NIKAH MUT’AH SEBUAH ALTERNATIF MENGHINDARI BERPACARAN YANG IDENTIK MENDEKATI ZINA ITU

DUA BENTUK PERNIKAHANDALAM SYARIAT ISLAM(MENURUT KAJIAN SYIAH)  

Telah ditegakan syariat perkawinan dalam Islam keatas dua bentuk : 

1.    Nikah Da’im (Tetap, tidak punya batas waktu), ianya sebagai pernikahan yang diutamakan oleh ajaran Islam dan ia merupakan garis panduan pertama yang di syariatkan Islam dalam bab perkawinan. 

2.    Nikah Muwaqat atau dikenal dengan nikah mut’ah (Temporary, mempunyai batas waktu), ianya sebagai pernikahan yang dilambangkan sebagai bendera pengamanan yang melindungi masyarakat dari terjerumus kelembah kehinaan perzinahan, pernikahan ini dilakukan ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menjalankan pernikahan Da’im bagi seseorang dikarenakan berbagai hal yang sesuai dengan tuntunan syariat, atau seseorang dianggap memungkinkan untuk dapat melakukan kawin Da’im tetapi karena alasan yang ma’kul dan sesuai dengan syariat yang menuntutnya untuk menjalankan nikah secara muwaqat. 

Sesungguhnya penikahan muwaqat mempunyai beberapa persamaan dengan perkawinan Da’im dari segi menjadikan halalnya  penyaluran syahwat bagi mereka yang melakukan perkawinannya dengan salah-satu dari kedua bentuk perkawinan ini sebagai jalan penyaluran syahwat yang dihalalkan oleh Allah swt.

Demikian juga dalam penjagaan nasab-keturunan juga sama dengan nikah Da’im, artinya dengan nikah mut’ah silsilah keturunan tetap bisa dijaga dari percampurannya. Demikian juga nikah mut’ah tetap memberi kesan keterjagaan iffat/moral dan kehormatan dalam masyarakat, demikian juga dalam segi tata-cara pelaksanaannya yang memerlukan kepada aqad nikah, mahar, iddah dan ia juga akan berakhir dengan adanya hukum waris-mewarisi dan pemberian nafqah kepada sang anak. walaupun perbedaannya terletak pada penyebutan batas waktu berlakunya pernikahan dan pernikahan muwaqat juga tidak akan berakhir dengan adanya hukum waris-mewarisi bagi suami/Istri dan tidak ada kewajiban bagi suami untuk memberi nafqah kepada istri. 

Bentuk pernikahan Mut’ah adalah bentuk pernikahan yang ditetapkan oleh Allah swt dengan nash Quran-Nya yang agung dan sunnah Nabi-Nya yang mulia  saww, dan tidak ada seorang muslim-pun yang menentang keberadaan pentasyriannya di jaman Rasulullah saww. Dan adapun yang menyebabkan munculnya ikhtilaf sehingga sebagian dari kaum muslimin menganggapnya tertolak untuk dilakukan oleh mereka adalah karena khalifah kedua Umar bin Khatab pernah melarangnya dan mengancam mereka yang melakukannya dengan menjatuhkan  hukuman, dari itu hukum haram nikah mut’ah diperuntukan bagi mereka yang mengikuti mazhab khulafa’ (Umar bin Khatab) yang menganggap hujjah segala perbuatan dan ucapan para sahabat Nabi saww, oleh itu mereka menganggap perkataan Khalifah Umar itu berkedudukan sebagai menasakhkan / menghapus / menggantikan hukum kebolehan nikah Mut’ah yang pada hakekatnya mempunyai hukum perbolehan secara nash Qurani yang kuat, yang mana Quran dan Nabi sendiri tidak pernah mengeluarkan hukum nasikh/penghapusannya.  

NIKAH MUT’AH DALAM KITABULLAHIL-MAJIID dan SUNNAH RASULILLAH SAWW  

Telah dapat dipahami bersama oleh seluruh kaum muslimin bahawa Allah swt telah mensyariatkan nikah ini dalam agama Islam, dan bagi para ulama dari berbagai mazhab Islam tidak ada ikhtilaf dalam perkara ini, bahkan mereka mengakui nikah mut’ah sudah diasaskan dalam syariat Islam sebagai perkara yang dharuri/penting sekali.

Demikian perkara nikah Mut’ah ini termaktub dalam kitab suci Allah swt dan dalam hadits Rasulillah saww yang mulia, baik berdasarkan periwayatan dari kalangan yang mengakui menolak nikah mut’ah, kita akan mengkajinya kembali. Adapun dalil nash Quran mengenai nikah Mut’ah demikian Allah swt berfirman :

 وَأُحِلَّ لَکُم مَّا وَرَآءَ ذَالِکُم أَن تَبتَغُوا بِأَموَالِکُم مُحصِنِینَ غَیرَ مُسَافِحِینَ فَمَا استَمتَعتُم بِهِ مِنهُنَّ فَآتُوهُنَّ اُجُورَهُنَّ فَرِیضُةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَیکُم فِیمَا تَرَاضَیتُم بِهِ مِن بَعدِ الفَرِیضَةِ إِنَّ اللهَ کَانَ عَلِیماً حَکِیماً.

“Dan telah dihalalkan bagi kalian laki-laki (selain dari wanita-wanita yang diharamkan bagi kalian yang sudah disebutkan dalam ayat sebelumnya), untuk meminta/mendapati wanita lain dengan menggunakan harta-kalian sedang kalian-pun harus menjaga kehormatan dan tidak melakukan perzinaan, maka wanita yang telah kalian mut’ahkan itu hendaknya kalian berikan maharnya sebagai kewajiban yang mesti ditunaikan, dan tidak ada dosa bagi kalian setelah bersepakat bersama terhadap mahar tertentu untuk menentukan/membatasi masa berlakunya aqad atau untuk menambah atau mengurangi mahar itu (dalam apa yang kalian saling suka-sama suka/saling ridho), tentunya Allah Maha mengetahui dan Maha Bijaksana”.

Quran/An-Nisa’/24. 

Adapun dalam penjelasan kitab-kitab tafsir dan musnad hadist menyebutkan bacaan kalimat:

اِلَی أَجَلٍ مُسُمَّی  فَمَا استَمتَعتُم بِهِ مِنهُنَّ

yang berarti : maka wanita yang telah kalian mut’ahkan hingga batas waktu yang ditentukan,

Hal ini menurut mereka menunjukan ayat itu sedang membicarakan prihal nikah Muta’ah bukan nikah Da’im, demikian Ubai bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Ibnu Mas’ud (para sahabat Nabi saww) membacanya, dan hal ini telah dinukilkan oleh Thabari dalam kitab Tafsir Kabirnya dalam mentafsirkan ayat tersebut, demikian juga Zamakhsyari dalam kitab Tafsir Kasyafnya menyampaikan perkara yang sama, Imam Ahmad bin Hambal pun menekankan yang demikian dalam kitab Musnadnya, Jalaludin Suyuthi dalam kitab Durul-Mansturnya dan banyak lagi kitab-kitab tafsir dan hadits yang menjelaskannya, yang pada kesempatan ini kita tidak dapat menukilkannya semua.

Dalam kitab Tafsir Kasyaf Zamakhsyari juz 1/hlm 498-cetakan Beirut- menuliskan perkataan Ibnu Abbas : “Sesungguhnya ayat Mut’ah tergolong ayat Muhkamah/mempunyai hukum yang jelas dan kuat dan bukan tergolong ayat yang dimansukhkan/yang dihapus hukumnya”.

Dan dalam kitab Bidayatul-Mujtahid juz2/hlm58 menyebutkan perkataan Ibnu Abbas : “Kami telah melakukan mut’ah di jaman kehidupan Rasulillah saww dan di jaman Abu Bakar dan setengah dari masa ke-khalifahan Umar Bin Khatab lalu Umar melarang manusia untuk melakukannya”. 

Dalam kitab Shahih Muslim juz 4/hlm 131-menaqalkan dari Jabir yang berkata: “Kami bermut’ah… di jaman Rasulillah saww dan di jaman Abi Bakar… kemudian Umar melarangnya …”. 

Demikian juga dari Hakim dan Ibnu Juraih dan selain mereka berdua telah berkata : “Ali alahi-salam telah bersabda : “Kalaulah Umar tidak melarang mut’ah maka tidak akan berlaku zina kecuali bagi orang yang hina-celaka atau pendek akalnya”, riwayat ini telah disebutkan dalam tafsir Tabari juz 5/9, Tafsir Razi 10/50, dan dalam tafsir Durul Mansur 2/140. 

Dan banyak hadits yang diriwayatkan secara mutawatir menekankan bahawa ayat yang mulia menghalalkan nikah Mut’ah dan menunjukan ke-abadian syariat hukumnya.  

Kita pada akhirnya dapat mengambil kesimpulan kebolehan hukum nikah Mut’ah masih berlaku lagi, tentunya banyak perkara yang mesti dikaji kembali untuk mendapatkan kesimpulan yang demikian bagi selain syiah.(Perlulah Anda ketahui masih banyak perkara yang tidak sempat kami jelaskan pada kesempatan ini, olehnya kalau ada yang tidak jelas silakan merujuk kembali). Wassalam semoga bermanfaat untuk menambah makrifat).

2 Komentar »

  1. jagulsyet said

    setahu saya bintang film porno itu juga awalnya ada akad (perjanjian) trus di lanjutkan dengan berapa bayarannya.(mahar)..lalu di putuskan waktu ber KONOK berapa lama /bokingnya/kontraknya…http://www.hakekat.com/

  2. umfat said

    Salam

    Sayang sekali kelihatannya Anda tidak dapat menganalisa Masalah kepornoan yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, sebagai sebuah fakta pelanggaran terhadap syariat Islam dengan porsi kefahaman yang cukup, dari itu ketidak mampuan menganalisa ini memberi imbas pengetahuan yang salah bagi anda yaitu anda menyangka perjanjian untuk berbuat porno sebagai Aqad yang berdasarkan syariat Islam, Apakah Anda tidak tau Islam menyatakan “Jangan mendekati zina!”, wong mendekati saja perbuatan cabul itu tidak diizinkan, apa lagi mengadakan perjanjanjian segala untuk berlaku cabul atau porno, status masalah yang dijanjikan sudah lain yang satu untuk mencari ridho Allah yaitu aqad/perjanjian yang berlaku di awal nikah mutah sebagai syariat yang sah dalam Islam, sedang perjanjian untuk kepornoaan adalah mencari keridhoan syaithon. Coba Anda menganalisa kembali dua perjanjian dan dua pembelanjaan harta ini dengan cermat lagi, semoga Anda mendapat cahaya furqon/pembeda bagi hati dan penalaran Anda, tentunya kalau anda tidak membalut hati dan pikiran anda dengan kedingkian dan penipuan!.Wassalam.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: