MARI MENYADARI ADA TUHAN

Lihatlah tanda-tanda Tuhan diufuq Alam dan dalam diri Anda Sendiri, semoga Anda mendapati kejelasan pandangan tentangNya.

MENGENAL ALLAH TAALA

Dengan

MEMBUKTIKAN KEPASTIAN ADANYA

 WAJIBUL-WUJUDBAGI ZAT-NYA

Berdasarkan pengakuan Akal, segala yang dapat dipikirkan (ma’kul) mengenai perwujudan zatnya, terbagi kepada tiga macam sifat perwujudan :

1. Adanya ia di Alam luar Akal (dzihin), Wajib/harus atau pasti (Wajibul-wujud lidzatihi)/ wajib wujud bagi zatnya.

2. Adanya ia di Alam luar Dzihin, mungkin saja (Mumkinul-Wujud-Lidzatihi)/mungkin wujud bagi zatnya.

3. Adanya ia di Alam luar Dzihin,  Tercegah (Mumtani’ul-wujud-lidzatihi)/ tercegah wujud bagi zatnya.

Noktah-noktah penting yang perlu disadari:

1. Kata “ADA” dan “TIADA”, sudah memuat pengertian (mafhum) yang jelas dan terang (Badhihi) bagi setiap manusia, karena sejak kelahirannya, manusia telah bersama dengan mafhum keduanya, tampa melalui proses  belajarpun sang bayi sudah mengerti makna “Ada” dan makna “Tiada”, satu bukti: “Bayi dapat memahami air-susu “ada” atau “Tiada” di mulutnya ia bereaksi menangis ketika tiada diperolehinya air susu, dan ia diam ketika mendapatinya “Ada”. 

2. Makna kata “Ada” dan “Tiada” dua kata yang saling memberi definisi, kita dapat memahami makna “Ada” karena kita memahami makna “Tiada” demikian sebaliknya.Ada tiga istilah penting yang digunakan dalam rangka menerangkan macam-macam mafhum “Keberadaan” yaitu : “Al-Wajib” yakni           “Yang pasti Ada”,  “Al-Mumkin” yakni  “yang mungkin ada dan sekaligus mungkin tiada”, dan “Al-Mumtani”, yakni “yang pasti Tiada”.

TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan pembahasan “PERWUJUDAN/KEBERADAAN” ini adalah untuk  “Menetapkan kepastian adanya Zat Yang Maha Agung, Sang Pencipta alam ini”.

Yang dimaksud dengan “Ma’kul”  ialah “Segala gambar yang terhasilkan dalam akal/memori”, yang kalau ia (gambar-gambar itu) kita hubungkan/nisbahkan kepada keberadaan-zatnya di Alam luar dzihin, maka; Boleh jadi ia benar dan boleh jadi ia salah dalam menisbahkannya.

Jika penisbahan itu salah, atau dengan kata lain pada hakekatnya tidak ada nisbah keduanya, gambar  dzihni (mafhum) dengan wujud zatnya di Alam luar dzihin (misdaq), tidak punya nisbah perwujudan secara zati, maka ia disebut “Mumtaniul-wujud-li-zatihi/ tercegah perwujudan bagi zatnya” atau tidak ada wujud zatnnya seperti Syarikul-Bari (Sekutunya Tuhan)- Ada mafhumnya di alam dzihin, tetapi tidak mempunyai wujud di alam misdaq dengan kemustahilan keberadaannya karena secara zati ia tidak mempunyai wujud.

Jika penisbahan itu benar, maka sama ada ia wajibul-wujud lizatihi/ kewajiban wujud oleh zatnya sendiri) ataupun ia Wajibul-wujud li-ghairihi (Kewajiban wujud oleh selain zat dirinya).

Wajibul-wujud li-dzatihi adalah Wujud Tuhan namun misdaqnya masih belum kita tentukan  Alam atau kah Zat lain dari Alam yang dikenal dengan sebutan “Allah” oleh Ummat Islam, Sang Yang oleh Umat Hindu, Ruhul-Qudus oleh umat Kristen…dll? .

Dan Wajibul-wujud-lighairihi adalah segala maujud/ma’lul/makhluk, yang bermula dari posisi mumkinul-wujud, lalu dikarenakan telah sempurna sebab perwujudannya/ilat, maka ia menjadi wujud yang wajib pula, tetapi Wajibul-wujud-lighairihi. Oleh karena itu istilah perwujudan bagi Tuhan adalah “Wajibul-wujud oleh-zatnya sendiri” hanya untuk membedakan-Nya dari perwujudan wajibul-wujud oleh zat yang lain yaitu perwujudan yang bermula dari wujud yang mumkin, yang ketika sebab tam telah ada, maka ia menjadi wajibul-wujud juga, tetapi bukan oleh zatnya, melainkan li-ghairihi/oleh yang lain

Penggunaan istilah li-dzatihi/oleh zatnya sendiri dalam wujud Al-Wajib yakni bagi Tuhan, kalau bukan untuk menjelaskan perbedaannya dengan wujud wajib-li-ghairihi, maka istilah li-dzatihi bagi wujud zat Tuhan, tidak berfaedah apa-pun dan kita cukup menyatakan perwujudan Tuhan dengan Istilah “Al-Wajibul-Wujud”.

-Noktah penting lain:

Pengertian “Maujud” menurut kosa katanya  adalah segala sesuatu yang diwujudkan oleh yang  lain (bukan Istilah filosofis yang menggunakan kata maujud sebagai Istilah yang berarti sama dengan kata wujud), Selain zat Tuhan adalah maujud, Tuhan bukan maujud-karena tidak ada yang memberikan perwujudan kepada zat Tuhan, Tuhan mempunyai perwujudannya sendiri, Tuhan adalah wujud yang tidak disebabkan oleh wujud yang lain,  Tuhan ada, berdiri sendiri dengan zatnya sendiri (Qiamuhu bunafsihi) sehingga keberadaa-Nya wajib dan pasti, dan keberadaan Tuhan tidak di dahului oleh ketiadaan/ demikian makna “Azali”  bagi zat Tuhan, dan tidak pula berakhir dengan ketiadaan/  Tuhan itu “Abadi”. Karena Tuhan bukan Maujud maka dengan sendirinya Tuhan juga bukan /tidak Ma’dum (yang terkena ketiadaan).

Demikian juga pengistilahan kepada “Al-Mumtani” dikaitkan dengan “li-dzatihi”, supaya dapat dibedakan dengan “Al-Mumtani li-ghairihi”, yaitu seperti “Terhalangnya perwujudan yang mumkin ketika tidak berilat/ tidak bersebab”.Contoh-contoh wujud yang “mumkin”  seperti ” Gunung emas berada didepan Anda sekarang ini juga, Onta berkepala harimau dll khayalan manusia, namun kenapa hingga sekarang  kita tidak pernah nampak wujud-wujud khayalan ini berada di alam misdaq?, jawabnya karena ia belum memiliki “sebab-sebab perwujudan yang sempurna”.

Oleh itu kita sebutkan bagi gunung emas dan segala khayalan lain yang belum ada wujudnya itu” sebagai perkara-perkara yang “Mumtaniul-Wujud li-ghairihi” yakni “perkara-perkara yang tercegah perwujudannya oleh yang lain”, yang lain maksudnya “Ketiadaan ilat sempurna untuk perwujudannya”.

(Ringkasan : Misdaq semua khayalan adalah sebagai “Mumtaniul-wujud li-ghairihi”. Dan perlu diketahui kalau sudah berwujud nyata tidak dinamakan khayalan lagi, lo ya!, termasuk Syarikul-bari sebagai sebuah mafhum adalah termasuk mumkinul-wujud dzihni tetapi dalam misdaq adalah mumtaniul wujud).

Kedua-duanya ini, yaitu: Al-Wajibul-wujud li-ghairihi,  dan Al-Mumtaniul-wujud-lighairihi adalah perkara-perkara yang termuat dalam mafhum “Al-Mumkin”, artinya sebelum memperoleh sebab tam/sempurna untuk berwujud, ia sebagai perkara yang “mumkinul-wujud” yang berada dalam alam mafhum/dzihin dan ketika ia berwujud, menjadilah ia “Al-Wajibul-wujud li-ghairihi”.

Ketika ia telah mempunyai wujud zat di alam nyata, ia juga berpotensi untuk tiada kembali, artinya ketika sebab-sebab perwujudannya meniada, maka ia akan menjadi Ma’dum, jadi wujud “Al-Mumkin”  didahului oleh ketiadaan dan berakhir dengan ketiadaan. Dan “Al-Mumkin”, tidak mempunyai makna baginya istilah “li-ghairihi”, oleh karenanya tidak ada faedah juga baginya apabila dikaitkan dengan istilah li-dzatihi, kecuali hanya untuk  menjelaskan bahwa ia “tidak berada” dan hanya demikian adanya yakni “mungkin”, tiada lain terjadi hanya ketiadaan saja) artinya perkara yang mumkin itu, jika dikaitkan dengan istilah “li-dzatihi” yakni kita menyebut: “Al-mumkinul-wujud li-dzatihi”, ini tidak berfaedah untuk menjelaskan adanya perbedaan ia dengan “Al-Mumkinul wujud li-ghairihi”. Karena mafhum “mumkinul wujud” berada pada posisi yang belum dikenai sebab perwujudan. Posisi mumkin bagi “Ada” dan “Tiada”, seumpama posisi rata yang dimiliki oleh kedua sayap dacin yang belum dikenai gerak sama-sekali, namun berpotensi untuk bergerak (dalam menunjukan kondisi muatan “ringan”  dan  “berat”. Posisi itu terjadi hanya karena ketiadaan sebab sempurna geraknya). Dan pada hakekatnya “Mumkinul-wujud” juga, tidak lebih dari hanya sebagai suatu mafhum yang belum memiliki hakekat wujud di alam luar dzihin, namun berpotensi untuk berwujud.

CIRI-CIRI “WAJIBUL-WUJUD-LI-DZATIHI”

1. Perwujudan-Nya Tidak terjadi oleh dirinya, sekaligus oleh yang lain karena makna “Lighairihi” adalah “Perwujudan  sesuatu bergantung kepada perwujudan yang lain, yakni ketika yang lain berwujud, maka ia berwujud, demikian juga ketika “yang lain”  itu ma’dum, maka ia juga ma’dum. Dengan kondisi yang demikian, tidak akan berlaku baginya “Wajibul-wujud li-dzatihi”. Karena bertentangan dengan  argumen ma’kul tsb.

2. Sifat wajib dan wujud, bagi zat “Wajibul-wujud li-Dzatihi”, adalah bukan sebagai sifat-sifat yang datang melengkapi bagi zatnya, karena kalau kedua sifat itu sebagai sifat–sifat yang datang maka menjadilah ia wujud yang wajib yang butuh kepada sifat, sedangkan “butuh” adalah sebagai dalil bagi perkara “Al-mumkin”, bukan pertanda bagi “Al-Wajibul-wujud-li-dzatihi).

3. Al-Wajibul-Wujud li-Dzatihi, ia juga tidak Murakkab/ tidak tersusun dari bahagian-bahagian, karena kalau tidak demikian , maka ia mesti butuh juga, kepada bagian-bagian susunanya, dan setiap bagian adalah bukan murakkab artinya murakkab adalah sebagai “sesuatu yang lain”, Karena murakkab butuh kepada yang lain yakni  kepada “bagian-bagaian”, maka perkara “murakkab” sebagai pertanda perkara “Al-mumkin”, sudah pasti ia bukan “Al-wajibul-wujud li-dzatihi”.

4.  Al-Wajibul-Wujud li-dzatihi, ia juga bukan sebagai bahagian dari yang lain, karena perkara “bahagian”, boleh jadi terpisah dari kesatuannya, yang pada tabiatnya ia butuh pada kesatuannya. Maka setiap pembutuh, pertanda ia sebagai “Al-Mumkin”.

5. Al-Wajibul-Wujud-Li-dzatihi, adalah satu mafhum yang hanya, mempunyai satu misdaq saja, Tidak lebih. (Perkara ini akan didapati penjelasannya pada bahasan “Tauhid”, Insya Allah, Akan datang).

CIRI-CIRI MUMKINUL-WUJUD:

1. Nisbah/relasi “Ada” dan “Tiada” baginya dalam posisi seimbang/sama rata, artinya satu dari yang lain tidak memiliki posisi lebih.( Kembali pada percontohan “kedua sayap dacin).

2.  Butuh kepada sebab, mengingat nisbah yang  dimiliki “mumkinul-wujud” terhadap “ada” dan “tiada-nya”  adalah berposisi seimbang, maka untuk mendapati posisi lebih/ tarjih/ aulawiah antara satu dengan yang lainnya membutuhkan wasilah atau sebab.

3. Kebutuhan perkara “Mumkinul-Wujud” kepada sebab, berlaku sejak awal perwujudan sehingga keberlanjutannya, artinya dalam kekekalan/kesenambungan perwujudannyapun tetap bergantung pada sebab.Dengan menyadari kebenaran pembahasan pengantar di atas, kita memasuki bahasan “Menetapkan misdaq” Al-Wajibul-Wujud li-Dzatihi”Jika sekiranya, “Alam inilah”, yang di maksud dengan “Al-Wajibul-Wujud li-Dzatihi”.

Maka terjawablah pencarian kita. Tetapi apakah yang dimaksud dengan Alam itu adalah: “Matahari, Bumi, Manusia, Gen, Sel-sel dan seterusnya dengan memiliki sinhkiat/esensi sifat Alam (bertempat, berwaktu dan berbentuk) sebagai ma’lul/makhluk dan mumkinul-wujud, yang butuh kepada pemberi keberadaan-nya dan pada gilirannya pemberi keberadaan-nya (illat) itulah juga sebagai ma’lul yang pertama tadi. Maka perputaran/ daur bagi Alam sebagai (ilat yang pada waktu yang sama juga ia sebagai ma’lul), tiada lain pada hakekatnya tidak memunculkan perwujudan apa-pun.

Demikian juga jika Alam sebagai ilat, juga butuh kepada ilat yang lain, yang juga butuh kepada ilat lagi, hingga tak berakhir membentuk jaringan tasalsul, yang memustahilkan munculnya perwujudan apa-jua, Tentunya hal ini batil dan tertolak kebenarannya oleh akal.Karena Nyatanya Alam ini ada!. Tentunya yang benar bukan dari peristiwa daur dan tasalsul. Dan kita tidak ada cara lain yang ma’kul, kecuali menyatakan atau menetapkan kemestian adanya Penyebab lain sebagai Pencipta Alam imkan ini, Dan ia di luar sinkhiat alam imkan, maka oleh itu secara tertib Dialah yang dimaksud sebagai “Wajibul-Wujud” yang kita semua menyebutnya dengan Nama : “Allah Ta’ala” dan melantunkan doa kepada-Nya dengan panggilan “Ya Ilahi!, Ya Rabbi Ya Tuhan kami!…(Inilah maksud pencarian kita dalam pembahasan ini)..”.

“Asy-hadu-Ala-Ilaha-Illa-LLAH”- Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah”.

Kalimat Ini dikenalkan sebagai satu penggalan kalimah Syahadah atau kesaksian, sebagai kata kunci memasuki pintu-gerbang-jalan Allah, yang terkenal dengan istilah “Sirotal Mustaqim” itu. Bagi yang baru tau ada kalimat ini, Jika   dengan sepenuh hati melantunkannya maka kesadarannya sudah semakin dekat membawanya kepada pengenalan jalan lurus Agama Allah Taala, langkah berikutnya ia harus mencari info selanjutnya tentang keberadaan Tuhan melalui konsekwensi-konsekwensi keberadaanNya seperti kemestian Tuhan memberikan hidayah kepada makhluknya untuk mencapai jalan lurus menuju kedekatan kepadaNya, Tentunya pengenalan ini melalui pengenalan kepada Utusan-utusan Tuhan (Para Rasul Allah swt).Atau bagi Anda yang sudah pernah kenal bahkan telah berkali-kali melantunkannya, tentunya tidak sia-sia mengulanginya, namun kali ini dengan helaan napas panjang pertanda kesadaran menguasai diri Anda. Perlu diketahui kalimat syahada secara sempurna memiliki penggalan lain, dari itu ada beberapa marhalah lagi yang harus Anda tempuh dalam jelajah hakekat ini untuk Anda dapat masuk kebenteng pertahanan Tuhan, teruskan lagi jelajahan Anda!, jangan diam berhenti disini!, perjalanan masih panjang, kumpulkan bekal semapan-mapannya, kalau tidak hiruk-pikuk dunia melalaikan Anda dari tujuan gerak Anda!, Anda belum mendapat jaminan selamat menempuh kehidupan dunia dengan berbekal ini saja (bekal kesadaran terhadap adanya Tuhan). “Alhamdulillahi hadana li hadza…”.

Ikuti kajian selanjutnya dengan topik : “BERDIALOG DENGAN TUHAN”.   

BERDIALOG DENGAN TUHAN

Manusia berkata : “Aku tidak sadari, organ, otot dan anggota sekujur badanku telah memuai bersama putaran bola Bumi mengelilingi Matahari, dari sejak Bunda mengantarku ke atas hamparan permukaannya, sudah sekian hitungan lintasan, bola ajaib ini berbarengan dengan keberadaanku di selaput kulitnya, menggelinding pada orbit lingkar di sekeliling Matahari, siang dan malam bergulir akibat putarannya, aku hanya tertegun menyaksikan badanku terboyong tampa rasa telah melewati berbagai waktu, kejadian dan fenomena. Pertanyaan bertubi-tubi muncul dalam benakku; Kenapa aku ada di sini?, Siapa pemperakarsai seluruh kejadian dan keberadaan ini?, untuk apa aku diadakan di sini?, aku menyaksikan fenomena beragam di sini!; pembiakan penghuni bumi dari anak manusia, binatang dan tetumbuhan, proses pelapukan dan pengusangan benda-benda, mengantarkan pada kemusnahannya, kerentaan dan kematian organ-organ tubuh manusia, hewan dan tumbuhan yang telah menjalani kebertahanan nisbi di muka Bumi ini, merindingkan bulu-romaku, ku perhatikan keberadaan mereka berada dalam keheningan dalam gerak yang pasti, tidak berbeda kejadiannya, bagikupun berlaku kejadian yang sama, terkadang ingin rasanya kulampiaskan keheranan dan ketakutan-ku dengan berteriak sekuat-kuatnya; “Wahai yang Ada dibalik layar megah jagat raya!,Tampakanlah dirimu!, aku sedang dalam delema mencari pemerakarsai segala fenomena yang kusaksikan, aku hanya dapat memastikan ada “Engaku”!, walau sementara ini aku hanya melihat  ada diriku dan Alam, dari sini fikiranku menjalani perjalanan memastikan keberadaan-Mu, akalku telah menyimpulkan kata pasti bahwa segala yang ada ini ada yang mengadakannya, bahkan senantiasa ia butuh dan bergantung mutlak kepada keberadaanNya, akalku telah berhenti pada kesimpulannya dan dari itu ia senantiasa mendorongku untuk menelusuri pencarian menemukan hakekat wujud-Mu, akalku memintaku untuk mencari data-data tentang wujud dan sifat-sifat-Mu, Engakau dapatku perjelas dengan istilah “Tuhan” ya “Tuhan”, Dimanakah Engkau berada dan dari mana aku akan mendapati keterangan tentang diri-Mu?…Ada  suara lirih menyahut dirongga telingaku, membisikan kata-kata “Ada berita di sudut sana tentang kedatangan utusan yg memperkenalkan diri sebagai “utusan Tuhan” datang dengan seperangkat surat-surat yang menyiratkan kalam Tuhan, kumpulan kalam-Nya telah dimuatkan dalam sebuah kitab yang diperkenalkannya  dengan nama “Al-Quran”, semua manusia diserukan olehnya untuk memperhatikan kata-kata “Al-Quran”, sejenak aku terpesona kegirangan, karena kitab itu sudah pernah aku dengar alunan kata-katanya, sejak usia kanak-kanaku, sering kali ayah dan bundaku mendengungkan alunannya bahkan telah mengajariku cara membacanya, tapi selama ini aku tak mengerti apa makna kandungannya, aku hanya tahu kami dan masyarakat kampungku adalah orang-orang yang beragama Islam yang berkitab suci Al-Quran, tapi aku tak tau apa nilai manusia sebagai seorang Islam, yang pasti akalku menuntut aku untuk segera membaca dan merenungi kandungan kitab Al-Quran kembali, Dari sini aku memulai dialogku dengan Tuhan :

Manusia berkata : “Aku menyaksikan banyak dari kaumku menyerukan Tuhan yang berbeda-beda, Ada yg percaya Tuhan itu ada dua, tiga dan lebih dari itu, membingungkan aku!, pastikan bagiku tentang dirimu yang sebenarnya!”

Tuhan menjawab : “Katakanlah Tuhan hanya satu, tiada Tuhan selain “Allah”, tidak ada sekutu dan tidak ada yang setara dengan-Nya, Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, Ia Pencipta segala sesuatu dan Ia tidak sama dengan sesuatu, Ia tidak dapat dijangkaui oleh pandangan, tetapi Ia menjangkaui segala pandangan, sungguh Ia yg telah menghidupkan dan mematikan, Ia terhadap segala sesuatu Maha Mampu dan Maha berkuasa, Ia yg telah memulai penciptaan Langit dan Bumi, Ia yg telah membelah biji-bijian sehingga bertunas dan tumbuh hingga berbuah, Ia yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, Ia yang telah menurunkan Air dari langit maka dengan air itu Ia keluarkan Tetumbuhan yang bermacam-macam, yang mengeluarkan buah-buahan yang beraneka… (Bersambung). (IM/ UI).

2 Komentar »

  1. azadi said

    A’kom,
    maaf ya,saya ingin tanya muntani’ul wjud kan gambaran yang ada di aqal manusia dan sedangkan diluar aqal zhat kita dapat dan memang tidak bisa kita membuktikan nya,sedangkan mumkinul wujud,gambaran yang ada di aqal kita ,dan wujudnya diluar belum pasti,bisa ada biasa tiada.Jadi bagai mana si mumtani’ul wujud bisa diketogerikan sebagai mumkinulwujud, sepertinya berlaku berlawanan?

  2. jawaban dari umfat said

    Wa A-kom

    Menjawab soalan Anda, bagaimana si mumtaniul wujud bisa dikategorikan sebagai mumkinul wujud?. Jawabannya : ” Maaf ! Anda telah keliru dalam mengaspresiasikan (menggabarkan) kedua sifat ma’kul ini, Anda hanya mengaspresiasikan keduanya secara zati, sehingga Anda hanya ternampak keduanya mempunyai nisbah tabayun/ keduanya memiliki mafhum dan misdaq yang saling berbeda bahkan tidak akan terjadi penyatuan keduanya baik dalam mafhum dan misdaqnya, Saya sarankan coba Anda Mengaspresiasikan keduanya bukan secara zati tetapi sebagai akibat dari yang lain, artinya ADA dan TIADA-nya sesuatu itu sebagai akibat dari yang lain zat dirinya, dengan kata lain kondisi ini dimiliki oleh perkara yang mumkinul wujud, Nah bukankan dalam pengertian mumkinul wujud termuat juga mafhum ” ketiadaan wujud” cuman ketiadaan wujudnya disebabkan oleh yang lain, jadi Anda harus mencamkan betul-betul bahwa kita punya dua mafhum mumtaniul-wujud satu mumtaniul wujud zati dan satu lagi mumtaniul wujud bil-ghair, yang kedua inilah yang masuk kategori mumkinul-wujud. Yakni perkara mumkin yang sudah memiliki sebab-sebab perwujudan maka ia akan memiliki misdaq diluar mafhumnya, artinya ia telah ada, dengan istilah wajibul wujud bil ghair, demikian juga ketika sebab-sebab ketiadaannya tela sempurna maka ia akan mengalami ketiadaan, atau kita sebut mumtaniul wujud bil ghair. Jadi Anda jangan hanya menyebut mumtaniul wujud saja, karena ini menyebabkan timbulnya kemuskilan dua mafhum, yang kontra diksi yang memang tak mempunyai tempat untuk menyatu dalam kefahamannya yaitu mafhum mumkinul wujud dengan mafhum mumtaniul wujud , karena mafhum mumtaniul wujud saja itu memuat pengertia secara zati, jadi ia akan kontaradiksi dengan mafhum mumkinul-wujud, tetapi jika anda mengaspresiasikan mumtaniul wujud bil ghair artinya ketiadaannya disebabkan oleh yang lain, maka ketahulah pada hakekatnya dia itu milik perkara yang mumkin. Bukankah dlam mafhum mumkinul wujud, memuat juga mafhum ketiadaan, atau kita dapat sebut ia dengan mumtaniul wujud bil hgair. Was-Salam.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: