KEBIJAKAN ABU ZAR AL-GHIFARI

Nama Abu Zar-Al-Ghifari, bak permata cemerlang menghiasi lembaran-lembaran zaman permulaan sejarah perkembangan Islam di jantung tanah Arab, Ia bak satu dari planet-planet yang telah mendapat cahaya langsung dari Matahari kenabian suci Tuhan, hadhrat Muhammad bin Abdillah, sang Rasul Agung Allah Swt- Salam sejahtera atasnya dan atas keluarga sucinya-. Di antara sekian banyak sahabat Nabi saww, Abu Zar mendapat tempat khas di sisi Nabi dan keluarga kenabian-nya-saww, itu tiada lain karena karakter mulia dan bijaknya yang setia dan jujur atas keimanan dan kataatannya kepada Allah, Rasul dan keluarga Nabi-Nya, dari itu tak heran kalau masyarakat Arab yang hidup pada priode itu mengenali Abu Zar sebagai pahlawan Islam yang berkata jujur dan bijak serta disegani keberaniannya menuntut dan mempertahankan kebenaran, tak disangsikan lagi terkadang sebagian orang pada masa itu meminta kepada Abu Zar  untuk membimbing dan menasehatinya untuk menjadi hamba Allah yang baik dan untuk menjadi  pengikut Nabi Muhammad saww sebagai pengikut yang setia dan benar. Sekarang kami bawakan satu kisah tentang hal ini, berikut ini kisahnya: ” Sepucuk surat sampai ke tangan Abu Zar, ia-pun membuka dan  membacanya, surat itu datang dari tempat yang cukup jauh, seseorang melalui surat itu memohon nasehat ringkas dan padat darinya. Pemilik surat itu adalah orang yang mengenali Abu Zar dengan baik, termasuk sebagai seorang sahabat yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah saww dan betapa Rasulullah saww mengayomi dan mengajarinya dengan kalimat-kalimat yang tinggi makna dan penuh hikmah. Abu Zar dalam menjawab permintaan surat orang itu hanya menulis satu kalimat pendek demikian bunyinya: ” Jangan engkau berlaku buruk dan bermusuh dengan orang yang paling engkau sayang melebihi semua menusia lainnya”. Lalu surat itupun disampulnya dan dikirimkan kembali kepada yang punya surat. Setelah surat itu sampai kepada orang itu, dibuka dan dibacanya, namun tak habis ia fikirkan apa maksud nasehat itu, ia berkata sendiri: “Apa maksudnya?!, ” Jangan engkau berlaku buruk dan bermusuh dengan orang yang paling engkau sayang melebihi semua manusia lainnya”. Ini adalah perkara yang sudah jelas, apakah mungkin seseorang memperlakukan dengan buruk orang yang paling disayanginya, ini suatu hal yang mudah, bukankah seseorang berani mengorbankan segala harta, jiwa dan seluruh keberadaannya demi untuk kekasihnya”?!.

Tetapi pada bagian lain ia berfikir bahwasannya ia tak boleh mengenyampingkan kepribadian orang yang mengucapkan kalimat ini, kalimat ini adalah perkataan Abu Zar !, Abu Zar adalah Lukmanul-Hakim-nya  ummat ini, dan ia memiliki Akal yang penuh Hikmah, tidak ada jalan lain kecuali aku mesti mendapatkan penjelasannya dari dia sendiri!”. Untuk kali berikutnya ia menuliskan sepucuk surat lagi dengan meminta kejelasan kalimat itu kepada Abu Zar. Abu Zar dalam jawabannya menulis kembali : ” Maksudku dari orang yang paling engkau sayang melebihi semua manusia lainnya, itu adalah dirimu sendiri!, aku tidak bermaksud orang lain, engkau menyayangi dirimu melebihi semua manusia lainnya, yang aku katakan: ” Jangan bermusuh dengan yang paling engkau sayangi, yakni jangan emosi berlaku, apakah engkau tak tau setiap penyimpangan dan dosa yang dilakukan oleh manusia secara langsung akibatnya akan menimpa dirinya sendiri dan bahayanya akan menggiring dan memasung dirinya sendiri!?”*.

*Disarikan dr ” Kisah-kisah yg benar” – Almarhum-Ust.Syahid Muthari- Iran.

by Umfat – Qom-Iran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: