ZILZALAH (gempa bumi)

Di Sore hari Senin sekitar jam 5,30, tgl 3 Jumadi-tsani  th 1428 Hijriah bertepatan dengan tgl 18 Juni 2007 Miladi Bumi Qom-Iran telah dilanda gempa yg cukup mendebarkan jantung para penghuni kota ini (5,9 R  dan dlm beberapa detik), khususnya bagi para penghuni bangunan rumah apartemen pelajar (Talabah) antara bangsa yg bertempat di daerah yg bernama Zambil Obod.

Termasuk saya, ketika menjalani kesibukan seperti biasa sebagai talabah, tiba-tiba lantai bangunan yg kami pijak menderu dan bergetar. Spontanitas kepanikan penghuni apartemen menyeruak di seluruh ruangan, gemuruh tangisan kanak-kanak dan pekikan kepanikan ibu-ibu dan kewaspadaan para ayah meliputi seketika kejadian.

Semua berusaha untuk segera keluar dari bangunan, menghindari tertimpa kepingan beton-beton bangunan, kalaulah getaran gempa itu  dapat  meruntuhkan bangunan yg relatif kuno ini, dengan wajah-wajah yg menunjukan ketakutan yg terjadi dalam hati dan batin masing-masing.

Semua mengutarakan kondisi kepanikan sendiri-sendiri, serasa semua hanya dapat menyerahkan diri pada nasib bagaimana akibat getaran bumi yg merambat di selaput kulitnya itu. Nampaknya semua-pun menunggu kejadian selanjutnya, sambil berjaga-jaga dengan dibarengi perasaan memungkinkanya  beberapa saat kemudiana akan terulang kembali dengan goncangan yg lebih kuat?.

Sehinggapun tanah lapang yg sedang dipijak sebagai tempat penghindaran, juga menjadi ajang kesangsian bagi hati kami pada saat itu, karena setiap manusia dapat menalarkan ia berkemungkinan untuk retak terbelah lalu menjebloskan manusia kedalam perut Bumi bak liang lahat yg gelap gulita dan bertembok tanah tak ubahnya petakan  pekuburan yg tentunya manusia menyadari dirinya ketika itu akan di kubur hidup-hidup oleh sebuah pristiwa alam.

Seperti manusia lain, aku-pun dicekam kepanikan dan bertegun dalam berbagai ketak berdayaan, betapa manusia dihadapan kejadian alam ini tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri dr segala kemungkinan bahaya yg menimpanya.  

Kemana tempat berlari untuk selamatkan diri?, di mana tempat bernaung yg menjamin keamanan?, kemana harus memohon pertolongan?, tentunya menjadi tumpuan berfikir kami pada saat itu.

Dari saat kejadian hingga beberapa hari selanjutnya “Zilzalah” menjadi satu topik penting bagi memori batinku. Akalku bergerak mengumpulkan maklumat dan nuraniku sibuk merangkai renungan.

Walhasil pristiwa Zilzalah di sore hari itu sempat memboikot aku dari berbagai aktivitas berfikir yang lain. Aku menyaksikan kondisi ketak berdayaan yang menjerat seluruh wujudku bahkan aku melihat dalam seluruh wujud makhluk yang lain.

Aku berfikir salah satu penyebab manusia untuk menjalani pengkajian alam dan gejala-gejala fenomenanya adalah kondisi serba lemah yang meliputi wujud jasadnya. Oleh itu ia menumpukan harapan pada kekuatan akalnya dan memang disinilah letak kehebatan manusia dibandingkan dengan seluruh makhluk yang lain bahkan dihadapan kebesaran dan keperkasaan fenomena alam termasuk “Zilzalah”.

Namun kalau akal manusia-pun menemui jalan buntu dalam menginspirasikan penyelesaian suatu permasalahan, maka ketika itu menusia akan tercekam rasa takut, sedih, bimbang dan akhirnya menyerah atau bertekuk lutut dihadapan yang lebih dapat menguasai dirinya walau ia berupa gejala-gejala alam seperti gempa bumi, tofan, banjir dan berbagai hal yang dirasakan oleh-nya dapat mengancam keselamatan diri dan kehidupannya.

Dari itu muncul dorongan bagi manusia untuk menuntut ilmu Alam dan mengkaji sedalam-dalamnya tentang fenomena Alam dengan segala isinya, demi dapat menyadari gejala-gejalanya yang berkemungkinan membahayakan manusia dan kehidupanya atau manusia mencari jalan lain dengan berkira-kira bahwa Bencana Alam adalah sesosok pribadi hidup tak ubahnya seperti yang diistilahkan orang dengan “Dewa bencana” dalam kepercayaan agama Budha dan Hindu atau dalam agama Animisme  dan Dinamisme. Para penganut kepercayaan ini untuk menghindari bahaya gejala Alam mereka menyuguhkan “Tumbal , kadang-kadang berupa seorang gadis tercantik di kampungnya atau korban hewan dan usungan makanan nasi kuning dan buah-buahan atau mengadakan acara persemadian mengahaturkan persembahan kepada benda-benda Alam seperti kepada bebatuan, gunung, laut, Matahari, Pohon Tua dll.

Demikian kami beberapa saat setelah gempa itu terjadi, di ketika seluruh wujud kami diliputi oleh kepanikan dan ketakutan, karena memori yang kosong dari ilmu pasti tentang kejadian selanjutnya, terasa berkebutuhan kepada Ilmu Bumi dan gejala gempanya, supaya dapat terdeteksi sebelum kejadian, dan manusia dapat menenangkan hati dan pekirannya dari mewaspadai kejadian alam yang berkemungkinan dapat merenggut jiwa dan membinasakan kehidupan.

Namun sejauh yang dapat-ku saksikan dan informasi yang ku dapat, khususnya dari belahan bumi yang dinamai “Jepang” yang tampaknya lapisan bumi di sana rawan sekali mengalami pergeserannya sehingga sering mengalami gejala gempa bumi, Dari itu pengkajian tentang bumi dan pergempangannya bagi manusia di bumi “Jepang” menjadi salah satu pengkajian yang penting, dari itu Ilmuan di sana telah menemukan beberapa disiplin ilmu tentangnya, seperti deteksi sebelum kejadian, walau hanya bersifat ramalan dan serba kemungkinan, besar gejalanya (rister), bahkan hingga alternatif pencegahan kerugian dan bahaya-bahayanya dengan disain pembangunan yang canggih bagi tempat-tempat tinggal penduduk, gedung-gedung tinggi perkantoran dll (anti bahaya gempa).

Namun, walau manusia mendapati Ilmu pengetahuan fisikal sebanyak-banyaknya tentang suatu fenomena yg berkenaan dengan bencana alam, tetap ada satu hal bagiku yang tidak dapat memberikan keniscayaan bagi manusia untuk menyelamatkan diri secara sempurna dari efek perwujudannya, tampa aspresiasi spritual yang meta fisikal, karena ada perkara meta fisikal yang berpengaruh dalam segala kejadian, yaitu keterkaitan Alam dengan “Takdir dan Iradah Sang Pencipta Alam itu sendiri” yang mempunyai kekuasaan secara mutlak terhadap segala ciptaan-Nya”.

Oleh karenanya manusia mau tidak mau harus dapat mengasumsikan bahwa ada kebijakan lain yang lebih menentukan dalam Alam kehidupannya sebagai yang berkuasa mutlak atas segala-galanya dan manusia hanya dapat bertekuk lutut menghaturkan penyerahan total kepada kekuasaan-Nya. Perkara ini tidak dapat dideteksi secara fisikal karena bukan perkara fisikal, sebagaimana wujud manusia yang mempunyai dua dimensi, dimensi fisikal dan meta fisikal, atau dengan kata lain Jasad dan Ruh, secara keseluruhan alam-pun demikian, bagaimana cara kita membuktikan kehidupan kita ini mempunyai dua dimensi, ada ruh dan ada jasad, mudah saja, Anda cukup memperhatikan secara seksama seorang manusia yang sedang sakratul-maut, orang ini dalam masa sebelumnya bersama anda, berjalan dan bergerak menjalani aktivitas hidup bersama Anda, sekarang ia sedang tergeletak berbaring tak berkuasa lagi untuk menjalani kehidupan dunianya, dalam beberapa detik kemudian, ia-pun terbaring kaku dan sama-sekali tidak beraksi lagi, sedang jasad dia dari segi bentuk dan jumlah anggota badannya tidak berkekurangan, hanya saja sekarang sudah tidak dapat bergerak sendiri dengan kata lain ia sudah mati.

Mati adalah dapat diartikan keluarnya atau keterpisahan dimensi Ruh dari jasad yang ber-ruh, Atau dengan contoh lain, coba Anda perhatikan sejak kecil Anda kalau berbicara mengenai jasad Anda, Anda menyatakannya dengan kalimat ” Ini kepala saya, ini Mata Saya, ini tangan saya, ringkasnya ini jasad saya, Maka hakekatnya ” Saya” itu siapa sih?, kok semuanya dinisbahkan kepada “Saya”?, Nah dari sini kita dapat membuktikan “yang sedang berbicara itu sebenarnya satu sisi lain dari wujud Anda dan Saya , yaitu yang disebut dengan Ruh, dimensi meta fisikal kita.

Berangkat dari membuktikan adanya dimensi meta fisikal yang meliputi Alam perwujudan ini, maka mau tidak mau akal manusia pasti akan meniscayakan kemestian beriman dan yakin atas keberadaan dan pengaruh yang menentukan darinya atas segala fenomena Alam ini yang dikenalkan oleh Agama dengan sebutan “Tuhan”. Ya Tuhan-lah yang mempunyai kuasa mutlak atas Alam yang ada ini, sebagaimana Ia-lah Pemilik Mutlak-nya, Maka ia-pun berkuasa mutlak atasnya.

Tentunya bagi seorang muslim sudah menjadi buah bibirnya Tuhan yang dimaksud adalah:” Allah yang Esa, Dialah yang menjadi titik tumpu harapan keselamatan”, satu-satunya wujud yang diyakini dapat memberikan keselamatan pada seluruh penghuni alam dari mara-bahaya gejala alam ciptaan-Nya sendiri, tentunya dengan kepercayaan kepada Dia Sang Pemilik mutlak jagat-raya ini berkuasa untuk berbuat apa-saja.

Manusia muslim tentunya dapat melampiaskan kepanikan dan ketakutannya dengan berteriak memanggil nama Tuhan-nya, ” Ya Allah, Ya Zdal-Jalaali-wal-Ikram” seruan-seruan Seperti “ALLAHU-AKBAR”, “LA-ILAHA ILLA-LLAH”, berbarengan dengan kepanikannya, spontanitas menyeruak dengan meraung dan memanjatkan doa, memohon pertolongan kepada-Nya.

Menjadi Muslim berarti mengakui berserah diri dalam kekuasaan Allah Yang Esa Sang Pencipta Diri dan Alam dengan segala fenomenanya, di sinilah letak kehebatan sebagai seorang Muslim. Kelihatannya simpel saja, tetapi ia berhakekat dalam dan luas tak terbatas, Tautan suara yang dikumandangkan olehnya hanya bersifat simbolik saja muatan aslinya terpendam dalam qalbu setiap manusia muslim, frekwensi iman yang terpatri dalam hati bisa berbeda-beda bagi setiap individu muslim, tergantung kemauannya untuk memupuk dan menebalkan rasa Imannya dengan banyak mencari Ilmu dan menjalani tafakur dan tadabur mengenainya. 

Iman kepada Allah Yang Esa menjadi kartu asuransi keselamatan jiwa dan kehidupannya. Dengan itu ia akan menumpukan gerak-laku pri-kehidupannya yang didasari oleh tata tertib yang telah ditentukan oleh Tuhan-nya. Dalam segala hal ia sangat peka dan memperhatikan dengan seksama apa kata Tuhan tentang fenomena yang ada, tak terkecuali fenomena “Zilzalah”,  ia mendapatinya dalam kalam suci Tuhan-nya, sebagai fenomena yang akan mengakhiri kehidupan alam dunia ini denga izin Tuhan-nya.

MARI KITA SEJENAK MENYIMAK KEMBALI KALAM SUCI TUHAN BERKENAAN DENGAN  PERISTIWA “ZILZALAH” :

سورة الزلزلة

بِسمِ اللهِ الرَّحمَانِ الرَّحِیمِ

إذَا زُلزِلَتِ الاَرضُ زِلزَالَهَا-1

وَ أَخرَجَتِ الارضُ أَثقَالَهَا-2

وَقَالَ الإنسَانُ مَا لَهَا-3

یَومَإِذٍ تُحَدِّثُ أَخبَارَهَا-4

بِأَنَّ رَبَّکَ أَوحَی لَهَا-5

یَومَإِذٍ یَصدُرُالنَّاسُ أَشتَاتاً لِیُرَوا أعمَالَهُم-6

فَمَن یَعمَل مِثقَالَ ذَرَّةٍ خَیراً یَرَهُ-7

وَمَن یَعمَل مِثقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً یَرَهُ-8

صَدَقَ اللهُ العَالِیُ العَظِیمُ

SURAT ZILZALAH

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG

KETIKA BUMI DIGONCANGKAN DENGAN SEGONCANG-GONCANG-NYA-1

BUMI-PUN MENGELUARKAN BEBAN BERAT KANDUNGAN-NYA-2

DAN BERKATALAH MANUSIA (KETIKA ITU) APA GERANGAN YANG TERJADI DENGAN BUMI?.-3

DI HARI ITU BUMI MENGHABARKAN BERITANYA-4

SEBAGAIMANA TUHAN-NYA TELAH MEWAHYUKAN KEPADA-NYA-5

DI HARI ITU, MANUSIA DALAM KEADAAN BERTEBARAN (KESANA-KEMARI), UNTUK MENYAKSIKAN HASIL PERBUATANNYA (KETIKA HIDUP DI DUNIA)-6

MAKA SIAPA YANG BERAMAL KEBAIKAN SEUKURAN SEKECIL-KECILNYA BIJI-PUN, IA AKAN MELIHAT-NYA-7

DAN SIAPA YANG BERAMAL KEBURUKAN SEUKURAN SEKECIL-KECILNYA BIJI-PUN, IA AKAN MELIHAT-NYA-8.

MAHA BENAR ALLAH YANG MAHA TINGGI LAGI AGUNG

(DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA)

***

Umfat

Qom-Iran-Jumat/14-Jumadi-tsani/1428

 

1 Komentar »

  1. salam
    iya, kami juga sempat deg-degan…
    memang kalau kita sadar, kita ini tidak ada apa-apanya. menurut istilah orang Iran “hicci nistim”
    mamanya Husein dan Mahdi

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: