala hari Qiamat, melainkan seketika dikehidupanya didunia ini dia akan segera tersulut oleh bensin perlakuan dosa dan kebejatan, yang akan membakar hidup-hidup dan menganguskan segala nilai kemanusiaannya(9). Sangat disayangkan Sholat yang ditetapkan oleh Islam sebagai satu anak tangga peribadatan kepada Sang Maha Sempurna, yang semestinya akan membuat kita menjadi rindu dan sayang untuk menjaga dan getol menunaikannya dengan penuh rasa suka dan girang ketika menjalankannya, tidak membekaskan kelezatan sukma yang membumbungkan imajinasi mengarungi cakrawala maarifat Rabbul Izzati, yang akan membiaskan hidupnya ruh yang mengejewantah dalam semangat dan tekad untuk menjadi anggota umat terbaik, penegak amar ma’ruf, pencegah kemungkaran dan penyebar rahmat dan penabur benih kedamaian dan keadilan mendunia(10). Sehingga jangankan meninggalkannya terlambat sedikit ketika sudah masuk waktunya, sanggup membuat hati menjadi gemetar dan risau lalu terhuyung-huyung untuk segera merunduk dan merintih atas kelalaian diri yang terjadi dan tak pelak lagi lisan hati dan bibir mulutnya akan meraung dan memanggil-manggil Tuhannya(11): “Ooooh Wahai Tuhan-ku!,Ooooh Tuhan-nya Ashabul Kahfi dan Ashabul-Kisa’ Fathimatu-Zahra Wa Abiha Wa Ba’liha Wa Siril Mustaudaufiha- alahimissalam-, hambamu yang hina, rendah, miskin, bodoh dan pembangkang ini, selalu lalai dan tertipu oleh fenomena rapuh selain-Mu, Tetapi kerinduan-ku akan diri-Mu yang Maha memiliki segala Kesempurnaan, menjadikan diri ini selalu  terkesimak dan girang menjalani dan menekuni titah dan perintah-Mu, tetapi dikala itu juga kemampuan kesadaranku lumpuh dan tertegun dalam gema batinku yang hanya mampu menyebutkan beberapa kata dari nama-nama Agung-Mu : Ya Quddûs, Ya dzal-Jalâli Wal-Ikrâm, Ya Muqalibal-Qulûb wal abshâr Stabit Qalbį Alâ Dįnik wa tho’atik,  Allahu Akbar…”.

        Demikian contoh kondisi jiwa insan yang terpaut dengan spiritual sholat, artinya jiwa yang sedang tersimbah embun segar maarifat kepada titah dan perintah Tuhan-nya sedekit banyak akan membiaskan kondisi semacam itu, tidak jauh kejadiannya akan dialami oleh seseorang berkenaan dengan perkara lain dari kewajiban agamanya, seperti perkara Hijab, kondisi jiwa yang termuai oleh kepekaan spiritual atau nilai-nilai pengenalan hakiki terhadap Tuhan, tugas dan akibat segala prilaku dalam istilah peribadatan kondisi ini biasanya disebut dengan kondisi irfan jiwa manusia. Perlu diperhatikan setiap elemen ajaran Islam yang ada dalam ketiga cabang besar yaitu; Aqidah, Akhlaq dan Fikih bahkan yang mencakup aktivitas partikuler mu’amalât dan mu’asyirât manusia secara umum, dalam pringkat praktikalnya untuk mencapai nilai tertinggi/sempurna, maka harus memuat nilai-nilai Irfan, artinya setiap person dari pengemban ajaran Islam harus faham dan mengenal dengan jelimet kedalaman muatan maknawinya atau spirit dan bekas-bekas yang ada yang terbias didalam menjalani ajaran-ajaran dan aktivitas tsb atau dalam istilah ilmu irfan disebut mukasyafah dan musyahadah/penglihatan dan penginderaan batin berkenaan dengan bekas-bekas ketaatan yang dijalani oleh seseorang berdasarkan dastur amal yang telah disyariatkan oleh agama Allah SWT, dari itu selayaknya setiap person dari umat Islam semestinya harus mampu mencapai kedudukan sebagai seorang Ârif, yang menggelindingkan butiran-butiran ibadah atas dasar cinta dan pesona Jalal wa jamal Ilahi Rabbil-Alamin. Kalau tidak, tentunya esensi prilakunya akan beriring sebanding dengan tahab/ kondisi jiwa yang dimilikinya ketika melaksanakan ajaran-ajaran tsb, maka kita dapat menggambarkan kondisi maarifat jiwa kita menjadi alat pengukur nilai praktis diri kita disisi Allah SWT.Dan tentunya tidak ada orang yang dapat mengetahui secara pasti posisi jarum temparatur nilai praktis yang ada dalam batin setiap insan, sebelum, ketika atau setelah perlakuannya terjadi, tentunya hanya Allah SWT sendiri yang mengetahui secara rinci dan tepat, sekalipun diri insan yang bersangkutan, karena kondisi lupa dan kurang (hampa maalumat) senantiasa melekat dalam diri insan.Walaupun dalam pringkat dan perkara tertentu manusia dapat mengetahui persis kondisi dan posisi jiwanya, itupun bagi mereka yang telah terjaga dan mendapat taufiq mutlaq dari Allah SWT sendiri, baik melalui kesadaran ruhani yang selalu dibina dan dipupuk oleh himmat dan tekadnya yang kuat untuk mengarungi sayru-suluk/perjalanan mendaki menuju Allah SWT dengan mengamalkan perintah dan meninggalkan larangan Allah dengan tepat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh-Nya. Atau dengan kata lain setiap ajaran Islam seperti perintah Mendirikan Sholat, puasa, menunaikan Zakat dan Khumus, Haji, Berhijab, Jihad fi sabillillah dan Difa’ agama, harta dan kehormatan, Amar ma’ruf Nahi mungkar, Tawalli wa Tabari, Menuntut Ilmu Dini Islam, itu tak ubahnya seperti anak-anak tangga yang kalau dinai’i satu persatu dengan tepat maka ia akan mengantarkan seseorang pada pringkat spritual berikutnya yang lebih tinggi sehingga mencapai puncak ketinggian maknawi yaitu berada diposisi disisi Allah SWT sebagai Pemilik puncak segala kesempurnaan zati maknawi. Atau dianugrahkan langsung sebagai Feidh Mutlak Ilahi seperti yang dimiliki khusus oleh para Maksumin Ahlul Bait Nubuwah Muhammad bin Abdillah saww, sebagai Nabi besar dan penutup para Nabi hingga akhiruz-zaman kehidupan dunia bani Adam yang berakhir dengan kejadian hari Qiamat sebagaimana telah disinyalir dalam berita yang difirmankan oleh Allah SWT dalam kitab suci kumpulan wahyunya yaitu Al-Quranul-karim. Feidh mutlak ini memang layak dimiliki oleh mereka as mengingat tugas berat dan suci yang terpikul oleh mereka yang memerlukan syarat-syarat adanya feidh mutlak tsb seperti kemaksuman, ilmu yang luas dll. Bagi manusia selain mereka as tentu dengan menjalani percontohan yang diajarkan oleh para maksumin as maka siapa saja yang mengikuti jejak mereka sudah pasti akan digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang yang mentaati perintah Allah SWT sehingga ia tergolong sebagai hamba murni Allah, yang demikian tidak akan terjadi kecuali ketika ia mengenal hakekat dirinya yang akan memastikan baginya mengenal Tuhannya, dari sanalah ia memulai kehidupan irfaninya sehingga ia tergolong dari urafâ atau ârif rabbani (12) .

 KAJIAN PENGANTAR KEDUA

APA ITU IRFAN ?

          Dari segi bahasa kata Irfân/ عِرفانُ (baca; pengetahuan yang banyak) merupakan satu kata Arab, sebagai sifatul-musyabbahah berwazan fi’lân/ فِعلان  (13), dan berarti sama dengan kata Al-ilmu/ العلم (14). Lafadz عرف bersama mustaqatnya/pecahan katanya sebanyak 27 lafadz dan lafadz-lafadz tersebut sebanyak 71 kali  tersebutkan  didalam Alquran (15).(Ârif Isim Fâ’il dari kata kerja arafa dan jamaknya Urafâ’)Kata Irfân sebanding dengan kata Mystic dan cara-caranya disebut Mystisism/mistisisme sebagai yang dikenal dikalangan orang-orang Eropa, kata ini (mystic) mempunyai rumpun bahasa dari kata-kata Yunani yaitu Mistikos, yang mempunyai arti: Perkara yang tersembunyi, dan dalam istilah; mencerminkan segi keagamaan khas yang mewujudkan adanya kemungkinan berhubungan langsung secara pribadi dan individual manusia dengan Tuhan alam, dengan jalan yang terkenal dengan istilah; syuhudi/penginderaan dan pengalaman spiritual batin, yang demikian itu dianggap boleh dan memungkinkan untuk mencapai hasil.* Atau dengan kata lain Irfan adalah satu jalan yang secara teoritisnya diibaratkan sebagai kepercayaan terhadap mungkinnya pencapaian hakekat dari jalan ilmu hudhuri serta penyatuan antara orang berakal/âqil dan ma’qûl/sesuatu yang terjangkaui oleh akalnya. Dan secara praktisnya/amali irfan dapat diibaratkan; sebagai peribadatan dan mujahidat atau bersikeras menjalani kezuhudan dan riyadhah/pelatihan dalam menyucikan diri dari segala kekotoran/dosa yang ada serta mencenderungkan diri kepada alam batin.* Sebagian orang mengatakan Irfan dan Tasawuf masing-masing sebagai kata mutaradif/sama arti antar satu sama lain, pada kesempatan ini kita akan menyinggungnya dalam pembahasan sejarah kemunculan istilah irfan dan perbedaan antara irfan dengan tasawuf.*Sejak kapan istilah irfan terbiasa digunakan di kalangan para arif Islam/Urafa Islami?, Tentunya secara tepat kita tidak akan dapatkan kejelasan yang benar(16), tetapi dengan memperhatikan perkataan Junaid Bagdadi (wafat th 298 h.q), dimana kata ini secara istilah telah pernah digunakan, yang bisa dikatakan pada abad ketiga hijriah kata ini dikalangan urafa telah digunakan.* Pada permulaan perkaranya, mafhum (Irfan), (ibadat), dan (Zuhud) ketiga-tiganya belum mengalami pemisahan makna, secara perlaha-lahan antara ketiga kata ini terjadi pemisahan dan setiap satu darinya (Ârif), (Âbid) dan (Zâhid) mempunyai makna istilahi khusus dan setiap darinya sebagai nama tersendiri. Syaikh Ra’is Abu Ali Sina dalam kitab “Isyarat” berkenaan dengan perbedaan antara mereka demikian berkata: ” Zâhid sebagai nama khusus bagi dia yang berpaling menghindar dari dunia dengan kelezatan-kelezatannya, dan bagi ia yang menjaga dan mawas diri untuk menekuni amal-amal peribadatan seperti sholat, puasa dan yang sepertinya itu disebut Âbid, dan adapun bagi orang yang berusaha keras dengan mengerahkan segala kemampuan himmat dan berfikirnya untuk menuju kearah kesucian jabarut Ilahi dan meletakanan dirinya dalam ayoman pancaran cahaya kebenaran itu pada khususnya disebut Ârif, terkadang ketiga istilah itu antara satu sama lain dapat saling menyatu.*

        Dalam makna bahasa; dengan menggelindingnya roda zaman serta keberadaannya disetiap abad dan priode makna kata Irfan telah mengalami berbagai perubahan dan pergantian sehingga memiliki istilah tersendiri yang kadang-kadang diibaratkan semakna dengan kata Tasawuf, Namun harus dikatakan juga bahwa Tasawuf merupakan salah satu misdaq dan cabang dari konsekwensi Irfan, bukan keseluruhannya, Irfan dengan mafhum globalnya mempunyai kesesuaian makna dengan seluruh makna agama dan mazhab, dan jalan Irfani adalah jalan yang ada pada kalangan seluruh kaum, bangsa serta agama dan mazhab yang ada di dunia,  baik yang kecil maupun yang besar dalam bentuk yang beraneka macam, hatta sekalipun bagi para penyembah Totem dan bagi kaum yang di zaman sekarang berada pada marhala awal kehidupan para Totemi, mereka mempunyai dunia yang menyimpan rahasia dan rumuz dan untuk mencapainya mereka menempuh jalan dzuq ruhani, mereka mempunyai kepercayaan bahwa alam keberadaan ini sedikit atau banyak mempunyai hubungan dengan Totem mereka, sehingga mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengannya, dalam tafakur mereka dapat dilihat asas-asas irfan didalamnya.* Demikian juga dalam dasar agama-agama kuno India, Iran serta agama Kristian dan Islam dapat disaksikan hakekat Irfan didalamnya hatta agama Yahudi sekalipun, dengan keberadaannya yang mempunyai keterpisahan sangat jauh dalam aqidah tentang Tuhan Penguasa, serta dendam khusumat mereka terhadap manusia serta dengan adanya kecenderungan sisi dzahir agama yang dimiliki oleh mereka yang mengenyampingkan segala kecenderungan irfani, namun dalam kenyataannya mereka tetap tidak kosong dari kegemaran terhadap hakekat irfan. Hal ini dapat dilihat dalam kitab suci mereka seperti Mazamir Daud, Ghazal Sulaiman serta ungkapan – ungkapan indah yang menambat hati yang berasal dari penyaksian batin dan jiwa manusia dalam mencari dan mencintai Tuhan.* Adapun seperti yang sudah dikatakan Irfan tidak menjadi mutaradif penuh dari kata Tasawuf akan tetapi Irfan mempunyai arti lebih tinggi dan luas dari arti kata Tasawuf, Tasawuf adalah satu cara dan jalan yang bermuara dari dan kepada Irfan serta mengambil ilham darinya, maka Irfan dengan mafhum globalnya mencakupi Tasawuf dan tatacara serta jalan yang lain, dalam kitab-kitab dan ungkapan-ungkapan para pembesar sufi Islam juga menyatakan bahwa Arif dalam kandungan maknanya mempunyai makna tinggi dan terpisah dari pengertian sufi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab “Israru-Tauhid” : “Haji Imam Mudzafar Nu’ani berkata kepada Syekh Abu Sa’id : “aku tidak berkata kesufian-mu dan juga aku tidak berkata tentang kedarwisan/kegembelan-mu tetapi aku berkata tentang kearifan-mu menuju kesempurnaan”.  Syekh menjawab: “Dia berkata, apa yang ada”.

         Ringkas kata apa yang dimaksud dengan Irfan dalam makna istilahi: “adalah cara dan jalan yang dengan itu hakekat dapat dicapai, yaitu melalui penyingkapan (kasyf) dan penyaksian batin (syuhud) yang berbarengan dengan pelatihan dan penyucian jiwa, maksud dan tujuan arif juga dalam penjalani sayr wa suluknya adalah hanya Tuhan dan tamat/cukup. Arif menyembah Tuhan atas dasar cinta, bukan atas dasar berharap pahala dan ganjaran syurgaNya serta bukan pula karena takut akan azab dan nerakaNya.*         

Perjalanan akal tiada lain keliku – likuan saja,    bagi Para arif tiada lain kecuali Tuhan saja. 

       Olehnya dikatakan perbedaan Arif dan hakim terletak disini yaitu seorang hakim/bijak dalam menyingkap hakekat dan mencapai kepada kebenaran dengan jalan berargumen/istidlal mantiqi, tetapi seorang arif melalui jalan pelatihan dan pembersihan jiwa dan kejernihan batin sehingga sampai pada ketersingkapan hakekat (kasyaf) dan penyaksian batin (syuhud), yakni apa yang diketahui oleh seorang hakim/bijak dengan kemampuan dalil mantiqnya, bagi seorang arif melihatnya melalui ketersingkapan dan penyaksian. Inilah yang tersebut dalam kisah pertemuan hakim Abu Ali Sina (seorang Filosof) dengan Abu Sa’id Abil-Khair (seorang Ârif), Abu Ali Sina berkata: ” Apa yang aku ketahui Ia melihatnya “, dan Abu Sa’id berkata : ” Apa yang aku lihat ia mengetahuinya”.*Ârif dengan bantuan pelatihan-pelatihan dan bersikeras dalam penyucian ruh dan perhatian total kepada Al-Hak serta berpijak pada prilaku-prilaku luhur mulai dari alam tafakur, pengetahuan, keraguan serta sabab-musabab menuju alam perasaan hati dan dorongan jiwa, iman dan pengenalan-pengenalan, dan berdasarkan ilmu yang pada kali pertama telah dicapai olehnya dengan jalan istidlal mantiqi (sebelumnya), sekarang mendapatinya dengan cahaya bashirat/penglihatan mata hati dan dari jalan qalbu serta penyingkapan dan penyaksian batin. Dengan demikian ia telah mencapai kandungan makna yang tersimpan dalam hadist maksumin as berikut :” Al-Ilmu Nurun Yaqzdifuhullahu fi-Qalbi man – yasya’ (17), disetiap saat ia melihat ilmu dengan mata bashirat dan cahaya hakekat.*

       Qias-Qias mantiqi dan istidlal aqli dan hujah burhani mungkin dapat memuaskan, akan tetapi ia sama sekali tidak dapat menghaturkan ketenangan batin, satu-satunya jalan yang dapat menganugrahkan kemerdekaan dan menggirangkan hati manusia adalah melalui jalan percintaan yang akan memberikan ketenangan dan keyakinan.*

 KAJIAN INTI : HIJAB(18) DALAM PANDANGAN IRFAN

        Membahas masalah Hijab dari pandangan Irfan setelah mengenal Apa itu Hijab dan apa itu Irfan, akan lebih mudah mengantarkan kita kepada maksud pembahasan Hijab dalam pandangan Irfan, tentunya hal ini berkaitan dengan dua bagian bahasan karena Irfan (berdasarkan kajian di atas) mencakup dua cara pembahasan yaiti secara teori/nadzari dan secara praktis/amali. Pembahasan teoritis Irfan dapat kita sebut sebagai pembahasan qaidah-qaidah Irfan, yang akan diterapkan oleh seorang arif ketika menjalani sayr wa suluk. Sedangkan bagian amali yaitu; sayr wa suluk/praktikal hidup yang sedang ditempuh oleh seorang arif/urafa itu sendiri (pempraktekkan kaidah/teoritis Irfan dalam bentuk amal perbuatan).Jadi Pada kenyataannya pembahasan ini akan mencakup dua bagian yaitu satu :  Pembahasan teoritis Hijab menurut pandangan Irfan” dan kedua; Pembahasan amali Hijab dalam pandangan Arif/Arifah”. Hijab menurut pandangan Irfan berarti membicarakan hijab berdasarkan kaidah atau segi teoritis Irfan” dan Hijab dalam pandangan Arif/Arifah berarti membicarakan Hijab secara praktikal atau dari segi amal Irfani hijab yang dijalani oleh seorang Arif/arifah. Hal ini seiring dengan kefahaman kita terhadap Islam itu sendiri yang bertumpu dalam dua sisi, yaitu sisi aqidah dan sisi amal, sebagaimana telah kita fahami bahwa hakekat Irfan adalah hakekat Islam itu sendiri maka seluruh ajaran yang bersifat aqidah/prinsip kepercayaan atau dalam istilah Irfan disebut Irfan Nazdari itulah yang dimaksud dengan qaidah Irfan yang merupakan qaidah Islam itu sendiri, dan demikian juga segi Amali atau praktis dari Irfan juga akan sama bermaksud seperti amaliat/praktek Islam itu sendiri yang kita kenal dengan sebutan hukum fikih/syariat Islam yang diminta oleh Syâri’/Allah SWT dari setiap person muslim mukalaf untuk mentaatinya. Namun nilai ketaatan yang dijalani oleh seorang muslim dibandingkan dengan muslim lainnya sudah pasti akan  mengalami kondisi berbeda, dari sinilah kunci keterpisahan derajat peribadatan yang dijalani oleh setiap umat Islam, yang meniscayakannya akan menuju maqam yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan niat mereka dalam menjalani peribadatan, Para Maksumin AS sudah jauh-jauh hari mengisyaratkan macam-macam niat peribadatan yang dilakukan oleh para hamba Allah dengan membaginya ke pada tiga golongan : Satu golongan menyembah Allah atas dasar takut, itulah ibadahnya para budak, golongan kedua menyembah Allah untuk mendapatkan syurga/ganjaran, itulah ibadahnya para penagih untung/pedagang dan satu golongan lagi menyembah Allah atas dasar cinta dan merindukan Allah sendiri, itulah ibadahnya orang-orang merdeka, dan yang demikian itulah sebagai paling baiknya peribadatan kepada Allah SWT. Para Ahli Irfan menekuni peribadatan kepada Allah atas dasar cinta dari itu dikalangan mereka tidak ada lain hanya ada Âsyik/pecinta dan Ma’syûk/yang dicintai. 

 PEMBAHASAN HIJAB BERDASARKAN SEGI IRFAN TEORITIS (NADHZARI) .

       Ketika Irfan teoritis memuat kaidah-kaidah berikut, maka bagi setiap muslim yang arif dalam mengamalkan perintah dan larangan Allah tak terkecuali termasuk juga ketika menjalani pengenakan hijab/pakaian takwa ini, setelah memenuhi dan menjaga batas-batas zdahir dan syarat-syarat yang telah ditentungan dalam fikih/syariat Islam, ia juga harus mengiringkan ketaatannya itu dengan prinsip-prinsip nazdari Irfani berikut (19):

1.     Hakekat dunia adalah kesirnaan/sementara dan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya/abadi.

2.     Kehidupan akhirat tempat kebahagiaan kaum beriman dan bencana bagi orang-orang kafir atau kebahagiaan abadi akhirat akan diperuntukan kepada mereka yang mencintai Allah dan tidak menambat hatinya dengan cinta pada kelezatan dunia yang rendah.

3.    Menjalani kehidupan dunia dengan cara zuhud terhadapnya dan menghindar dari segala perbuatan dosa sembari memandang dosa dan kemaksiatan sebagai api jahanam yang sedang berkobar-kobar dan manusia sebagai kayu bakarnya.

4.     perlakuan sholeh dikehidupan dunia sebagai penyebab keridhoan Allah SWT.

5.     Seluruh selain Allah adalah kecil dan tak berarti, hanya Allah Yang maha besar.

6.     Kebersatuan perwujudan/Wahdatul-Wujud.

7.     Memiliki keadaan yang terkenal dengan istilah sepuluh ahwal yaitu : Berhati-hati-, taqarub ila-llah-, cinta dan esyq-, takut-, berpengharapan-, semangat-, setia-, ketenangan-, bersaksi-, dan yakin, hal ini dalam rangka mencapai Al-Hak dan ketauhidan mutlak dan kefanaan dalam keberadaan Allah Taala.

8.     Adapun pringkat-pringkat yang akan dilalui oleh seorang Arif terkenal dengan tujuh maqam yaitu: Taubat-,Wara’/menjalani hidup dengan kesederhanaan-, Zuhud-, Faqar-, Sabar-, Tawakal-,  Dan Ridho/ Rela).(20)

 PEMBAHASAN HIJAB BERDASARKAN SEGI IRFAN PRAKTIS 

       Seorang muslim dan muslimah yang ârif/ârifah sedang mentaati Allah dalam kondisi bercinta(21), denganNya dan tujuan mereka hanya cinta dan keridhoan Allah saja, dari itu dalam sebuah doa para Maksumin as mengisyaratkan demikian : “Seandainya Engkau wahai Tuhan-ku memasukan aku kedalam neraka tetapi bersama cinta dan keridhoan-Mu maka aku rela dan tidak gentar menjalani siksaannya, dan sebaliknya jika Engkau memasukan aku kedalam surga bersama ketidak ridhoan-Mu, maka apa arti bagiku kenikmatan surga bersama kebencian dan kemarahan-Mu, pastilah aku akan merasa tersiksa karena jauh dari cinta dan keridhoan-Mu”. Jadi ketika Hijab menjadi sebuah dastur Syâri’/syariat agama Islam maka seorang muslim/muslimah yang ârif/ârifah dalam menjalani pengenaannya atau mengamalkan prinsip dan tata cara berhijab Islami hendaknya berbarengan dengan pengetahuan yang menyatu dengan keyakinan terhadap kebenaran bahwa hijab adalah sebagai salah satu ajaran yang memiliki kredibilitas hukum yang kuat dan jelas wajib untuk ditaati dan dijaga tata tertib hukumnya bersama dengan penalaran cinta kepada menggapai keridhoan Allah SWT sebagai pemberi hukum wajib hijab atas para hamba yang mencapai usia taklif, dan prilaku ketaatan wajib berhijab bagi seorang ârif dalam pengamalannya bukan lagi ada rasa terbebani tugas sebagai seorang yang beragama Islam, melainkan lebih tinggi dari itu dia menyambut seruan wajib berhijab itu dengan merasa bahwa disana ia akan mendapati dirinya sebagai yang sedang diselimuti oleh cinta Tuhan padanya dan Ia mencintai Tuhan-nya melalui jalan menghijabkan/menutup diri dari segala yang menjauhkannya dari keridhoan Kekasih sejatinya. Semakin kuat ia menjaga cintanya terhadap Tuhan maka akan terealisasi dalam keterjagaan hijab dirinya dari segala kemungkinan yang akan meruntuhkan nilai Ifat dan kehormatan diri di hadapan Tuhan-nya. Ia menyadari bahwa hijab adalah satu penggalan nilai cintanya kepada Allah dan sekaligus sebagai satu jalan untuk meraih cinta Tuhan baginya, jadi prilaku Arif dalam setiap amalan didasari oleh niat menggapai cinta Tuhan yang didorong oleh perasaan cintannya kepada Tuhan yang menggelora dalam jiwanya. Sebagaimana tabiat rasa cinta menuntut konsekwensi cinta dalam bentuk pelampiasan, maka cinta kepada Allah-pun menuntuk konsekwensinya maka ketaatan atas segala perinta dan larangan Allah selain sebagai jalan untuk menggapai cinta Allah, ia juga menjadi lahan untuk pelampiasan cinta seorang hamba Allah terhadap maulanya-yaitu Allah SWT.Jadi proposisi hijab bagi seorang arif/arifah sebagai satu urat nadi kehidupan cintanya yang membiaskan denyut kesabaran dan semangat untuk menjalani kehidupan sebagai hamba sholeh Tuhan. Tentunya kalau hijab sudah memiliki kedudukan yang demikian dalam pandanga arif/arifah maka sudah pasti ia akan menjaga segala syarat dan batas-batas yang ditetapkan oleh sang kekasih sejatinya, sehingga ia berusaha sesempurna mungkin menjaga dan mempertahankannya dari segala pelecehan keatasnya baik yang datang dari dirinya sendiri sebagai sikap pelalaian dan lupa atau yang datang dari luar dirinya. Tentunya sangat tidak mungkin terjadi pelecehan hijab dilakukan oleh seorang arif sendiri, karena perlakuan ini dengan otomatik baju kearifan dirinya akan tertanggal dari dirinya dan ia akan terkeluar dari posisi sebagai seorang arif. Pelecehan hijab mungkin terjadi dari kalangan luar diri arif/arifah maka sikap arif ketika menghadapi demikian sudah pasti akan memunculkan semangat pembelaan dan pertahanan terhadap kesucian hijab sebagai suatu nilai agung Tuhan, walau ketika itu akan mengantarkannya kepada keadaan yang menyusahkannya dan bahkan berakhir dengan kesyahidannya. Wasalamun ala manit-tabaal-huda .

Pada akhir tulisan ini mari kita berdoa dengan doa yang diajarkan oleh para maksum as sebagai yang menunjukan kepada kita jalan menuju Allah swt.

 اَللهُمَّ عَرِّفنِی نَفسَکَ فَإنَّکَ إِن لَم تُعَرّفنِی نَفسَکَ لَم اَعرِف نَبِیّیکَ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی رَسُولَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی رَسُولَکَ لَم اَعرِف حُجَّتَکَ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی حُجَّتَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی حُجَّتَکَ ضَلَلتُ عَن دِینِی! 

“Ya Allah! kenalkan pada-ku diri-Mu, jika Engkau tak mengenalkan Diri-Mu pada-ku, maka aku tak akan dapat mengenal Nabi-Mu,Ya Allah! kenalkan pada-ku Rasul-Mu, jika Engkau tak mengenakan Rasul-Mu pada-ku, maka aku tak akan dapat mengenal Hujjah-Mu, Ya Allah! Kenalkan pada-Ku Hujjah-Mu, jika Engkau tak mengenalkan Hujjah-Mu pada-ku, Maka sesatlah aku dari Agama-ku”.(22) 

 1.  Qs Ashod 71 – 73 , Qs Al-A’raf 27:” Wahai anak-anak Adam!, Janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh syetan sebagaimana ia telah (dapat menipu kedua orangtua kalian sehingga) mengeluarkan kedua orangtua kalian dari surga, ia menanggalkan pakaian   keduanya, untuk dipertontonkannya aurat keduanya…”.

2.  Qs Al-A’raf 26-27 dan s Al-Ahzab 59.

3.  Qs Al-Imran 109

4.  Qs Al-Hasyr 9

5.  Qs Al-asr:” Demi masa sungguh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan berprilaku sholeh, saling berpesan     dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran”.

 6   .Lihat artikel ” Relasi antara Irfan Teoritis dan Irfan praktis” oleh Muchtar Lutfi dlm web Islam Alternatif- Sunday/August      27/2006.

7.   Qs Ar-Rum 7.

 8.   Qs Mariam 59

9.   Qs Al-Mudatsir 43, Al-Mauun 5,  dan At-Taubah 54.

10.  Qs Al-Ankabut 45, Al-Mu’minuun 2

11.  Qs Al-Mu’minuun 9, Al-Maarij 22.

12      Sebagaimana tersebut dalam hadits yang masyhur :” Siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya”.

13      Shorof-sodeh Muhammad Redho Thaba-thobai h 218

14      Lisanul-Arab j4/h309 cop Daru-shodir-Beirut.

15      Al-Muujamul-Ahsô’i li Alfadz-Al-Quranul-Karim oleh DR Muhammad Ruhani .

16      Sehingga memunculkan berbagai pandangan yang berbeda berkenaan dengan sejarah permulaan Irfan/Tasawuf Islam, sebagian mengatakan bahwa Tasawuf Islam sebagai Tasawuf yang berdiri sendiri dan berfondasikan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah sendiri saww, yang sama-sekali terjaga dari pengaruh fikiran luar (dari itu kehidupan Irfani umat Islam dapat ditilik sejak priode awal abad pertama hijriah dan mengalami berbagai perkembangan pada abad-abad berikutnya), kalaupun  ada keserupaan antara Tasawuf Islami dengan pandangan-pandangan Irfani/Mistisisme dari kaum dan agama yang lain, itu tidak merupakan dalil yang pasti bagi klaim yang mengatakan bahwa Tasawuf Islam sebagai yang lahir dari ajaran dan pemikiran zuhudi dan Irfani agama dan peradaban lain. Namun yang pasti adalah bahwa Agama Islam memang mempunyai celupan warna Tasawuf, dan Agama ini memang ada memuat benih-benih Tasawuf.  Dan Ada beberapa pandangan lain berkenaan dengan sejarah kemunculan Tasawuf/Irfan dalam Islam yang tidak memungkinkan untuk dibahas disini, namun yang penting dicamkan  bahwa pernyataan mereka yang menganggap bahwa Tasawuf/Irfan Islam sebagai perkara yang asing bagi Agama Islam  sendiri adalah dapat disanggah secara rasional dan dapat diterima.*·          Silakan merujuk pada kitab ” Saire-Irfan Dar- Islam oleh Duktur Zeinudin Kiyai-Nezad, terbitan Intisyarote-Isyroqi.

 17.” Ilmu itu adalah cahaya yang dipancarkan oleh Allah ke dalam hati siapa yang  Ia kehendaki” .

18.Hijab yang dimaksud dalam kajian tulisan ini adalah hijab yang bermakna pakaian dan keterjagaan ifat sebagai syariat Islam yang wajib dikenakan dan dijaga oleh wanita dan pria muslim, pembahasan Hijab juga, sebagai yang ada dalam kajian Irfan nadzari bermakna penghalang-penghalang bagi para urafa’ ketika menjalani sayr wa suluk menuju Tuhan-nya yang terbagi kepada dua; Hijab Nurani/cahaya seperti ; ilmu dan amal baik terkadang bisa menjadi hijab bagi urafa’ untuk menuju Tuhannya dan Hijab Dzulmani/ kebodohan dan dosa-dosa/maksiat, tentunya Hijab yang demikian malah diminta untuk menanggalkannya  supaya terjadi mukasyafah/ketersingkapan hakekat, tetapi sayang artikel ini tidak ditujukan pada pembahasan itu.  *.   Kitab Saire-Irfan- Dar-Islam oleh Duktur Zainudin kiyai Nezad.

19.erlu penulis ingatkan bahwa prinsip-prinsip Irfan Nazdari yang dikemukakan disini hanya sebagai contoh saja, jadi belum memuat keseluruhan, karena keterbatasan sikon yang ada, ini hanya bersifat perkenalan saja.

20. Setiap prinsip atau kaidah teoritis Irfan membutuhkan penjelasan, dalam kesempatan ini tidak memungkinkan untuk itu karena sikon yang tak mengizinkan.

21. Percintaan yang di maksud dengan seluruh sifat-sifatnya akan berbeda dengan percintaan yang terjadi antara sesama hamba dimana pecinta dan yang dicinta sama-sama makhluk yang mengemban berbagai nilai material dan kemanusiaan sedang percintaan yang terjadi dalam teori Irfan adalah antara hamba dan maulanya yang sama sekali mujarad dari sifat-sifat materil, jadi sama sekali tidak bisa dibayangkan kondisi percintaan ini sebagai selayaknya yang terjadi pada dua benda materil.  

22. Marhum Kulaini dan Syekh Thusi dan pemilik kitab “Al-Gaibah” Nu’mani dengan mengambil periwayatan dari Zuroreh, telah menaqalkan doa tersebut dari Imam Shodiq as.

Tulisan Umfat Al-Idrus-Qom-Iran (Termuat dalam buliten Fatimiah edisi ke-2).   

2 Komentar »

  1. noviaaa said

    subhannallah.. panjang bgt, saya baca dulu ya🙂

    salam kenal..

  2. umfat said

    Alhamdulillah kalau berhasil baca, semoga bermanfaat.

    Salam kenal juga…

    Umfat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: